Wamenag: Indonesia Rukun Sejak Dulu, Harus Terus Dirawat

  • 08 Feb 2026 19:24 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau -  Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menyampaikan bahwa kerukunan umat beragama di Indonesia bukan sekadar warisan sejarah, melainkan ikhtiar bersama yang terus dirawat dari generasi ke generasi.

Dilansir dari Portal Kemenag.go.id.Hal ini disampaikan Wamenag saat memberikan sambutan pada Perayaan World Interfaith Harmony Week & International Day of Human Fraternity di Gedung DPD RI, Jakarta.  

Menurut Romo Syafi'i, sejak awal kemerdekaan Indonesia telah hidup dalam keberagaman agama, budaya, dan suku bangsa. Namun, kerukunan tersebut tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang hadir dengan sendirinya, melainkan perlu terus dikonstruksi dan dihidupkan melalui berbagai upaya nyata.

“Hari ini kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kerukunan yang sesungguhnya itu sudah berlangsung sejak kita merdeka. Tapi kerukunan itu bukan sesuatu yang otomatis, melainkan harus terus diikhtiarkan dan dirawat bersama,” ujar Romo di Jakarta, Minggu 8 Februari 2026.

Romo menambahkan, kegiatan lintas agama seperti perayaan ini menjadi ruang penting untuk menegaskan kembali jati diri bangsa Indonesia yang berlandaskan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Melalui momentum tersebut, Indonesia ingin mempersembahkan pesan damai kepada dunia di tengah situasi global yang sarat konflik dan perpecahan.

“Beginilah seharusnya kehidupan warga negara yang majemuk. Indonesia telah membuktikan bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan,” ujarnya.

Romo juga menegaskan komitmen Kementerian Agama dalam menjaga dan memperkuat kerukunan umat beragama. Ia menyebutkan, Kemenag memiliki Badan Moderasi Beragama serta Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) yang secara aktif mendukung berbagai inisiatif dialog dan kerja sama lintas iman.

“Kami di Kementerian Agama tentu memberikan dukungan penuh. Karena itu, kami benar-benar gembira acara seperti ini bisa terus dilaksanakan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menyampaikan bahwa Indonesia patut bersyukur dipercaya kembali menjadi tuan rumah pertemuan tokoh-tokoh lintas agama, baik nasional maupun global. Menurutnya, forum ini membawa pesan kuat bahwa Indonesia mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman yang luar biasa.

“Pesan hari ini kepada dunia adalah dari Indonesia untuk dunia. Bahwa di tengah kemajemukan, kita bisa menjaga soliditas dan harmoni,” ucap Sultan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menambahkan, perayaan ini juga menjadi bagian dari dua agenda resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni World Interfaith Harmony Week dan International Day of Human Fraternity. Ia menekankan bahwa persaudaraan kemanusiaan harus terus dirawat dan tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang sudah pasti terwujud.

“Walaupun Indonesia diakui dunia sebagai negara majemuk dengan Pancasila, kerukunan itu tidak boleh dipandang taken for granted. Ia harus terus dirawat. Inilah salah satu ikhtiarnya,” ujarnya.

Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh agama, perwakilan organisasi keagamaan, serta ratusan peserta lintas iman. Momentum ini menjadi penegasan bahwa kerukunan umat beragama di Indonesia bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan hasil ikhtiar bersama yang terus dijaga demi masa depan bangsa dan perdamaian dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....