Murni Sulap Lahan Mati Jadi TOGA
- 03 Mar 2026 11:45 WIB
- Bengkalis
RRI,CO.ID, Bengkalis - Peringatan World Wildlife Day atau Hari Kehidupan Liar Sedunia tahun ini terasa istimewa di RW 29 Bumi Hijau, Kelurahan Air Jamban, Duri. Di tengah tema global “Tanaman Obat dan Aromatik: Melestarikan Kesehatan, Warisan, dan Mata Pencaharian”, seorang ibu rumah tangga bernama Murni (37) membuktikan bahwa aksi kecil di pekarangan rumah dapat menjadi gerakan besar bagi kesehatan dan kemandirian warga.9p
Ketua Kelompok PKK setempat itu berhasil menyulap lahan fasilitas umum (fasum) yang sebelumnya terbengkalai menjadi kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kini, jahe putih, jahe merah, hingga kunyit tumbuh subur, menghadirkan manfaat kesehatan sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Dulu lahan ini membisu melihat keraguan kami. Niat mandiri itu ada, tapi nyali kami ciut sebelum mencoba,” kenang Murni saat ditemui, Selasa, 3 Maret 2026.
Menurutnya, masyarakat Melayu di Bengkalis sejatinya telah lama mengenal manfaat rimpang sebagai warisan kesehatan turun-temurun. Jahe merah dipercaya membantu menghangatkan tubuh dan menjaga daya tahan, sementara kunyit kerap dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan pencernaan. Namun, modernisasi membuat pengetahuan tradisional tersebut perlahan memudar.
Berangkat dari keresahan itu, Murni bersama kelompok Program Puteri Proklim Melayu Lestari mulai berinisiatif menghidupkan kembali tradisi menanam tanaman obat. Titik balik terjadi saat mereka mendapat pelatihan dan pendampingan dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Dengan bimbingan tersebut, para ibu memberanikan diri mengolah tanah keras yang sebelumnya dipenuhi semak liar. Mereka belajar menyemai jahe putih, jahe merah, dan kunyit, serta merawat tanaman hortikultura menggunakan pupuk organik.
“Dulu lahan ini hanya tanah kosong yang kami lewati setiap hari. Sekarang setiap tunas yang tumbuh di sini seperti mengingatkan bahwa kami juga bisa tumbuh dan berubah bersama,” ujar Murni haru.
Upaya itu membuahkan hasil nyata. Warga kini memiliki akses cepat terhadap tanaman obat tanpa harus membeli ke pasar.
Pengeluaran rumah tangga pun lebih hemat, terutama ketika harga rempah melonjak. Tak kalah penting, anak-anak di lingkungan tersebut kembali mengenal bentuk asli tanaman obat yang sebelumnya hanya mereka dengar dari cerita orang tua.
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengapresiasi kegigihan kelompok tersebut. Ia menilai keberhasilan ini bukan sekadar tentang kebun, melainkan perubahan pola pikir menuju kemandirian.
“Menyaksikan perjuangan Ibu Murni dan kawan-kawan adalah pelajaran tentang ketangguhan. Mereka membuktikan bahwa dari sepetak lahan jahe dan kunyit, kita bisa menjaga kesehatan keluarga sekaligus melestarikan warisan leluhur,” ungkap Iwan.
Momentum Hari Kehidupan Liar Sedunia menjadi pengingat bahwa pelestarian flora, termasuk tanaman obat dan aromatik, merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan hidup manusia. Di Bumi Hijau, langkah kecil para perempuan tangguh ini telah menjadi contoh nyata bahwa dari lahan mati, harapan baru dapat terus bertunas.