di antara Sepak Bola, Busur dan Jiwa
- 05 Jul 2026 08:06 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau - Pada Piala Dunia 2002, dunia menyaksikan sebuah momen yang hingga kini masih dikenang. Ronaldinho, bocah ajaib dari Brasil, melepaskan tendangan bebas dari jarak yang tak biasa.
Bola melambung tinggi, seolah hendak meninggalkan lapangan, lalu tiba-tiba turun menukik ke gawang Inggris. David Seaman terpaku. Jaring bergoyang. Gol tercipta. Dan sejarah pun ditulis.
Banyak orang mengira gol semacam itu hanya lahir dari kekuatan kaki atau ketepatan teknik. Padahal ada sesuatu yang lebih dalam bekerja di baliknya: kemampuan mengendalikan diri. Sebab seorang eksekutor bola mati bukan hanya menggerakkan otot.
Ia sedang menyatukan pikiran, perasaan, dan tindakan dalam satu titik yang sama. Di tengah sorak penonton, tekanan pertandingan, dan beban harapan jutaan pasang mata, ia harus tetap tenang. Tetap fokus. Tetap percaya.
Mungkin itulah sebabnya nama-nama seperti David Beckham, Juninho Pernambucano, Andrea Pirlo, Gianfranco Zola, Roberto Carlos, Cristiano Ronaldo, dan Lionel Messi dikenang sebagai maestro tendangan bebas. Mereka tidak hanya mampu menaklukkan bola, tetapi juga mampu menaklukkan dirinya sendiri.
Prinsip yang sama kami pelajari dalam dunia panahan, khususnya di Indonesia Archery School Program (INASP), yang kami terapkan di Wolio Archery Community (WAC) Kota Baubau. Untuk mengirimkan anak panah tepat menuju titik X, seorang pemanah tidak cukup hanya memiliki busur yang baik atau otot yang kuat.
Ia memerlukan empat fondasi utama: Fokus, agar pikiran tidak berkelana ke mana-mana. Calm (tenang), agar tekanan tidak mengacaukan keputusan. Brave (berani), agar tidak ragu saat melepaskan anak panah. Win (percaya diri), agar keyakinan mengalahkan keraguan yang sering berbisik dalam hati.
Sesungguhnya sasaran pertama yang harus ditaklukkan seorang pemanah bukanlah papan target di depannya, melainkan kegelisahan yang ada di dalam dirinya. Di sinilah kecerdasan emosi menemukan panggungnya.
Hermanto Kosasih, salah satu trainer yang saya kagumi, mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai: "Kemampuan secara sadar untuk menggabungkan pikiran, perasaan, dan tindakan agar bersahabat dengan diri sendiri dan orang lain."
Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Sebab banyak orang mampu menghadapi orang lain, namun belum tentu mampu menghadapi dirinya sendiri.
Ada yang tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Ada yang tersenyum di hadapan banyak orang, tetapi diam-diam sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Ada yang memiliki segalanya, namun tidak pernah berdamai dengan dirinya.
Ketika seseorang kehilangan persahabatan dengan dirinya sendiri, maka berbagai persoalan dapat bermunculan; stres, kecemasan, depresi, bahkan keinginan untuk menjadi orang lain karena merasa dirinya tidak cukup berharga.
Karena itu, kecerdasan emosi sesungguhnya bukan sekadar kemampuan mengendalikan marah atau menahan kesal. Ia adalah seni merawat batin agar tetap sehat, sehingga pikiran, perasaan, dan tindakan dapat berjalan beriringan.
Bukankah kehidupan ini mirip sebuah tendangan bebas atau anak panah yang melesat menuju sasaran? Jika pikiran berkata "maju", tetapi hati dipenuhi ketakutan, langkah menjadi ragu. Jika hati ingin berhasil, tetapi tindakan malas bergerak, tujuan tak pernah tercapai. Namun ketika pikiran jernih, perasaan tenang, dan tindakan bergerak selaras, maka lahirlah kekuatan yang luar biasa.
Seperti bola yang melengkung indah menembus sudut gawang. Seperti anak panah yang melesat lurus menuju titik pusat. Seperti kehidupan yang berjalan menuju tujuan terbaiknya.
Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar dalam olahraga maupun kehidupan bukanlah saat kita berhasil menaklukkan lawan, melainkan ketika kita berhasil menaklukkan diri sendiri.
Oleh: La Ode Mu'jizat
(Konselor Keluarga pada BP4 Kota Baubau dan Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia Wilayah Baubau)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....