Idulfitri di Keraton Wolio, Harmoni Ibadah dan Warisan Sejarah
- 22 Mar 2026 09:52 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau: Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti pelaksanaan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Masjid Agung Keraton Wolio, Kota Baubau, Sabtu, 21 Maret 2026.
Sejak pagi hari, ribuan jamaah mulai memadati kawasan masjid yang berada di dalam kompleks Benteng Keraton Buton.
Dengan mengenakan pakaian terbaik, masyarakat dari berbagai penjuru kota datang bersama keluarga, berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan, menciptakan suasana yang semarak namun tetap tertib.
Lantunan takbir, tahmid, dan tahlil menggema dari dalam masjid hingga ke pelataran dan baruga, menambah kekhusyukan pagi yang cerah dan penuh berkah ini.
Masjid Agung Keraton Wolio sendiri memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di kawasan Sulawesi Tenggara (Sultra) dan menjadi bagian penting dari peradaban Kesultanan Buton.

Arsitekturnya yang khas, dengan sentuhan kayu dan struktur tradisional, masih terjaga hingga saat ini, menjadikannya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol sejarah dan identitas masyarakat Baubau.
Di sisi lain, keberadaan baruga atau bangunan terbuka di sekitar masjid turut menjadi daya tarik tersendiri. Baruga ini dahulu digunakan sebagai tempat musyawarah adat dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Hingga kini, baruga tetap difungsikan sebagai ruang berkumpul jamaah, terutama saat momentum besar seperti Idulgitri, menampung melimpahnya jamaah perempuan yang tidak tertampung di dalam masjid utama.
Pelaksanaan salat berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Khutbah Idulfitri mengajak jamaah untuk kembali kepada fitrah, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat kepedulian sosial.
Dalam khutbahnya, khatib sara kidina menyampaikan, bahwa orang-orang bertakwa adalah mereka yang gemar berbagi, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, serta memaafkan sesama.
"Momentum Idulfitri menjadi waktu yang tepat untuk membersihkan diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala," ujarnya.

Selain itu, jamaah juga diingatkan akan pentingnya zakat sebagai sarana penyucian harta dan jiwa. Dengan berbagi kepada sesama, khususnya kepada yang membutuhkan, diharapkan tercipta keseimbangan sosial dan keberkahan dalam kehidupan.
Suasana haru semakin terasa saat jamaah saling bersalaman usai pelaksanaan salat. Tangis bahagia, senyum keikhlasan, dan ucapan maaf menjadi pemandangan yang menghangatkan hati, menandai kembalinya manusia kepada fitrah yang suci.
Tak sedikit pula jamaah yang memanfaatkan momen ini untuk berdoa bagi kedua orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, sebagai bentuk bakti dan penghormatan atas jasa-jasa mereka.
Dari Masjid Agung Keraton Wolio, suasana Idulfitri tahun ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga refleksi spiritual dan sosial bagi seluruh masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan dan nilai-nilai keislaman yang terus dijaga, diharapkan Idulfitri menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kepedulian, dan membangun kehidupan yang lebih baik ke depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....