Sering Mengajak Anak Mengobrol Jadi Kunci Membangun Kecerdasan
- 13 Jul 2026 16:15 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Jakarta – Kebiasaan sederhana mengajak anak berbincang setiap hari ternyata memiliki dampak besar terhadap perkembangan kecerdasan mereka. Hal ini diungkapkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, berdasarkan berbagai hasil riset di bidang ilmu kognitif yang telah ia tekuni selama bertahun-tahun.
Dalam podcast Query bersama Tirto.id, Prof. Stella mengatakan salah satu cara paling efektif untuk membantu anak berkembang bukanlah melalui metode yang rumit atau mahal, melainkan dengan memperbanyak komunikasi langsung antara orang tua dan anak.
Menurutnya, kemampuan berbahasa dan penguasaan kosakata sejak usia dini memiliki hubungan erat dengan prestasi akademik hingga peluang keberhasilan seseorang di masa depan.
"Ada riset yang menunjukkan bahwa kosakata yang dimiliki seorang anak pada usia lima tahun sangat berkorelasi dengan prestasi mereka di sekolah dan peluang mendapatkan pekerjaan yang baik di masa depan," ujar Stella.
Ia menjelaskan, setiap percakapan yang dilakukan orang tua bersama anak sebenarnya menjadi proses pembelajaran. Semakin sering anak mendengar, memahami, dan menggunakan berbagai kosakata, semakin berkembang pula kemampuan berpikirnya.
Stella mengatakan kosakata bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sarana bagi anak untuk memahami konsep, menyampaikan gagasan, dan memproses informasi yang diterimanya.
"Semakin banyak kosakata yang dimiliki anak, semakin mudah dia memahami informasi baru dan semakin cepat pula kemampuan berpikirnya berkembang," katanya.
Menurut Stella, kesempatan terbaik untuk memperkaya kosakata justru muncul dari pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sering diajukan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Alih-alih menjawab singkat atau menghentikan rasa ingin tahu anak, orang tua dianjurkan memberikan penjelasan yang dapat merangsang proses berpikir mereka.
Sebagai contoh, ketika anak bertanya mengapa ia harus makan, orang tua dapat memberikan analogi yang mudah dipahami.
"Kalau anak bertanya kenapa harus makan, jangan hanya dijawab 'pokoknya makan'. Jelaskan bahwa tubuh manusia seperti telepon genggam yang perlu diisi daya agar bisa berfungsi," jelasnya.
Ia menilai jawaban yang disertai contoh konkret akan membantu anak memahami hubungan sebab-akibat sekaligus melatih kemampuan berpikir logis.
Selain itu, Stella mengungkapkan hasil penelitian juga menunjukkan bahwa informasi yang diperoleh melalui percakapan langsung lebih mudah dipahami dan diingat dibandingkan informasi yang diterima melalui media digital.
Hal ini terjadi karena komunikasi dua arah memberi kesempatan kepada anak untuk bertanya, mengklarifikasi, serta menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang telah dimilikinya.
Menurut Stella, perkembangan teknologi tidak seharusnya menggantikan interaksi langsung antara orang tua dan anak. Justru di tengah maraknya penggunaan gawai, komunikasi dalam keluarga menjadi semakin penting untuk mendukung perkembangan kognitif anak.
Ia mengajak para orang tua memanfaatkan momen sederhana, seperti saat makan bersama, berbelanja, atau bepergian, sebagai kesempatan berdialog dengan anak.
"Berbicara dengan anak adalah investasi yang sangat murah, tetapi manfaatnya luar biasa besar bagi perkembangan kemampuan berpikir mereka," tuturnya.
Dengan membangun kebiasaan berdialog sejak dini, anak tidak hanya memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang kritis, komunikatif, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....