Buton dan Desa Digital: Gugatan Diam terhadap Ketimpangan Pembangunan

  • 11 Jul 2025 17:00 WIB
  •  Baubau

KBRN, Baubau: Desa dan Peradaban untuk masyarakat Kepton bukanlah sekadar bagian dari sejarah yang usang. Mereka adalah benang emas yang dahulu menjadi aktor utama melahirkan dan menyatukan Kesultanan Buton.

Yang dalam perjalanannya telah melahirkan peradaban tinggi seperti; sistem konstitusi tertulis yang ditetapkan tahun 1610 yang dikenal dengan nama Undang-undang Martabat Tujuh, yang merupakan Konstitusi Sufi Pertama di Nusantara yang Mengejawantahkan Tauhid dalam sistem Tata Negaranya dan menjunjung hak asasi manusia sebagai fondasi utamanya.

Karena itu tidak mengherankan “Falsafah Binci-binciki kuli” yang bermakna “Cubit kulit sendiri untuk merasakan sakit orang lain” sampai hari ini masih tetap dipraktekan oleh masyarakat Kepulauan Buton. Sejarah mencatat ketika didirikan di tahun 1330 masehi Kerajaan Buton dibangun berdasarkan falsafah binci-binciki kuli.

Dari Manuskrip yang ada kesultanan Buton juga sudah dikenal sebagai entitas negara yang telah memainkan peran penting poros maritim perdagang rempa-rempah di Nusantara, Sebab letak geografi Kesultanan buton berada di chokepoint jalur maritim yang menghubungkan antara barat dan timur Nusantara.

Kini, diera digital, peluang desa untuk kembali menjadi aktor utama membangun kekuatan bangsa sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi baru sangat besar, dan pintu masuknya melalui transformasi desa digital. Gagasan dan program tersebut telah dikemukakan oleh Profesor La Ode Masihu Kamaluddin, di acara Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh lembaga IBI Universitas Muslim Buton 14 juni 2025.

Karena itu beliau berharap agar Kepton berani mengambil peran sebagai lokomotif untuk mulai membangun peradaban desa digital. Sayang sekali jika itu terlewatkan, sebab beliau merupakan salah seorang Tim Pakar Presiden Probowo, yang salah satu program ungulan Presiden adalah membangun Indonesia dari desa. Dan beliau sebagai putra Buton kita patut berbangga.

Akademisi Universitas Muslim Buton, La Ode Muhammad Alfian Zaadi,. M.I.Kom. (Foto: Alfian)

Membangun Desa Digital sebagai Katalisator Kemajuan Kepton

Desa digital bisa menjadi solusi atas banyaknya hambatan distribusi seperti nelayan dan petani yang kesulitan untuk mendapatkan akses pasar. Pengunaan digital akan menjadi solusi cerdas, contoh yang dicoba adalah program e-Fisher yang telah bekerjasama dengan KKP ditahun 2023-2025, membuktikan bahwa digital telah berdampak bagi nelayan secara langsung untuk mendapatkan akses pasar.

Seperti yang sudah dicoba pada: e-Fisher di Kendari yang telah mampu memangkas rantai pasok sampai 15%, sehingga memungkinkan nelayan untuk menjual hasil tangkapannya secara langsung melalui aplikasi dengan harga yang lebih tinggi. Namun desain tersebut tanpa dukungan semua pihak akan sulit berkembang. Untuk itu Pemerintah daerah patut mendorong Teknologi digital desa, karena secara langsung dapat mengubah desa dari berbagai aspek kehidupannya, mulai dari ekonomi hingga sosial politik. Beberapa perubahan nyata yang akan terjadi apabilah digitalisasi desa berjalan konsisten adalah:

Ekonomi Desa yang Lebih Efisien:

Pada pertanian digital: Dengan teknologi IoT dan precision farming, petani dapat mengontrol irigasi, memantau kesehatan tanaman, dan mengoptimalkan hasil panen melalui aplikasi smartphone; dampaknya pada Produktivitas yang meningkat dan biaya operasional yang bisa ditekan. Pada E-commerce UMKM: Pedagang desa biasanya hanya bergantung pada pasar lokal. Dengan digital, mereka bisa menjual produk melalui platform digital dan mereka juga dapat terlibat langsung dalam jaringan distribusi Suplai and Dimand.

