Tempat Bersejarah di Indonesia Kini Jadi Objek Wisata Favorit
- 28 Jul 2026 06:37 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau – Indonesia memiliki banyak tempat bersejarah yang kini tidak hanya berfungsi sebagai saksi perjalanan bangsa, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata yang menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Pengembangan wisata sejarah ini menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan budaya sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.
Melansir Kementerian Pariwisata pada Senin 27 Juli 2026, pengembangan destinasi berbasis sejarah dan budaya memberikan pengalaman wisata yang tidak hanya menghibur, tetapi juga edukatif. Wisatawan diajak mengenal nilai-nilai sejarah, budaya, serta kearifan lokal yang melekat pada setiap situs bersejarah. Beberapa tempat bersejarah di Indonesia yang sekarang menjadi objek wisata.
- Kota Tua Jakarta
Kota Tua Jakarta merupakan kawasan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda yang dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan dan administrasi Batavia. Bangunan-bangunan bergaya Eropa yang masih berdiri kokoh kini telah direvitalisasi menjadi kawasan wisata sejarah. Di area ini, wisatawan dapat mengunjungi Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, hingga menikmati suasana klasik dengan bersepeda menggunakan sepeda ontel. Kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling populer di Indonesia.
- Pabrik Gula Gondang Winangoen
Pabrik Gula (PG) Gondang Winangoen didirikan pada tahun 1860 oleh NV Klatensche Cultuur Maatschappij. Berlokasi strategis di Jogonalan, Klaten, pabrik ini sempat dioperasikan oleh perusahaan Belanda tersebut hingga diambil alih oleh Pemerintah Indonesia pasca-kemerdekaan untuk dikelola di bawah naungan BUMN Perkebunan.
Kompleks ini terkenal sebagai salah satu monumen industri kolonial yang masih menyisakan bangunan dan mesin tua yang kokoh. Saat ini, kawasan tersebut telah dialihfungsikan menjadi tempat wisata edukasi sejarah, dan di dalamnya terdapat Museum Gula Gondang Winangoen yang merupakan satu-satunya museum gula di Asia Tenggara.
- Benteng Fort Rotterdam, Makassar
Benteng Fort Rotterdam awalnya dibangun oleh Kerajaan Gowa sebagai benteng pertahanan. Setelah dikuasai VOC, benteng ini mengalami renovasi dan dijadikan pusat pemerintahan serta pertahanan Belanda di wilayah Indonesia bagian timur. Saat ini, Fort Rotterdam telah menjadi objek wisata sejarah yang menyimpan berbagai koleksi budaya Sulawesi Selatan melalui Museum La Galigo. Pengunjung dapat menikmati arsitektur benteng sekaligus mempelajari sejarah perjuangan masyarakat Makassar.
- Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta
Benteng Vredeburg pada mulanya dibangun oleh Belanda sebagai benteng pertahanan sekaligus sarana mengawasi aktivitas Kesultanan Yogyakarta. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini dialihfungsikan menjadi museum yang menyajikan perjalanan sejarah bangsa, terutama perjuangan menuju kemerdekaan. Kini, Museum Benteng Vredeburg menjadi salah satu tujuan wisata edukasi favorit bagi pelajar maupun wisatawan.
- Lawang Sewu, Semarang
Lawang Sewu merupakan gedung bersejarah yang dahulu digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api Hindia Belanda. Bangunan yang terkenal dengan banyak pintunya ini pernah menjadi saksi berbagai peristiwa penting, termasuk Pertempuran Lima Hari di Semarang. Saat ini, Lawang Sewu telah dipugar dan dibuka sebagai objek wisata yang menawarkan wisata sejarah, arsitektur, serta pameran mengenai perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Karena jumlah pintunya yang banyak maka masyarakat menamainya dengan Lawang Sewu yang berarti seribu pintu. Padahal sebenarnya jumlah pintu di Lawang Sewu hanya berjumlah 928 saja.
- Istana Maimun, Medan
Istana Maimun adalah peninggalan Kesultanan Deli yang dibangun pada akhir abad ke-19. Istana ini memadukan unsur arsitektur Melayu, Timur Tengah, India, dan Eropa sehingga memiliki nilai estetika yang tinggi. Kini, Istana Maimun menjadi salah satu ikon wisata Kota Medan. Pengunjung dapat melihat koleksi peninggalan kerajaan, berfoto dengan pakaian adat Melayu, dan mempelajari sejarah Kesultanan Deli.
- Hotel Majapahit
Hotel Majapahit di Surabaya bukan hotel biasa. Bangunan hotel ini menjadi saksi sejarah penting, karena menjadi tempat perobekan warna biru di bendera Belanda menjadi bendera Merah Putih pada 19 September 1945. Hotel Majapahit sendiri awalnya bernama L.M.S Hotel yang didirikan pada tahun 1910 oleh Sarkies bersaudara. Seiring berjalannya waktu, hotel ini telah mengalami pergantian nama beberapa kali, mulai dari Hotel Oranje, Hotel Yamato, Hotel Hoteru, hingga kini menjadi Hotel Majapahit. Saat ini, Hotel Majapahit telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya Nasional.
- Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur.
Lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia ini tidak bisa dilepaskan dari Kota Ende. Hal ini bukan tanpa alasan. Sebab, selama 4 tahun Bung Karno pernah “dibuang” ke Ende oleh pemerintah kolonial kala itu. Konon, Bung Karno mendapatkan inspirasi, ide, serta gagasan mengenai kebangsaan dan kebinekaan saat masa pengasingan di Ende. Khususnya dalam merumuskan Pancasila.
- Boven Digoel, Papua Selatan
Boven Digoel merupakan daerah di Papua yang terkait erat dengan sejarah kemerdekaan RI. Boven Digoel terletak di Papua Selatan dan berbatasan langsung dengan Papua New Guinea di sisi timur. Daerah itu dikenal sebagai Digul Atas di masa lalu dan menjadi tempat pengasingan bagi sejumlah aktivis Pra Kemerdekaan. Tokoh politik, seperti Sutan Sjahrir, Sayuti Melik, Marco Kartodikromo, dan Moh Hatta sempat diasingkan ke sini.
Konsep pengembangan destinasi saat ini tidak hanya berfokus pada pelestarian fisik bangunan, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif melalui pameran, pertunjukan budaya, tur edukasi, dan pemanfaatan teknologi digital. Langkah tersebut diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk lebih mengenal sejarah Indonesia.
Kementerian Pariwisata terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, pengelola kawasan, komunitas, dan masyarakat agar situs-situs bersejarah tetap terjaga keasliannya sekaligus mampu berkembang sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan. Dengan demikian, warisan sejarah Indonesia tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga aset penting bagi pembangunan pariwisata nasional dan pendidikan generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....