Konsep STIFIn: Manusia Memiliki Sifat Kecenderungan yang Berbeda

  • 18 Mei 2026 10:46 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis — Setiap manusia memiliki sifat dan kecenderungan yang berbeda dalam menjalani kehidupan. Perbedaan tersebut tidak hanya terlihat dari cara berbicara atau bersikap, tetapi juga dalam mengambil keputusan, menyelesaikan masalah hingga merespon tekanan.

Dalam konsep STIFIn, kecenderungan itu disebut sebagai bagian dari mesin kecerdasan dominan yang dimiliki setiap individu sejak lahir. Trainer STIFIn Pekanbaru, Yonsiswandri, menjelaskan bahwa konsep STIFIn memetakan manusia ke dalam beberapa tipe kecerdasan utama, yakni sensing, thinking, intuiting, feeling dan insting. Dari tipe tersebut muncul kecenderungan perilaku yang berbeda-beda pada setiap orang.

Menurutnya, seseorang dengan dominasi sensing misalnya, cenderung menyukai hal-hal yang nyata, detail dan praktis. Mereka biasanya nyaman bekerja dengan sistem yang teratur serta langkah yang jelas. Sementara tipe thinking lebih mengedepankan logika dan analisa dalam mengambil keputusan.

“Setiap manusia memiliki kecenderungan alami. Ada yang kuat di logika, ada yang dominan di perasaan, ada juga yang mengandalkan intuisi atau naluri,” ujar Yonsiswandri.

Ia menambahkan, tipe feeling umumnya lebih mengutamakan hubungan emosional dan kenyamanan dalam berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan tipe intuiting lebih menyukai ide-ide baru, kreativitas serta berpikir visioner. Adapun tipe insting dikenal lebih fleksibel dan mampu menyesuaikan diri di berbagai situasi.

Yonsiswandri menilai, banyak konflik dalam kehidupan sehari-hari terjadi karena seseorang belum memahami kecenderungan dirinya maupun orang lain. Akibatnya, seseorang kerap memaksakan cara berpikirnya kepada lingkungan sekitar tanpa memahami bahwa setiap individu memiliki pola respon yang berbeda.

“Kalau kita memahami bahwa setiap orang punya kecenderungan masing-masing, kita jadi lebih mudah menghargai perbedaan dan tidak mudah menyalahkan orang lain,” katanya.

Dalam dunia kerja maupun keluarga, pemahaman terhadap kecenderungan karakter dinilai dapat membantu membangun komunikasi yang lebih efektif. Seseorang juga dapat mengetahui cara belajar, bekerja dan berkembang sesuai potensi alaminya.

Ia berharap masyarakat tidak lagi melihat perbedaan karakter sebagai kelemahan, melainkan sebagai keunikan yang perlu dipahami dan dikembangkan. Dengan mengenali kecenderungan diri melalui konsep STIFIn, seseorang diharapkan mampu lebih percaya diri dan menjalani kehidupan secara lebih optimal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....