Kisah Tukang Becak Tua Menunggu Rezeki di Pelabuhan

  • 30 Mei 2026 13:15 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis – Deru kendaraan yang keluar masuk Pelabuhan Roro Air Putih Bengkalis menjadi saksi perjalanan panjang hidup Abdul Rahim. Di usianya yang tak lagi muda, ia masih setia menunggu penumpang dengan becak motornya di kawasan pelabuhan.

Bagi Abdul Rahim, profesi sebagai tukang becak bukan pekerjaan yang baru dijalani beberapa tahun terakhir. Ia telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya mengantar penumpang di Bengkalis.

Pria tersebut mengaku mulai bekerja sebagai pengemudi becak dayung sejak tahun 1980. Selama lebih dari tiga dekade, ia mengayuh becak untuk memenuhi kebutuhan keluarga sebelum akhirnya beralih menggunakan becak motor pada tahun 2011.

“Saya kerja becak dayung sepeda mulai tahun 1980 sampai 2011. Setelah itu baru pakai becak motor sampai sekarang,” ujarnya saat ditemui RRI di Pelabuhan Air Putih Bengkalis, Sabtu 30 Mei 2026.

Meski telah puluhan tahun menjalani profesi tersebut, tantangan yang dihadapi kini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Kehadiran transportasi berbasis aplikasi membuat jumlah penumpang becak semakin berkurang.

Menurut Abdul Rahim, kondisi saat ini tidak selalu menjanjikan penghasilan setiap hari. Bahkan, ada kalanya ia harus pulang tanpa membawa uang karena tidak mendapatkan satu pun penumpang.

“Kadang dari pagi sampai sore tidak dapat sama sekali,” katanya.

Namun di tengah kondisi tersebut, Abdul Rahim tetap bertahan. Ia masih berharap ada penumpang yang memilih menggunakan jasanya, terutama mereka yang baru turun dari kapal dan membutuhkan transportasi menuju tujuan akhir.

Soal tarif, Abdul Rahim mengaku tidak selalu mematok harga tertentu. Penumpang biasanya memberikan ongkos sesuai jarak perjalanan dan kemampuan masing-masing.

Dalam kesehariannya, ia lebih sering menerima bayaran sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu untuk sekali perjalanan. Meski demikian, sesekali ia juga bertemu dengan penumpang yang memberikan rezeki lebih.

“Pernah ada yang dermawan tiba-tiba kasih Rp200 ribu,” ungkapnya sambil tersenyum.

Bagi Abdul Rahim, menjadi tukang becak bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup yang telah dijalani selama puluhan tahun. Di tengah perubahan zaman dan semakin ketatnya persaingan transportasi, ia tetap setia menunggu di sudut pelabuhan, berharap roda becaknya terus berputar membawa rezeki setiap hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....