6 Sifat Wanita yang Sebaiknya Dihindari Menurut Imam Al-Ghazali

  • 18 Mei 2026 22:01 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Memilih pasangan hidup bukanlah perkara sepele. Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah terpanjang yang dinilai seumur hidup. Oleh karena itu, kesiapan mental, spiritual, dan karakter pasangan menjadi pondasi utama yang harus diperhatikan.

Terkait hal ini, ulama besar terkemuka, Imam Al-Ghazali, dalam kitab masterpiecenya Ihya Ulumuddin, telah memberikan panduan spiritual yang sangat berharga bagi para pria yang sedang mencari pendamping hidup. Beliau mengingatkan para lelaki agar waspada terhadap enam sifat wanita tertentu agar rumah tangga tidak berujung pada penyesalan.

Berikut adalah enam sifat wanita yang sebaiknya dihindari untuk dinikahi menurut pandangan Imam Al-Ghazali:

1. Al-Annanah (Si Tukang Mengeluh)

Sifat pertama yang wajib diwaspadai adalah Al-Annanah. Ini adalah tipe wanita yang hobi mengeluh dan merasa selalu kurang atas apa yang diberikan oleh suaminya.

  • Ciri utama: Sering merasa tidak puas, suka mengadu, dan menganggap semua beban hidupnya adalah kesalahan orang lain.
  • Dampaknya: Menikahi wanita dengan sifat ini berisiko menguras energi positif suami dan menghambat datangnya rasa syukur dalam rumah tangga.

2. Al-Mananah (Si Pengungkit Kebaikan)

Al-Mananah adalah tipe wanita yang suka mengungkit-ungkit kebaikan atau bantuan yang pernah ia berikan kepada suaminya.

  • Ciri utama: Ketika terjadi perselisihan kecil, ia akan membawa kembali jasa-jasa masa lalunya, atau bahkan meremehkan kemampuan finansial suami jika dirinya merasa lebih dominan.
  • Dampaknya: Sifat ini dapat meruntuhkan harga diri seorang suami sebagai pemimpin rumah tangga.

3. Al-Hananah (Si Penyedih Masa Lalu)

Wanita dengan sifat Al-Hananah adalah mereka yang belum bisa move on atau selalu merindukan masa lalunya—baik itu mantan suami, mantan kekasih, atau kehidupan lamanya sebelum menikah.

  • Ciri utama: Sering membanding-bandingkan suaminya yang sekarang dengan pria di masa lalunya, atau terlalu berlebihan merindukan keluarga asalnya hingga mengabaikan kewajiban terhadap suami.
  • Dampaknya: Rumah tangga akan sulit harmonis karena hati sang istri tidak sepenuhnya hadir untuk suaminya.

4. Al-Haddaqah (Si Konsumtif atau Matre)

Al-Haddaqah secara harfiah berarti wanita yang memiliki "mata tajam" terhadap barang belanjaan. Ini merujuk pada sifat boros dan materialistis.

  • Ciri utama: Selalu menginginkan setiap barang bagus yang dilihatnya, suka memaksa suami menuruti gaya hidup di luar batas kemampuan, dan tidak pandai mengelola keuangan.
  • Dampaknya: Finansial keluarga bisa hancur, dan suami akan merasa stres karena terus-menerus dikejar tuntutan materi.

5. Al-Baraqah (Si Pesolek Berlebihan)

Imam Al-Ghazali memaknai Al-Baraqah dalam dua sudut pandang. Pertama, wanita yang menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk berdandan demi kepuasan diri sendiri atau dipamerkan ke luar rumah, hingga menelantarkan tugas rumah tangga. Kedua, wanita yang suka marah dan menarik diri saat makan (makan sendirian karena kesal).

  • Ciri utama: Fokus hidupnya hanya pada penampilan fisik luar dan memiliki gengsi yang sangat tinggi.
  • Dampaknya: Hubungan emosional menjadi hambar karena istri lebih mencintai penampilannya sendiri dibanding kebersamaan dengan keluarga.

6. Asy-Syaddaqah (Si Cerewet yang Berkata Buruk)

Sifat terakhir adalah Asy-Syaddaqah, yaitu wanita yang terlalu banyak bicara (cerewet), namun perkataannya cenderung tidak bermanfaat, kasar, atau suka menyakiti hati.

  • Ciri utama: Suka bergosip, mencela, dan sering mengeluarkan kata-kata tajam saat berkomunikasi dengan suami.
  • Dampaknya: Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung yang tenang (sakinah) justru berubah menjadi sumber konflik harian yang melelahkan fisik dan mental.

Pesan dari Imam Al-Ghazali ini tentu tidak bermaksud untuk menyudutkan wanita, melainkan sebagai alarm refleksi. Sifat-sifat di atas sejatinya bisa menimpa siapa saja, baik pria maupun wanita. Mengetahui rambu-rambu ini diharapkan dapat membantu calon pasangan untuk saling memperbaiki diri (muhasabah) sebelum melangkah ke jenjang pernikahan demi membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....