Cara Memulai Usaha Kopi Keliling dari Modal, Peralatan hingga Hitung Omzet

  • 30 Sep 2026 21:34 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Usaha kopi keliling dapat menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin memulai bisnis dengan modal relatif terjangkau. Konsep penjualan yang berpindah-pindah membuat pelaku usaha tidak harus menyewa tempat secara permanen.

Usaha ini juga dapat dimulai dari skala kecil dan dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan serta permintaan pasar, seperti yang kami kutib dari situs Pegadaian, berikut penjelasannya:

1. Potensi Usaha Kopi Keliling

Kopi memiliki pasar yang cukup luas karena dapat dikonsumsi oleh berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pekerja, mahasiswa hingga komunitas. Lokasi menjadi salah satu faktor penting dalam usaha kopi keliling. Pelaku usaha dapat menyasar kawasan perkantoran, kampus, taman, pusat aktivitas masyarakat, maupun lokasi yang ramai dikunjungi.

Dari sisi sarana, usaha kopi keliling tidak selalu membutuhkan kendaraan khusus. Bisnis dapat dimulai dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda, gerobak dorong, hingga sepeda motor yang telah dimodifikasi.

Harga jual juga dapat disesuaikan dengan jenis menu dan target pasar. Sebagai gambaran, harga kopi keliling dapat berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp15.000 per gelas.

2. Estimasi Modal Awal

Kebutuhan modal bergantung pada konsep dan skala usaha yang dipilih. Usaha sederhana dengan konsep berjalan kaki atau menggunakan sepeda diperkirakan membutuhkan modal sekitar Rp1 juta hingga Rp2,5 juta.

Sementara penggunaan gerobak dorong sederhana dapat membutuhkan modal sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta. Adapun usaha yang menggunakan sepeda motor modifikasi atau stand portable dengan peralatan lebih lengkap diperkirakan membutuhkan modal sekitar Rp5 juta hingga Rp8 juta. Angka tersebut hanya merupakan gambaran awal. Kebutuhan modal dapat berbeda berdasarkan harga peralatan, kualitas bahan, merek, lokasi pembelian, serta konsep usaha.

3. Rincian Kebutuhan Modal

1. Peralatan dasar

Peralatan menjadi salah satu kebutuhan utama. Termos air panas diperkirakan membutuhkan Rp150.000 hingga Rp300.000. Kompor portabel dan gas kecil sekitar Rp300.000 hingga Rp500.000.

Sementara gelas plastik, tutup, dan sedotan dapat membutuhkan sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000. Wadah gula, sendok, dan toples kopi diperkirakan sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000. Jika menggunakan gerobak dorong atau sepeda motor yang dimodifikasi, biaya sarana tersebut dapat mencapai sekitar Rp2 juta hingga Rp5 juta. Dengan demikian, total kebutuhan peralatan dapat berada pada kisaran Rp750.000 hingga Rp6 juta, tergantung konsep usaha.

2. Bahan baku

Bahan baku menjadi bagian dari biaya operasional harian. Sebagai gambaran, kebutuhan bubuk kopi 1 kilogram diperkirakan Rp60.000 hingga Rp100.000. Gula pasir sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram, susu kental manis sekitar Rp10.000 hingga Rp12.000 per kaleng, dan air mineral galon sekitar Rp20.000.

Untuk penjualan kopi dingin, pelaku usaha juga perlu menyiapkan es batu yang diperkirakan sekitar Rp10.000. Secara keseluruhan, kebutuhan bahan baku untuk produksi sekitar 100 gelas diperkirakan Rp100.000 hingga Rp200.000. Nilainya dapat berbeda bergantung pada resep, ukuran gelas, dan jenis menu.

3. Biaya operasional

Biaya operasional lain juga perlu diperhitungkan, seperti gas, transportasi, plastik, dan tisu. Pengisian ulang gas diperkirakan membutuhkan Rp20.000 hingga Rp25.000, sedangkan biaya transportasi menggunakan sepeda motor dapat mencapai sekitar Rp200.000 hingga Rp400.000 per bulan. Kebutuhan plastik dan tisu diperkirakan sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 per bulan.

4. Menghitung Potensi Omzet

Potensi pendapatan usaha kopi keliling sangat bergantung pada harga jual dan jumlah produk yang terjual. Sebagai simulasi, apabila kopi dijual dengan harga Rp7.000 per gelas dan mampu terjual 100 gelas dalam sehari, omzet kotor yang diperoleh mencapai sekitar Rp700.000 per hari.

Namun, omzet tersebut belum merupakan keuntungan bersih karena masih harus dikurangi biaya bahan baku, transportasi, gas, kemasan, dan biaya operasional lainnya. Dengan demikian, perhitungan keuntungan perlu dilakukan berdasarkan biaya produksi dan pengeluaran aktual.

Sebagai simulasi lain, apabila penjualan mencapai 40 hingga 50 gelas per hari dengan harga Rp5.000 hingga Rp8.000 per gelas, omzet harian berada di kisaran Rp200.000 hingga Rp400.000. Jika penjualan berlangsung selama 30 hari, omzet kotor secara matematis dapat berada di kisaran Rp6 juta hingga Rp12 juta. Angka tersebut tetap merupakan omzet, bukan keuntungan bersih.

Karena itu, pencatatan pemasukan dan pengeluaran menjadi penting. Dengan pembukuan sederhana, pelaku usaha dapat mengetahui margin keuntungan dan mengevaluasi perkembangan bisnis.

5. Pertimbangkan Pembiayaan untuk Pengembangan Usaha

Setelah usaha berjalan dan membutuhkan tambahan modal, pelaku usaha dapat mempertimbangkan berbagai pilihan pembiayaan sesuai kebutuhan dan kemampuan membayar. Salah satu produk pembiayaan yang tersedia adalah Gadai BPKB Pegadaian. Berdasarkan informasi yang disampaikan, pembiayaan tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan produktif dan kendaraan tetap dapat digunakan selama memenuhi ketentuan yang berlaku.

Pengajuan pembiayaan memiliki persyaratan dan ketentuan yang perlu diperiksa terlebih dahulu. Di antaranya kepemilikan e-KTP, batas usia, domisili, kelayakan usaha, serta pemeriksaan SLIK dan DHN. Usaha yang diajukan juga perlu memenuhi kriteria yang ditetapkan, termasuk telah berjalan minimal satu tahun. Ketentuan terkait jarak lokasi usaha dari outlet dan dokumen pendukung juga perlu diperhatikan.

Sebelum mengambil pembiayaan, pelaku usaha sebaiknya menghitung kemampuan membayar cicilan berdasarkan arus kas bisnis. Pembiayaan idealnya digunakan untuk kebutuhan produktif dan tidak mengganggu kebutuhan operasional maupun keuangan rumah tangga.

Pada akhirnya, usaha kopi keliling menawarkan fleksibilitas dari sisi lokasi dan skala modal. Namun, keberhasilannya tetap dipengaruhi oleh pemilihan lokasi, kualitas produk, harga jual, pelayanan, konsistensi penjualan, serta kemampuan mengelola arus kas. Dengan perencanaan modal dan pencatatan keuangan yang baik, usaha dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan dan kondisi pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....