Sabang hingga Jayapura, BMKG Lakukan Pemantauan Hilal Serentak jelang Idulfitri

  • 20 Mar 2026 16:00 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaksanakan pemantauan hilal secara serentak di 37 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia pada Kamis 19 Maret 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penyediaan data astronomis yang akurat untuk penentuan awal bulan Hijriah, sekaligus bagian dari layanan informasi posisi Bulan dan Matahari kepada masyarakat.

Pelaksana Tugas Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan oleh seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG di berbagai daerah dengan koordinasi terpusat dari BMKG Pusat di Jakarta. Selain melibatkan tim internal, pengamatan juga didukung oleh Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika serta bekerja sama dengan kantor wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia, perguruan tinggi Islam, dan organisasi kemasyarakatan Islam di daerah.

Secara teknis, seluruh tim pengamat telah memulai persiapan sejak pukul 16.00 waktu setempat. Sebelum observasi, BMKG Pusat melakukan pengecekan kesiapan di setiap lokasi melalui koordinasi daring guna memastikan kesiapan alat dan kondisi cuaca. “Kita berkoordinasi dengan bidang meteorologi untuk mendapatkan informasi prakiraan cuaca dan kondisi perawanan,” ujar Fachri Radjab.

Pengamatan hilal dilakukan saat matahari terbenam dan berakhir setelah bulan terbenam. Rentang waktu observasi berbeda di setiap wilayah karena perbedaan geografis. Di wilayah DKI Jakarta, misalnya, pengamatan dimulai sekitar pukul 18.05 WIB, sementara titik terakhir berada di Sabang, Aceh.

BMKG mencatat bahwa kondisi cuaca menjadi faktor utama yang memengaruhi keberhasilan pengamatan visual. Setiap stasiun diwajibkan melakukan dokumentasi visual minimal lima gambar sebagai bahan analisis untuk memastikan ada atau tidaknya penampakan hilal.

Di lapangan, sejumlah wilayah menghadapi kendala cuaca. Hujan lebat dilaporkan terjadi di wilayah timur dan tengah seperti Jayapura dan Balikpapan, sementara kondisi berawan terpantau di kawasan Jabodetabek dan Tangerang. “Di Bekasi kondisi berawan, di Jayapura hujan lebat, dan di Tangerang juga berawan. Ini terus kami monitor,” ungkapnya.

Dalam proses penentuan awal bulan Hijriah, BMKG berperan sebagai penyedia data astronomis melalui metode hisab serta hasil observasi lapangan melalui rukyat. Seluruh hasil pengamatan dari 37 titik tersebut kemudian dihimpun secara terpusat untuk diserahkan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia. Adapun penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah telah diputuskan melalui sidang isbat pada 19 Maret 2026, dengan hasil bahwa Hari Raya Idulfitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Melalui pemantauan serentak ini, BMKG memastikan bahwa data astronomis yang dihasilkan akurat dan tepat waktu, sehingga dapat mendukung penetapan kalender Hijriah nasional secara kredibel dan terpercaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....