Mengenal Sejarah dan Perkembangan Es Batu di Indonesia
- 13 Mei 2026 10:51 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Es batu adalah potongan air yang dibekukan dan umumnya digunakan untuk mendinginkan minuman. Dalam penggunaannya, es batu juga dapat berbentuk serpihan atau es yang dihancurkan agar lebih lambat mencair. Jenis ini sering digunakan pada minuman campuran.
Dikutip dari laman Wikipedia, Fisikawan sekaligus tokoh kemanusiaan asal Amerika Serikat, John Gorrie, menciptakan mesin pendingin udara pada tahun 1844 yang mampu menghasilkan es. Meski demikian, es yang dihasilkan saat itu bukan untuk mendinginkan minuman, melainkan untuk menurunkan suhu ruangan. Karena temuannya tersebut, Gorrie dianggap sebagai salah satu pelopor pembuatan es batu modern.
Es batu dapat dibuat secara sederhana di rumah dengan mengisi cetakan es menggunakan air, kemudian meletakkannya di dalam freezer hingga membeku.
Seiring perkembangan teknologi, sejumlah freezer modern telah dilengkapi mesin pembuat es otomatis yang dapat menghasilkan es batu dan menampungnya pada wadah khusus sehingga mudah digunakan.
Tempat es batu dirancang untuk membagi air ke dalam beberapa bagian sebelum dibekukan. Umumnya, wadah ini dibuat dari bahan fleksibel seperti silikon agar es batu mudah dilepaskan setelah membeku.
Tempat es batu berbahan kayu pertama kali ditemukan oleh Lloyd Groff Copeman. Sementara itu, tempat es batu berbahan baja fleksibel dikembangkan oleh Guy L. Tinkham pada tahun 1933.
Es batu mulai dikenal di Indonesia pada 18 November 1846. Kehadirannya saat itu menarik perhatian masyarakat karena dianggap sebagai barang mewah.
Es batu pertama kali dibawa menggunakan kapal dari Boston oleh perusahaan Roselie En Co.. Pada masa itu, es batu hanya dinikmati kalangan elit Belanda di kawasan Batavia atau Jakarta saat ini. Bahkan, tidak semua warga Belanda dapat menikmati minuman yang dicampur es batu.
Dalam berbagai acara penting, minuman dingin dengan es batu kerap disajikan untuk tamu kalangan atas. Karena tergolong barang mewah, harga 500 gram es batu saat itu mencapai sekitar 10 sen gulden atau setara puluhan ribu rupiah saat ini.
Pada tahun 1870, Indonesia tidak lagi mengimpor es batu dari Amerika Serikat setelah berdirinya pabrik es batu di Batavia yang dipelopori oleh Kwa Wan Hong. Seiring meningkatnya permintaan, produksi es batu kemudian diperluas ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Semarang pada tahun 1895.
Memasuki abad ke-20 hingga sekarang, es batu telah menjadi kebutuhan umum yang dapat dinikmati seluruh masyarakat dan diproduksi secara mandiri di rumah maupun secara industri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....