Tragedi Cinta di Balik Eksotisme Bukit La Mando

  • 19 Jun 2026 09:21 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Di antara lipatan bukit-bukit yang menua bersama waktu, berdirilah La Mando, bukan sekadar nama, melainkan gema dari sebuah kisah yang tak pernah benar-benar selesai. Ia diabadikan pada sebuah bukit di Buton Selatan; bukit yang punggungnya menyentuh langit, dan dadanya menyimpan cerita.

Ada setidaknya tiga kisah yang pernah sampai kepadaku tentang lelaki bernama La Mando itu. Tiga jalan cerita, tetapi satu rasa: cinta yang tak menemukan pulang.

Kisah pertama menghadirkan seorang lelaki yang kalah oleh perasaannya sendiri. Cintanya tak sampai. Ia berjalan tanpa alas kaki, menyusuri hamparan hijau di punggung bukit, seperti Qais dalam kisah Laila Majnun, larut dalam rindu yang tak memiliki alamat pulang. Dalam kesunyian yang panjang itulah, namanya perlahan menyatu dengan bukit, seakan alam ikut menanggung luka yang ia pendam.

Dua kisah lainnya mengalir lebih ganjil, namun justru di situlah daya magisnya. La Mando bertemu seorang gadis jelita, begitu indah hingga sulit dipercaya ia sepenuhnya manusia.

Ia adalah jelmaan siluman buaya, kata cerita. Namun cinta, seperti biasa, tak pernah peduli pada batas. La Mando membangun gubuk di atas bukit, dan di sanalah ia menjalani hari-hari dalam jalinan kasih yang melampaui dunia yang kasatmata.

Tetapi cinta yang melampaui batas, sering kali juga melampaui ketahanan manusia untuk menanggungnya. Kisah itu pun berakhir tragis, seperti banyak kisah lain yang terlalu indah untuk bertahan lama.

Dan setiap kali mengingatnya, terngiang celetukan Zhu Bajie dalam serial Kera Sakti: 'Beginilah cinta, deritanya tiada pernah berakhir.' Sebuah kalimat sederhana, tetapi terasa seperti ringkasan dari seluruh kisah manusia sejak mula.

Mungkin karena itu pula, Bukit La Mando tak pernah benar-benar sepi. Orang-orang datang, sebagian untuk melihat keindahan, sebagian lain mungkin tanpa sadar sedang mencari makna.

Sebab ada tempat-tempat tertentu di dunia ini yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga mengetuk sesuatu yang lebih dalam di dalam diri kita.

Tak jarang sahabat-sahabat bertanya, 'Pak Izzat, siapa sebenarnya La Mando?' Dan aku selalu kembali pada kisah-kisah itu. Bukan karena itu jawaban yang pasti, tetapi karena barangkali memang begitulah cara sebuah nama ingin dikenang: melalui cerita, bukan kepastian.

Setiap kali perjalanan membawaku ke Lapandewa, aku hampir selalu memilih jalur Rongi, Desa Sandang-Pangan. Jalan itu mempertemukanku kembali dengan Bukit La Mando, dari kejauhan ia tampak tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Namun justru di situlah letak misterinya: alam selalu tampak damai, sementara manusia di dalamnya bergolak.

Aku sering berhenti sejenak. Bukan sekadar untuk mengambil gambar, tetapi untuk memberi ruang bagi ingatan dan perasaan berjalan lebih pelan. Ada sesuatu di sana, entah kenangan, entah kesadaran, yang membuat perjalanan terasa lebih dari sekadar berpindah tempat.

Jalur ini, entah mengapa, terasa lebih dekat. Bukan hanya secara jarak, tetapi juga secara batin. Seolah-olah, setiap kali melintasinya, aku tidak sedang menuju Lapandewa, melainkan sedang menyusuri kembali jejak sebuah kisah lama, tentang cinta, kehilangan, dan cara manusia berdamai dengan keduanya.

Oleh: La Ode Mu'jizat

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....