Resep Remaja Tangguh dan Pakandeana Ana-ana Maelu

  • 28 Jun 2026 07:52 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - "Apakah ibu-ibu prihatin dengan problematika remaja kita saat ini?" Pertanyaan itu saya lontarkan kepada para bunda peserta pelatihan bertema Ketahanan Keluarga yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Baubau. Saat itu saya mendapat amanah menjadi salah satu pembicara.

"Iya, Pak..." Jawaban itu meluncur hampir serempak. Sebuah jawaban yang tidak hanya mewakili para ibu yang hadir di ruangan tersebut, tetapi juga menggambarkan kegelisahan banyak orang tua zaman ini.

Kegelisahan para ayah dan bunda yang sedang membersamai putra-putrinya memasuki gerbang remaja, masa yang indah sekaligus penuh tantangan. Saya pun termasuk di dalamnya.

Keprihatinan itulah yang mendorong saya dalam beberapa tahun terakhir untuk bersilaturahmi dengan banyak orang tua yang telah berhasil mengantarkan anak-anak mereka menuju kehidupan yang membanggakan.

Saya ingin belajar. Ingin mendengar kisah, pengalaman, dan mungkin resep rahasia yang mereka amalkan sehingga anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berprestasi, dan terjaga dari berbagai pengaruh buruk kehidupan.

Namun, jawaban yang saya peroleh justru sederhana. Teramat sederhana. "Tidak ada rahasia, Pak Mu'jizat," ujar seorang ibu dengan senyum tulus. "Kami hanya berusaha memperbanyak amal membantu orang lain." Seorang bapak yang lain menambahkan, "Jangan mempersulit urusan orang. Bantulah semampumu. Permudahlah jalan mereka. Dan jika diundang, usahakan hadir selama tidak ada uzur atau sakit."

Nasihat mereka berbeda kalimat, tetapi memiliki satu makna yang sama: kebaikan yang kita tanam untuk orang lain, kelak akan berbuah untuk anak-anak kita. Pertolongan yang kita ulurkan kepada sesama, pada hakikatnya sedang membangun jalan kemudahan bagi keluarga sendiri.

Maka saya pun semakin memahami bahwa menolong orang lain sesungguhnya bukan sekadar memberi manfaat kepada mereka. Ia adalah investasi kehidupan. Ia adalah tabungan doa. Ia adalah cara Allah menghadirkan penjagaan bagi anak-anak yang kita cintai. Singkatnya, membantu orang lain sejatinya adalah membantu diri sendiri.

Ternyata, filosofi yang sama juga hidup dalam salah satu tradisi luhur masyarakat Buton yang diwariskan turun-temurun, yaitu Pakandeana Ana-ana Maelu. Sebagaimana dicatat oleh Dr. Kamaluddin Zamani dan kawan-kawan dalam buku Haroa dan Orang Buton, tradisi ini dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram.

Di hari itu masyarakat mengadakan haroa dan memberi makan anak-anak yang telah kehilangan ayahnya, atau bahkan kedua orang tuanya. Anak-anak yatim dan piatu dihormati, dimuliakan, dan diperlakukan sebagai tamu istimewa.

Di balik hidangan yang tersaji, sesungguhnya tersimpan pelajaran besar tentang kemanusiaan. Bahwa sebuah masyarakat akan tetap kokoh selama yang kuat mau memeluk yang lemah, selama yang lapang mau berbagi dengan yang sempit, dan selama yang beruntung tidak melupakan mereka yang sedang diuji kehidupan.

Mungkin inilah salah satu warisan kebijaksanaan leluhur yang patut terus kita rawat. Sebab boleh jadi, resep melahirkan generasi tangguh bukanlah semata-mata tentang banyaknya teori pengasuhan yang kita kuasai, melainkan tentang seberapa luas kepedulian yang kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang kita lakukan. Dan boleh jadi, masa depan mereka sedang dibangun oleh tangan-tangan kita yang hari ini ringan membantu sesama.

Oleh: La Ode Mu'jizat

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....