Memahami Jenis-Jenis Kemoterapi dan Tujuan Penggunaannya

  • 30 Sep 2026 01:36 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Kemoterapi merupakan salah satu metode pengobatan kanker yang menggunakan obat-obatan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker. Meski sering disebut sebagai satu jenis pengobatan, kemoterapi sebenarnya dapat diberikan dengan tujuan, waktu, obat, dan cara pemberian yang berbeda-beda.

Dikutip dari National Cancer Institute (NCI) menjelaskan bahwa kemoterapi dapat digunakan untuk menyembuhkan kanker tertentu, mengurangi kemungkinan kanker kembali, memperlambat pertumbuhan kanker, maupun membantu meredakan gejala akibat tumor.

Lantas, apa saja jenis kemoterapi yang perlu diketahui?

1. Kemoterapi Neoadjuvan

Kemoterapi neoadjuvan diberikan sebelum tindakan utama seperti operasi. Tujuannya antara lain mengecilkan ukuran tumor sehingga operasi dapat dilakukan dengan lebih optimal.

Pada kanker payudara, kemoterapi sebelum operasi dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, seperti tumor berukuran besar, kanker dengan keterlibatan kelenjar getah bening, kanker payudara inflamatori, serta sejumlah kanker HER2-positif atau triple-negative. Keuntungan lainnya, dokter dapat melihat bagaimana kanker merespons obat kemoterapi sebelum tindakan operasi dilakukan.

2. Kemoterapi Adjuvan

Berbeda dengan neoadjuvan, kemoterapi adjuvan diberikan setelah operasi. Tujuannya adalah menghancurkan sel kanker mikroskopis yang mungkin masih tertinggal atau telah menyebar tetapi belum dapat terlihat melalui pemeriksaan pencitraan. Dengan demikian, terapi ini ditujukan untuk menurunkan risiko kanker muncul kembali.

Pada kanker payudara, kebutuhan kemoterapi setelah operasi tidak sama untuk setiap pasien. Dokter mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk stadium, ukuran dan karakteristik tumor, keterlibatan kelenjar getah bening, serta biomarker kanker.

3. Kemoterapi untuk Kanker Metastatik

Kemoterapi juga dapat diberikan ketika kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang jauh dari lokasi awal atau disebut metastasis.

Pada kanker payudara metastatik, kemoterapi merupakan salah satu pilihan terapi sistemik. Tujuan pengobatan umumnya untuk mengendalikan pertumbuhan kanker, membantu memperpanjang kelangsungan hidup, serta mengurangi gejala dan mempertahankan kualitas hidup.

Jenis obat dan lamanya terapi dapat disesuaikan berdasarkan respons kanker serta kemampuan tubuh pasien dalam menoleransi efek samping.

4. Kemoterapi Kombinasi

Kemoterapi tidak selalu menggunakan satu obat. Dokter dapat mengombinasikan dua atau lebih obat dengan mekanisme kerja berbeda.

Pada kanker payudara stadium awal, beberapa kelompok obat yang sering digunakan antara lain anthracycline, seperti doxorubicin dan epirubicin; taxane, seperti paclitaxel dan docetaxel; serta cyclophosphamide dan carboplatin pada kondisi tertentu.

Salah satu contoh regimen adalah AC-T, yakni doxorubicin dan cyclophosphamide yang kemudian dilanjutkan dengan paclitaxel. Namun, regimen yang diberikan kepada setiap pasien dapat berbeda dan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan stadium kanker.

5. Kemoterapi Tunggal

Pada kondisi tertentu, dokter dapat memberikan satu jenis obat kemoterapi atau single-agent chemotherapy. Pendekatan ini antara lain dapat digunakan pada kanker payudara stadium lanjut.

Pemilihan satu obat atau kombinasi beberapa obat mempertimbangkan kondisi kanker, pengobatan yang pernah diterima, respons terhadap terapi sebelumnya, kondisi kesehatan pasien, serta kemungkinan efek samping.

6. Kemoterapi Berdasarkan Cara Pemberian

Kemoterapi juga dapat dibedakan berdasarkan cara obat masuk ke tubuh. Obat dapat diberikan melalui infus intravena (IV) langsung ke pembuluh darah atau dalam bentuk obat yang diminum. Sebagian besar kemoterapi kanker payudara bersifat sistemik. Artinya, obat masuk ke aliran darah sehingga dapat mencapai sel kanker di berbagai bagian tubuh.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua obat antikanker merupakan kemoterapi. Terapi target, imunoterapi, dan terapi hormon merupakan kelompok pengobatan yang berbeda, meskipun dalam kondisi tertentu dapat diberikan bersama kemoterapi.

Sebagai contoh, kanker payudara HER2-positif dapat memperoleh kemoterapi bersama terapi target HER2. Sementara kanker payudara dengan reseptor hormon positif dapat memperoleh terapi hormon sesuai kondisi pasien.

Tidak semua penderita kanker payudara membutuhkan kemoterapi. Penentuan terapi mempertimbangkan banyak faktor, seperti stadium dan tingkat keganasan kanker, keterlibatan kelenjar getah bening, status reseptor estrogen dan progesteron, HER2, status triple-negative, kondisi kesehatan pasien, serta hasil pemeriksaan lain.

Karena itu, dua pasien yang sama-sama didiagnosis kanker payudara belum tentu memperoleh jenis obat, jumlah siklus, maupun jadwal kemoterapi yang sama.

Kemoterapi biasanya diberikan dalam beberapa siklus, yaitu periode pemberian obat yang diikuti masa istirahat agar tubuh memiliki waktu untuk pulih. Pada kanker payudara, satu siklus sering berlangsung sekitar dua atau tiga minggu, meskipun jadwal dapat berbeda tergantung regimen yang digunakan.

Keputusan menjalani kemoterapi, termasuk pemilihan obat dan jumlah siklus, perlu ditentukan bersama dokter spesialis onkologi berdasarkan hasil pemeriksaan masing-masing pasien.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....