Mengatur Jarak dari Pertemanan Toxic, Bentuk Sayang Diri
- 08 Feb 2026 09:29 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Tidak semua pertemanan membawa rasa aman dan bahagia. Ada kalanya hubungan yang dulu terasa hangat perlahan berubah menjadi sumber lelah, cemas, bahkan membuat kita meragukan diri sendiri. Inilah yang sering disebut sebagai pertemanan toxic — hubungan yang lebih banyak menguras energi daripada memberi dukungan.
Banyak orang bertahan dalam pertemanan seperti ini karena rasa tidak enak, takut dianggap egois, atau khawatir kehilangan lingkaran sosial. Padahal, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Mengatur jarak bukan berarti membenci, tetapi memberi ruang agar diri sendiri tetap utuh.
Pertemanan toxic biasanya ditandai dengan komunikasi yang tidak sehat. Bisa berupa komentar merendahkan, kebiasaan membandingkan, manipulasi emosional, atau sikap yang membuat kita selalu merasa bersalah. Hubungan semacam ini sering kali terasa berat, meski tidak selalu disertai konflik besar.
Mengatur jarak bisa dimulai dengan langkah kecil. Tidak harus memutus hubungan secara drastis. Mengurangi intensitas komunikasi, membatasi topik pembicaraan, atau tidak selalu hadir setiap kali diminta adalah bentuk batasan yang sehat. Kita berhak mengatakan tidak tanpa harus merasa bersalah.
Penting juga untuk mendengarkan sinyal dari diri sendiri. Jika setiap kali bertemu seseorang kita merasa cemas, lelah, atau kehilangan kepercayaan diri, itu bisa menjadi tanda bahwa hubungan tersebut perlu dievaluasi. Pertemanan yang sehat seharusnya memberi rasa aman, bukan tekanan.
Mengatur jarak sering disalahartikan sebagai sikap dingin atau tidak peduli. Padahal, justru dengan menjaga batasan, kita belajar menghargai diri sendiri dan orang lain. Hubungan yang bertahan setelah batasan dibuat biasanya menjadi lebih jujur dan dewasa.
Di sisi lain, memberi jarak juga memberi kesempatan bagi kita untuk membangun lingkaran pertemanan yang lebih sehat. Bertemu orang-orang yang saling mendukung, mendengarkan tanpa menghakimi, dan tumbuh bersama akan membuat kualitas hidup terasa lebih baik.
Pada akhirnya, memilih untuk menjaga jarak dari pertemanan toxic adalah keputusan yang tidak mudah, tetapi penting. Itu bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk memilih ketenangan. Karena hubungan yang baik seharusnya membuat kita merasa cukup, bukan merasa kurang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....