Hollywood Mulai Melirik AI

  • 17 Jul 2026 10:43 WIB
  •  Bengkalis
Poin Utama
  • Major studios like Lionsgate partnered with AI companies such as Runway to develop generative AI models trained on their film catalogs, positioning AI as a tool to expand creator capabilities rather than replace them.
  • Hollywood mulai memanfaatkan AI generatif dalam industri perfilman. Teknologi ini mengubah cara manusia berkarya dan membuka peluang baru bagi kreator konten.

RRI.CO.ID, Jakarta – Selama lebih dari satu abad, Hollywood berkembang melalui berbagai revolusi teknologi. Industri perfilman dunia pernah mengalami transisi dari film bisu ke film bersuara, dari efek visual praktis ke teknologi CGI, hingga memasuki era kamera digital beresolusi tinggi.

Kini, Hollywood kembali berada di titik perubahan besar. Bukan lagi sekadar tentang kamera atau efek visual, melainkan tentang bagaimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) mulai mengambil peran dalam proses kreatif di balik layar.

Jika dahulu sebuah adegan fantasi membutuhkan pembangunan set yang rumit dan berbiaya besar, kini teknologi AI mampu membantu proses pre-visualization, menghasilkan konsep visual, hingga menciptakan video sinematik hanya melalui teks dan gambar. Perubahan ini menjadi penanda bahwa AI tidak lagi dipandang sebagai teknologi masa depan, melainkan mulai menjadi bagian dari ekosistem industri kreatif global.

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menyebutkan bahwa kecerdasan buatan menjadi salah satu teknologi yang diperkirakan memberikan dampak transformasional terbesar terhadap dunia kerja dalam lima tahun mendatang. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa keterampilan yang berkaitan dengan AI dan literasi digital akan menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan pada masa depan.

Perkembangan AI generatif juga mulai menarik perhatian industri perfilman dunia. Salah satu langkah besar datang dari Lionsgate yang pada 2024 menjalin kerja sama dengan perusahaan AI Runway untuk mengembangkan model AI generatif yang dilatih menggunakan katalog film dan serial milik studio tersebut.

Teknologi ini dirancang untuk membantu para sineas dalam proses storyboarding, pre-production, hingga pengembangan efek visual secara lebih efisien. Pada Juni 2026, Lionsgate bahkan memperluas kemitraannya dengan mengambil kepemilikan saham di Runway dan berkolaborasi dalam pengembangan kekayaan intelektual (intellectual property) baru berbasis AI. Perusahaan tersebut menyebut AI sebagai alat yang dirancang untuk memperluas kemampuan para kreator, bukan menggantikan mereka.

Di sisi lain, sutradara Darren Aronofsky melalui studio kreatif Primordial Soup menjalin kerja sama dengan Google DeepMind untuk mengembangkan pendekatan baru dalam penceritaan visual berbasis AI. Proyek perdananya yang berjudul Ancestra memadukan pengambilan gambar secara langsung (live action) dengan visual yang dihasilkan menggunakan teknologi AI generatif dan diputar pada Tribeca Festival 2025. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa AI mulai digunakan sebagai alat eksplorasi artistik dalam industri perfilman modern.

Perubahan tersebut tidak berhenti pada studio besar Hollywood. Runway melalui AI Film Festival mencatat peningkatan partisipasi yang sangat signifikan dari para pembuat film di seluruh dunia. Jika pada tahun pertama festival hanya menerima ratusan karya, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 6.000 film pendek yang dikirimkan pada penyelenggaraan 2025. Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi AI mulai membuka akses yang lebih luas bagi siapa pun untuk berkarya di industri kreatif visual.

Kemajuan teknologi AI generatif memungkinkan sebuah ide sederhana berkembang menjadi berbagai bentuk karya visual. Teknologi text-to-video dan image-to-video kini mampu menghasilkan adegan sinematik dengan pergerakan kamera yang semakin realistis. Berbagai perusahaan teknologi seperti Google, OpenAI, Runway, Midjourney, Kling AI, Pika, Higgsfield AI, hingga Luma AI terus menghadirkan inovasi baru yang mendorong batas kemampuan produksi konten digital.

Namun perkembangan tersebut juga memunculkan pertanyaan besar yang terus diperbincangkan di Hollywood: apakah AI akan menggantikan para sineas? Jawabannya tidak sesederhana itu. UNESCO dalam Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence menegaskan bahwa pengembangan AI harus tetap berpusat pada manusia (human-centered AI). Organisasi tersebut menyatakan bahwa teknologi perlu dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan, kreativitas, dan martabat manusia, serta tidak menghilangkan peran manusia dalam proses pengambilan keputusan dan penciptaan karya.

Pada praktiknya, AI memang mampu menghasilkan gambar dan video dalam hitungan menit. Namun teknologi tersebut tidak memiliki pengalaman hidup, empati, intuisi, maupun sudut pandang artistik yang lahir dari perjalanan manusia. AI dapat membantu menjawab bagaimana sebuah karya dibuat, tetapi manusialah yang menentukan mengapa karya tersebut diciptakan dan nilai apa yang ingin disampaikan kepada penontonnya.

Perkembangan AI juga melahirkan berbagai profesi baru dalam industri kreatif. Kemampuan menyusun prompt, merancang narasi visual, menggabungkan pengambilan gambar nyata dengan visual AI, hingga mengarahkan hasil generasi AI menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan. Dengan kata lain, AI tidak menghilangkan kreativitas, melainkan mengubah cara manusia menuangkannya menjadi sebuah karya.

Hollywood mungkin menjadi salah satu industri pertama yang mulai mengeksplorasi potensi AI dalam produksi film. Namun perubahan yang terjadi sesungguhnya jauh lebih besar dari itu. Teknologi yang dahulu hanya dimiliki studio besar kini perlahan menjadi lebih mudah diakses oleh pelajar, kreator konten, pelaku UMKM, hingga pembuat film independen di berbagai belahan dunia.

Di era kecerdasan buatan, revolusi terbesar bukanlah ketika mesin mampu menghasilkan jutaan gambar dan video dalam hitungan detik. Revolusi yang sesungguhnya adalah ketika satu ide sederhana dapat diwujudkan menjadi sebuah karya oleh lebih banyak orang dibandingkan sebelumnya. Yang berubah bukanlah kreativitas manusia, melainkan cara manusia mewujudkan imajinasinya menjadi kenyataan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....