Penyebab Dapur Selalu Penuh

  • 29 Agt 2026 20:46 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Dapur menjadi salah satu ruangan yang paling mudah dipenuhi barang, wadah makanan bertambah, peralatan memasak dibeli karena kebutuhan tertentu, sementara kantong dan kemasan terus disimpan dengan alasan masih bisa digunakan.

Jika tidak dikontrol, barang-barang tersebut dapat membuat ruang dapur semakin penuh. Prinsip decluttering yang berkembang di Jepang menawarkan pendekatan sederhana: bukan membuang semua barang, tetapi menilai kembali mana yang benar-benar diperlukan.

Penelitian National Institute for Environmental Studies (NIES) Jepang bahkan secara khusus mengkaji hubungan antara aktivitas merapikan rumah, cara pandang terhadap kepemilikan barang, dan perilaku konsumsi. Penelitian tersebut melihat tidying up sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami perubahan menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan.

Ada beberapa barang di dapur yang bisa mulai diperiksa, yakni:

1. Peralatan Dapur Duplikat

Satu rumah bisa memiliki beberapa alat dengan fungsi hampir sama, pisau, spatula, panci, gelas, hingga alat pembuka kemasan sering tersedia dalam jumlah lebih banyak daripada kebutuhan. Pilih peralatan yang paling sering digunakan. Barang yang masih bagus tetapi jarang digunakan bisa dipertimbangkan untuk diberikan kepada orang lain.

2. Wadah Makanan Terlalu Banyak

Wadah makanan merupakan salah satu sumber kekacauan di dapur, masalah biasanya muncul ketika jumlah wadah tidak seimbang dengan kebutuhan. Ada wadah tanpa tutup, tutup tanpa pasangan, atau wadah yang sudah lama tidak pernah digunakan. Tidak perlu membuang semuanya, mulailah dengan memisahkan wadah yang masih lengkap dan sering digunakan.

3. Produk yang Sudah Kedaluwarsa

Rak dapur juga perlu diperiksa secara berkala, makanan, minuman, bumbu, maupun produk rumah tangga tertentu dapat memiliki masa penggunaan. Barang yang sudah kedaluwarsa sebaiknya tidak terus disimpan hanya karena kemasannya masih terlihat bagus.

4. Kantong dan Kemasan Berlebihan

Kantong belanja, kardus, botol, kotak, dan kemasan sering dikumpulkan dengan alasan “nanti berguna”. Satu atau beberapa buah mungkin memang berguna. Namun jika jumlahnya sudah memenuhi laci atau sudut dapur, waktunya mulai memilah.

Penelitian NIES menempatkan persoalan kepemilikan barang dalam konteks yang lebih luas. Jepang menghadapi tantangan konsumsi dan pembuangan barang, sehingga penelitian mereka juga melihat apakah aktivitas merapikan dapat memengaruhi nilai seseorang terhadap barang serta perilaku membeli.

Karena itu, decluttering dapur sebenarnya tidak berhenti pada membuang barang. Kebiasaan membeli juga perlu diperhatikan. Sebelum membeli wadah baru, misalnya, pertanyakan apakah memang membutuhkan wadah tambahan atau sebenarnya masih memiliki cukup banyak di rumah.

Dapur yang rapi bukan berarti dapur tanpa barang. Justru dapur yang fungsional adalah dapur yang menyimpan barang sesuai kebutuhan dan memudahkan penghuninya mengambil serta menggunakan benda yang memang diperlukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....