Inovasi Pangan Bulu Babi Atasi Stunting di Tambang Kolaka

  • 12 Des 2025 10:49 WIB
  •  Baubau

KBRN, Kolaka: Di tengah deru aktivitas industri tambang yang mendominasi Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, sebuah terobosan akademis hadir membawa harapan baru bagi masa depan generasi pesisir. Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka melaksanakan Program Kolaborasi Sosial Membangun Bangsa (Kosabangsa) 2025, sebuah inisiatif yang menyatukan kearifan lokal dengan sains mutakhir untuk melawan momok stunting.

Didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdikristek sebesar Rp260,1 juta, program Kosabangsa ini berfokus di Desa Muara Lapao-Pao, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka sebuah wilayah yang membutuhkan perhatian ekstra dalam isu ketahanan pangan dan gizi balita.

Inti dari inovasi Kosabangsa tahun ini adalah pemanfaatan bulu babi, sumber daya laut yang melimpah, sebagai pangan lokal bernilai gizi tinggi. Tim USN Kolaka berhasil mengubah biota berduri ini menjadi "Kukis Bulu Babi".

Produk olahan ini dirancang sebagai additional food kaya protein dan mineral esensial—nutrisi krusial untuk percepatan pertumbuhan balita. “Inovasi yang dikembangkan ini didorong agar balik fungsi sepenuhnya oleh masyarakat, tetapi juga dapat dioperasikan dan dilestarikan secara mandiri,”ujar Dr. Roslina, S.S., M.Hum, salah satu motor penggerak program dari USN Kolaka.

Ia mengatakan, keunikan program ini tak berhenti pada inovasi kuliner. Kukis Bulu Babi diintegrasikan dengan pendekatan Neurolearning, sebuah metode pembelajaran berbasis stimulasi kognitif untuk mendukung optimalisasi perkembangan otak anak.

Roslina menjelaskan, kombinasi strategis antara nutrisi tinggi dari laut dan stimulasi neurokognitif ini melahirkan sebuah model penanganan stunting yang gigih keakseleratif. Ini adalah formula ganda yakni mengatasi aspek pemenuhan gizi sekaligus merangsang perkembangan mental dan kognitif balita secara simultan.

Program yang berlangsung dari September hingga Desember 2025 ini melibatkan tim inti dari USN Kolaka yakni Dr. Roslina, S.S., M.Hum, Dr. Syarifuddin Tundreng, M.Pd, dan Ns. Rosani Naim, S.Kep, serta didukung lima mahasiswa keperawatan USN Kolaka.

Intervensi ini diperkuat dengan pendampingan langsung kepada kader posyandu dan masyarakat, mencakup pelatihan pengolahan pangan lokal, penerapan teknologi sederhana, hingga teknik pemantauan perkembangan anak menggunakan Neurolearning.

Tak hanya itu, Program Kosabangsa juga mendapat dukungan penuh dari tim pendamping Universitas Halu Oleo (UHO), yang diwakili oleh para pakar seperti Prof. Dr. Wa Ode Salma, S.ST., M.Kes, Dr. Nana Sumarna, M.Kes, Dr. Syawal Kamiluddin Saptaputra, S.KM.,M.Sc dan Syefira Salsabila, S.Gz.,M.KM, menjamin validitas kesehatan dan transfer teknologi berbasis masyarakat pesisir.

Kehadiran Program Kosabangsa disambut antusias oleh warga Muara Lapao-Pao. Mereka menilai inovasi ini sangat relevan, terutama dalam menghadapi tantangan pemenuhan gizi di tengah lingkungan industri pertambangan.

Roslina mengatakan, program ini tidak hanya sekadar mengatasi stunting, tetapi juga membuka jalan bagi perluasan pemberdayaan ekonomi perempuan dan kader posyandu melalui produksi pangan sehat berbasis hasil laut. "Ini adalah perwujudan nyata peran perguruan tinggi dalam memberikan solusi holistik,"tuturnya.

Ia berharap, model intervensi stunting berbasis pangan lokal dan Neurolearning yang diterapkan di Kolaka ini dapat menjadi blueprint yang efektif dan dapat direplikasi di desa-desa pesisir lain di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....