KBRN, Baubau: Cinta yang Penuh untuk Keluarga (Belajar dari Kisah Nabi Ibrahim a.s dalam membangun Keluarga)
Hari ini, memasuki hari kedua perayaan Hari Raya Idul Adha 1446 H. Saya mencoba duduk merenung, menggali hikmah dari mata air keteladanan. Sebuah perjalanan seorang Nabi, yang notabene manusia biasa yang sisi kemanusiaannya ikut merasakan perjuangan, kesedihan, dalam membina keluarga.
Dengan iman yang dimilikinya, ia mendapat kesitimewaan menjadi hamba pilihan Allah SWT. dialah Nabi Ibrahim a.s
Merenungi perjalanan Nabi Ibrahim a.s dalam Perjuangan menjadi Bapak Para Nabi serta keteladanannya pada aspek Pembangunan Keluarga.
Saya mencoba mencatat beberapa sisi untuk menjadi hikmah bagi orang-orang yang beriman agar tidak takut melangkah, optimis berjuang, berani melalui rintangan seberat apa pun demi keluarga. Dengan catatan, tetap dalam iman, tetap dalam rangka taat kepada Allah SWT.
Beberapa hikmah yang saya ramu dalam 9 poin inspirasi keteladanan antara lain:
1. Nabi Ibrahim a.s. lahir dari Ayah yang tidak sama aqidahnya. Ayahnya menyembah Berhala. Nabi Ibrahim tetap santun dalam membangun komunikasi dengan memanggil ayahnya 'Ya Abati= wahai ayahku sayang'.
2. Karena keimanannya, Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup, tetapi Allah SWT memberikan Mu'jizat "Wahai Api Menjadi dinginlah engkau untuk keselamatan Ibrahim".
3. Pernikahan pertama, dengan Ibunda Sarah, lama tidak mempunyai anak. Pernikahan kedua, dengan Ibunda Hajar, barulah memiliki putra, dialah Nabi Ismail. Tetapi setelah itu, akhirnya isteri pertama juga mengandung dan melahirkan Ishaq.
4. Nabi Ibrahim sangat jarang bertemu Ismail, karena perintah Allah dibawalah isteri dan anaknya itu ke lembah yang seolah tak ada kehidupan. Di Padang pasir yang tandus, tidak ada air. Tanpa banyak bicara, sang isteri bertanya kepada suaminya (Nabi Ibrahim) apakah ini perintah Allah? Lalu menjadi jejak munculnya air zam-zam dari hentakan kecil kaki bayi Ismail.
5. Meskipun Nabi Ibrahim, jarang bertemu Nabi Ismail, ibunyalah yang mendekatkan hubungan batin ayah dan anak ini. Ibunya selalu bercerita tentang kebaikan sang ayah. Buahnya adalah Nabi Ismail sangat taat pada ayahnya. Puncaknya adalah pada saat turun perintah penyembelihan. AllahuAkbar. AllahuAkbar. AllahuAkbar.
6. Pada saat Nabi Ibrahim, berkunjung menemui anaknya Nabi Ismail, ia mendapati isterinya yang banyak mengeluh, hingga akhirnya lewat bahasa kiasan, ia berpesan pada isteri anaknya itu "kalau Ismail pulang, sampaikan pesanku ganti palang pintumu. Artinya ceraikan isterimu tentu Nabi Ibrahim melihat dengan mata batin yang jernih, bahwa jika anaknya bertahan dengan pernikahan itu, kelak anaknya tidak akan bahagia. Mengingat tugas para Nabi sangat berat, maka harus ditunjang oleh kehadiran wanita Sholehah yang pandai menjaga kehormatan keluarga.
7. Nabi Ibrahim mendidik anak-anaknya dengan Iman. Bekerjasama dalam membangun Ka'bah yang kini menjadi tempat paling suci di muka bumi, dikunjungi oleh manusia dari berbagai belahan dunia.
8. Pada Nabi Ibrahim kita belajar taqwa kepada Allah SWT. Merenung kembali, bertanya pada diri, pengorbanan apa yang sudah kita lakukan? Untuk melindungi keluarga dari kehancuran di tengah maraknya mavia kejahatan serta gempuran ajakan ke jalan yang buruk dengan dukungan kekuatan dan dana yang besar? Sekuat apa kita berjuang untuk memenangkan keutuhan keluarga??
9. Panduan sebagai muslim adalah contoh teladan yang pernah berlaku dan akan tetap abadi sepanjang zaman, kisah Nabi Ibrahim a.s cukuplah menjadi bekal untuk mengarungi kehidupan rumah tangga.
Demikianlah catatan hati, merenungi perjalanan Bapak Para Nabi, Nabi Ibrahim a.s beserta keluarganya dalam meneguhkan janji suci bahagia di dunia dan di akhirat nanti. Kisah yang saya rangkum dari perjalanan membaca kitab suci Al-Qur'an.

Oleh: Ainun Zaujah, S.Sos.,M.Si
ASN P3K Kementerian Agama Kota Baubau, Konselor Keluarga BP4 & YMPAI.