Mengenang Esensi Pengorbanan: Menyelami Makna dan Larangan di Hari Tasyrik

  • 27 Mei 2026 20:35 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Sukacita perayaan Hari Raya Idul Adha tidak berhenti begitu gema takbir malam lebaran usai. Bagi umat Muslim di seluruh dunia, momentum sakral ini berlanjut ke sebuah fase penting yang disebut sebagai Hari Tasyrik.

Jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, atau tiga hari berturut-turut setelah hari raya kurban. Hari Tasyrik menyimpan makna spiritual yang mendalam, sekaligus membawa seperangkat aturan ibadah yang unik.

Merunut Sejarah dan Arti Kata "Tasyrik"

Secara bahasa, kata Tasyrik berasal dari kata Tasyrif yang berarti "menjemur sesuatu di bawah terik matahari".

Dalam catatan sejarah Islam, penamaan ini merujuk pada tradisi para jemaah haji dan masyarakat rukun Islam zaman lampau. Karena belum ada teknologi pendingin seperti kulkas, daging hasil penyembelihan hewan kurban dalam jumlah besar akan dipotong tipis-tipis, diberi garam, lalu dijemur di bawah terik matahari agar menjadi dendeng yang awet.

Namun, di balik aktivitas fisik tersebut, Hari Tasyrik merupakan fase krusial bagi jemaah yang sedang menunaikan ibadah haji di Mina untuk melakukan ritual melempar jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah).

Hari Makan, Minum, dan Berzikir

Bagi umat Muslim yang tidak sedang berhaji, Hari Tasyrik diistilahkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Ayyamul Akli was Syurbi, hari-hari untuk makan dan minum.

"Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah." (HR. Muslim)

Berdasarkan ketetapan hukum Islam (fikih), umat Muslim diharamkan secara mutlak untuk berpuasa pada ketiga hari ini, termasuk puasa sunah Senin-Kamis atau puasa ganti (qadha). Keharaman ini justru menjadi bentuk "jamuan" dari Allah SWT agar umat-Nya menikmati berkah daging kurban bersama keluarga, kerabat, dan fakir miskin.

Namun, esensi utama dari makan dan minum ini bukan untuk bersenang-senang tanpa arah, melainkan sebagai sumber energi untuk meningkatkan ibadah dan zikir kepada Allah SWT.

Amalan Utama di Hari Tasyrik

Para ulama menekankan beberapa amalan yang sangat dianjurkan (sunah) untuk menghidupkan malam dan siang Hari Tasyrik:

  1. Bertakbir Setiap Selesai Shalat Fardhu Berbeda dengan takbiran Idul Fitri yang selesai saat shalat id dimulai, takbir Idul Adha (disebut Takbir Muqayyad) justru disunahkan untuk terus dikumandangkan setiap selesai shalat lima waktu hingga waktu ashar pada tanggal 13 Dzulhijjah.
  2. Mengoptimalkan Zikir dan Doa Hari Tasyrik adalah waktu di mana doa-doa dikabulkan. Salah satu doa yang paling sering dipanjatkan Rasulullah SAW pada hari-hari ini adalah doa "Sapu Jagat": Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina 'adzabannar.
  3. Menuntaskan Pembagian Daging Kurban Bagi panitia atau mudhohi (orang yang berkurban), Hari Tasyrik adalah batas akhir waktu penyembelihan dan pendistribusian daging kurban. Fase ini menjadi momentum krusial untuk mempererat solidaritas sosial dengan memastikan masyarakat kurang mampu mendapatkan pasokan gizi yang layak.
Momentum Refleksi Diri

Hari Tasyrik mengajarkan umat Islam tentang keseimbangan hidup. Islam tidak hanya berbicara tentang ritual ibadah yang kaku, tetapi juga merayakan aspek kemanusiaan melalui makan bersama dan berbagi kebahagiaan.

Melalui Hari Tasyrik, umat Muslim diajak untuk merefleksikan kembali bahwa setiap nikmat fisik yang dikonsumsi, seperti lezatnya daging kurban, harus bermuara pada rasa syukur yang diwujudkan dalam bentuk ketaatan rohani.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....