Makam Bupati Buton Kedua Dipindahkan ke Pemakaman Keluarga

  • 30 Mei 2026 19:49 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Makam Bupati Buton kedua, Drs. Moh. Kasim, dipindahkan dari pemakaman Islam di Kelurahan Bataraguru ke pemakaman keluarga di Kelurahan Wajo, Sabtu, 30 Mei 2026. Pemindahan dilakukan sesuai keinginan keluarga dengan dihadiri jajaran Pemerintah Kota Baubau dan tokoh masyarakat.

Sebelum diantarkan ke lokasi pemakaman baru, digelar prosesi penyerahan almarhum dari Pemerintah Kota Baubau kepada pihak keluarga. Setelah itu, dilakukan penghormatan bersama oleh jajaran Pemkot, keluarga, dan tamu undangan. Usai prosesi penghormatan, keranda almarhum diangkat personel Satpol PP menuju pemakaman keluarga di Kelurahan Wajo.

Mewakili Wali Kota Baubau, hadir Wakil Wali Kota Baubau Wa Ode Hamsinah Bolu. Turut hadir Ketua TP PKK Kota Baubau Hj. Sitti Aryati, Sekda Kota Baubau, La Ode Darus Salam, para Asisten, serta sejumlah kepala OPD hingga ke lokasi pemakaman.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Baubau Wa Ode Hamsinah Bolu menyebut Drs. Moh. Kasim sebagai tokoh penting pada masa awal pembentukan Provinsi Sulawesi Tenggara dan sosok yang berjasa bagi masyarakat Buton dan khususnya Kota Baubau.

“Beliau adalah tokoh yang utama di masa awal pembentukan Provinsi Sulawesi Tenggara. Menjadi wakil kita, salah satu dari tokoh terpenting yang mewakili masyarakat Buton di masa-masa awal pemerintah Sulawesi Tenggara,”kata Wa Ode Hamsinah Bolu.

Menurutnya, almarhum merupakan figur pemimpin yang memiliki kapasitas luar biasa di usia muda. Moh. Kasim disebut telah menjadi Bupati Buton pada usia 35 tahun.

Wakil Wali Kota menilai, kepemimpinan generasi terdahulu terbentuk dari perpaduan adat, budaya, dan agama yang kuat sehingga melahirkan sosok pemimpin matang dan berprestasi.

“35 tahun sudah mampu menjadi pemimpin Buton, Kabupaten Buton saat itu. Dan bukan karena alasan yang lain-lain, tetapi memang karena prestasi yang tidak hanya teruji di tanah Buton, tetapi juga hingga ke Makassar, hingga ke Yogyakarta,” katanya.

Wa Ode Hamsinah juga mengajak generasi muda Buton menjadikan sosok Moh. Kasim sebagai teladan dalam membangun daerah. “Kita jadikan ini beliau sebagai tauladan. Mari kita petik nilai-nilai baik yang sangat syarat di dalam usia beliau yang singkat,”ujarnya.

Sementara itu, perwakilan keluarga Moh. Abduh mengatakan, semangat pembangunan sumber daya manusia menjadi salah satu warisan penting yang ditinggalkan almarhum selama memimpin Buton.

“Semangat beliau dalam membangun Kota Baubau itu salah satu pilar yang diutamakan adalah pembangunan sumber daya manusia. Di masa itu sulit sekali untuk mengembangkan SDM karena keterbatasan baik dosen, tenaga pengajar maupun sarana-prasarana,”kata Moh. Abduh.

Menurutnya, di tengah keterbatasan tersebut, Moh. Kasim tetap berupaya membangun fondasi pendidikan. Salah satunya melalui pendirian Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) pada awal 1960-an.

“Beliau tetap bertekad dengan ditunjukkan pernah didirikannya Unsultra di zamannya beliau, dan itu di awal tahun 60-an,”ujarnya.

Moh. Abduh juga mengenang almarhum sebagai sosok cerdas dengan kemampuan bahasa yang sangat baik. Selain menguasai berbagai bahasa daerah di Buton, Moh. Kasim juga fasih berbahasa asing.

“Bahasa daerah bukan cuma bahasa Buton, bahasa Cia-Cia, bahasa Pancana itu dikuasai semua oleh beliau. Selain itu bahasa asing, bahasa Inggris, bahasa Jepang dikuasai dengan sangat baik,”katanya.

Riwayat hidup Drs. Moh. Kasim

Drs. Moh. Kasim lahir dengan nama Mohammad Kasim di Buton pada 16 Juni 1929. Ia merupakan putra pasangan H. Abdur Rahman dan Wa Iyza. Sejak kecil, Moh. Kasim dikenal memiliki minat besar terhadap pendidikan dan menunjukkan kemampuan intelektual yang menonjol.

Berbekal tekad kuat untuk maju, Moh. Kasim menjadi salah satu putra Buton pertama yang berhasil menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sekitar tahun 1950-an. Pencapaian itu terbilang langka pada masanya, terlebih ia berasal dari daerah yang masih memiliki keterbatasan akses pendidikan.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Moh. Kasim mengabdikan diri di dunia akademik. Ia tercatat pernah menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Makassar, termasuk Universitas Veteran Makassar pada sekitar 1960-an. Selain dikenal cerdas, almarhum juga menguasai sejumlah bahasa asing seperti Inggris, Jepang, dan Belanda.

Kemampuan intelektual dan penguasaan bahasa membuat Moh. Kasim dipercaya pemerintah pusat menjadi delegasi Indonesia dalam misi studi penataan kota ke Amerika Serikat pada 1963. Penunjukan tersebut menjadi salah satu bukti kapasitasnya di tingkat nasional.

Pada 1964, Moh. Kasim dilantik menjadi Bupati Buton kedua menggantikan La Ode Abd. Halim yang menjabat pada periode 1960–1964. Di usia yang masih relatif muda, sekitar 35 tahun, ia dipercaya memimpin Kabupaten Buton pada masa transisi penting pemerintahan modern pasca-kesultanan.

Sebagai Bupati, Moh. Kasim menghadapi tantangan besar, mulai dari membangun tata kelola pemerintahan modern, menjaga harmoni sosial masyarakat, hingga menyesuaikan kebijakan nasional dengan kondisi sosial budaya masyarakat Buton saat itu. Di tengah berbagai keterbatasan, ia dikenal memberi perhatian besar pada pembangunan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan.

Dalam kehidupan keluarga, Moh. Kasim menikah dengan Ainun Djariah. Pasangan ini dikaruniai lima orang anak, yakni Dewi Sri Putri Yanthi, Erni Kasim, Erawati Kasim, Muh. Arfan Kasim, dan Siti Sabaria Kasim.

Moh. Kasim wafat pada 8 Agustus 1969. Meski perjalanan hidupnya tidak lepas dari ujian berat pada masanya, namanya tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting Buton yang meletakkan fondasi kepemimpinan dan pembangunan daerah, khususnya pada bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....