Akses Pendidikan dan Kesehatan yang Lebih Baik

Pembelajaran online: Anak-anak didesa akan banyak mendapatkan akses materi belajar dari guru di berbagai kota melalui platform edukasi digital, sehingga mengurangi kesenjangan pendidikan. Dari sisi Telemedisin: Warga desa tak perlu lagi menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan konsultasi medis. Dengan telemedicine, mereka bisa mendapatkan layanan kesehatan langsung dari dokter melalui video call.

Penguatan Infrastruktur dan Pemerintahan Desa

Sistem administrasi berbasis digital: Dengan e-Government, warga dapat mengurus dokumen seperti KTP atau sertifikat tanah tanpa harus datang ke kantor desa, sehingga menghemat waktu dan tenaga. Selain itu Smart Village: Desa bisa menggunakan sensor dan AI untuk mengatur pencahayaan jalan, sistem keamanan berbasis kamera CCTV, atau bahkan pengelolaan sampah otomatis.


Distribusi dan Logistik yang Lebih Lancar

Marketplace hasil bumi: Nelayan dan petani kini bisa menjual langsung produk mereka melalui aplikasi dan salah satu contoh yang suda dicoba adalah e-Fisher atau e-Tani, dimana mereka tanpa harus bergantung pada tengkulak. Pada Bidang Transportasi berbasis aplikasi: Penggunaan ride-sharing atau drone delivery sangat membantu distribusi barang yang jauh lebih cepat ke desa-desa terpencil.

Karena itu digitalisasi sejatinya bukan hanya soal kemajuan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana mempermudah hidup masyarakat desa dengan akses yang lebih luas; ke ekonomi, pendidikan, dan layanan publik. Kepton bisa memanfaatkan revolusi ini untuk menjadi pusat pertumbuhan baru!

Langkah Konkret yang diharapkan dari Pemerintah

Agar visi ini dapat terwujud, dukungan kebijakan dan implementasi nyata harus dilakukan: Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota harus berkolaborasi: mengalokasikan 20% APBDnya untuk pengembangan SDM desa digital. Dan balai Desa 4.0 harus menjadi pusat pelatihan AI dan blockchain kepada Masyarakat desa.

Provinsi: Bangun Maritime Digital Corridor, jaringan strategis yang menghubungkan sentra pangan, wisata, dan potensi SDA Kepton agar ekonomi desa makin terhubung satu dengan lainnya. Pemerintah nasional sudah sepatutnya meRevitalisasi UU Desa dan memberikan insentif pajak untuk industri agar investor mau berinvestasi terhadap potensi Desa dan Daerah.

Karena itu Kepton harus lebih gigih lagi memanfaatkan Kebijakan Pemerintah untuk memaksimalkan neraca ruang atas potensi yang dimiliki seperti; Aspal, Oil, Pangan dan Kemaritiman sehingga ekosistim pertumbuhan dapat saling menunjang dan ujungnya mendorong pusat ekonomi sirkular didesa.

Provinsi Kepton bukanlah sekadar mimpi, tapi cetak biru yang harus direalisasikan. Desa-desa bukanlah peninggalan masa lalu, mereka adalah masa depan kemajuan yang tertunda, mereka telah menunggu lama untuk mendapatkan sentuhan digital agar kembali menjadi aktor utama peradaban dan pertumbuhan produktifitas ekonomi. Desa adalah pusat peradaban baru yang siap bangkit. Jangan biarkan benang emas ini terputus dan terabaikan kembali.!

Penulis:

La Ode Muhammad Alfian Zaadi,.M.I.Kom.

Akademisi Universitas Muslim Buton.

Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum.

Pemerhati Sumberdaya Alam dan Potensi Kepton

(Salah satu Inisiator ’’ Barisan Akademisi Kepton’’)

Email fianlaode@gmail.com

HP: 081231964117

Rekomendasi Berita