Memahami Attachment Avoidant: saat Seseorang Takut Terlalu Dekat dalam Hubungan

  • 22 Mei 2026 22:02 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Dalam dunia psikologi hubungan, istilah attachment avoidant atau pola keterikatan menghindar semakin sering dibahas, terutama di kalangan anak muda. Individu dengan pola ini biasanya tampak mandiri, sulit membuka perasaan, dan cenderung menjaga jarak emosional dalam hubungan.

Dikutip dari American Psychological Association (APA), Psikolog menyebut pola attachment avoidant sebagai salah satu bentuk gaya keterikatan yang terbentuk sejak masa kecil akibat pengalaman emosional tertentu, terutama hubungan dengan orang tua atau pengasuh. Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan romantis, persahabatan, hingga komunikasi sosial saat dewasa.

Dalam teori attachment yang dikembangkan psikolog John Bowlby, manusia memiliki pola keterikatan emosional yang terbentuk sejak kecil. Salah satunya adalah avoidant attachment atau keterikatan menghindar.

Seseorang dengan pola ini umumnya:

  • Sulit mempercayai orang lain
  • Tidak nyaman bergantung pada pasangan
  • Menghindari percakapan emosional mendalam
  • Terlihat dingin atau terlalu mandiri
  • Takut kehilangan kebebasan dalam hubungan

Meski tampak cuek, banyak individu attachment avoidant sebenarnya menyimpan ketakutan terhadap penolakan dan kekecewaan emosional.

Psikolog menjelaskan bahwa pola ini sering muncul karena pengalaman masa kecil, seperti:

  • Kurangnya kehangatan emosional dari orang tua
  • Sering diabaikan saat membutuhkan dukungan
  • Dididik untuk menahan emosi
  • Trauma hubungan atau pengasuhan keras

Akibatnya, anak belajar bahwa menunjukkan kebutuhan emosional dianggap tidak aman. Saat dewasa, mereka lebih memilih menjaga jarak agar tidak terluka.

Dalam hubungan asmara, individu attachment avoidant sering mengalami kesulitan mempertahankan kedekatan emosional. Mereka bisa tampak perhatian di awal hubungan, tetapi mulai menjauh ketika hubungan menjadi lebih serius.

Beberapa perilaku yang sering muncul antara lain:

  • Sulit mengungkapkan perasaan
  • Menghindari konflik dengan cara menghilang
  • Membutuhkan ruang berlebihan
  • Takut terhadap komitmen
  • Mudah merasa “terkekang”

Pasangan mereka pun sering merasa bingung karena mendapatkan sinyal cinta yang tidak konsisten.

Psikolog menegaskan bahwa pola keterikatan bukan sesuatu yang permanen. Dengan kesadaran diri, komunikasi sehat, dan dukungan lingkungan yang aman, seseorang dapat belajar membangun hubungan yang lebih sehat.

Terapi psikologi juga menjadi salah satu cara efektif untuk membantu individu memahami akar emosinya serta belajar membangun rasa aman dalam hubungan.

Meningkatnya pembahasan tentang attachment style di media sosial menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin peduli terhadap kesehatan mental dan pola hubungan interpersonal.

Memahami attachment avoidant bukan untuk memberi label negatif, melainkan membantu seseorang mengenali cara dirinya mencintai, menghadapi luka emosional, dan membangun hubungan yang lebih sehat di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....