Fulan dan Pengadilan untuk Ayah
- 01 Jul 2026 16:13 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau - Seorang anak mula-mula belajar tentang cinta dari pelukan ibunya. Dari kelembutan seorang bunda, ia mengenal kasih sayang, ketulusan, tenggang rasa, kebersamaan, dan keikhlasan. Di sanalah benih-benih empati bertumbuh, disiram oleh doa-doa yang tak pernah putus.
Namun kehidupan tidak hanya membutuhkan kelembutan. Anak juga harus belajar tentang keberanian berkata "tidak", tentang ketegasan dalam bersikap, tentang harga diri yang tak boleh ditawar, tentang profesionalisme, perjuangan, dan keteguhan memegang prinsip. Nilai-nilai itu, dalam banyak keluarga, tumbuh dari sosok ayah yang hadir, membimbing, sekaligus menjadi teladan.
Bukankah seorang anak adalah perpaduan dari ayah dan bunda? Ia membawa jejak keduanya, bukan hanya dalam rupa, tetapi juga dalam pembentukan jiwa. Karena itu, mendidik anak bukanlah pekerjaan salah satu, melainkan amanah yang harus dipikul bersama hingga mereka mencapai kedewasaan.
Lalu, ketika seorang putri telah baligh, tetapi mudah terpedaya rayuan, sulit menjaga batas dirinya, tidak cukup berani mempertahankan kehormatan, privasi, dan hak-hak atas tubuhnya, maka dalam perspektif pendidikan keluarga, siapakah yang patut lebih banyak bercermin?
Salah satu jawabannya adalah ayah. Mengapa? Karena kepercayaan diri, keberanian mengambil sikap, ketegasan menjaga batas, serta kekuatan untuk menolak sesuatu yang keliru sering kali tumbuh dari hubungan yang hangat dan kokoh antara seorang ayah dengan putrinya. Kehadiran ayah yang penuh kasih, namun tegas, akan menjadi benteng pertama yang mengajarkan bahwa dirinya adalah perempuan yang berharga, yang tidak boleh diperlakukan sesuka hati oleh siapa pun.
Putri yang merasa dicintai, dihormati, dan dijaga oleh ayahnya akan lebih memahami bahwa tubuh dan kehormatannya bukanlah sesuatu yang dapat dipermainkan oleh rayuan sesaat.
Maka, wahai para ayah, Berhati-hatilah. Jika suatu hari datang seorang laki-laki, sebut saja namanya Fulan, yang tidak berani mengetuk pintu rumah untuk melamar, tetapi hanya pandai merangkai rayuan, mempermainkan perasaan, mengejar hawa nafsu, lalu membuat putri Anda kehilangan kemampuan menjaga kehormatan dirinya, jangan hanya menyalahkan Fulan.
Cobalah sejenak berkaca. Sudahkah engkau hadir sebagai ayah yang cukup dekat untuk menjadi tempat pulang? Sudahkah engkau menanamkan keberanian dalam jiwanya? Sudahkah engkau membuatnya merasa begitu berharga sehingga ia tak mudah menyerahkan harga dirinya kepada siapa pun yang belum halal baginya?
Sebab setiap ayah kelak bukan hanya akan ditanya tentang rezeki yang ia tinggalkan, tetapi juga tentang pendidikan yang ia wariskan. Bukan hanya tentang rumah yang ia bangunkan, tetapi juga tentang benteng akhlak yang ia dirikan dalam hati anak-anaknya.
Dan di hadapan Pengadilan Allah SWT, tidak akan ada pembela yang lebih kuat selain amal dan tanggung jawab yang telah kita tunaikan selama di dunia.
Semoga Allah menjadikan para ayah sebagai pelindung, pendidik, dan teladan terbaik bagi putra-putrinya. Sebab anak-anak tidak hanya membutuhkan seorang ayah yang mencari nafkah, tetapi juga seorang ayah yang menghadirkan dirinya, menanamkan keberanian, dan mengajarkan kemuliaan hidup.
Oleh: La Ode Mu'jizat, S.Kep.,Ns
(Konselor Keluarga pada BP4 Kota Baubau dan Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia Wilayah Baubau)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....