Bupati Buton Tengah Buka Pertunjukan Budaya Kamomose
- 12 Apr 2025 10:30 WIB
- Baubau
KBRN, Buton Tengah: Bupati Buton Tengah, Azhari, secara resmi membuka pertunjukan budaya Kamomose yang memukau di pelataran Gedung Kesenian Lakudo, Kecamatan Lakudo, pada Selasa (8/4/2025) malam. Suasana malam menambah kehangatan acara yang menampilkan tradisi unik masyarakat Gu, Lakudo, tersebut.
Kamomose, sebuah warisan budaya luhur yang digelar pada malam hari, memiliki makna filosofis mendalam terkait proses perkenalan sosial antara remaja putri dan pemuda. Pertunjukan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat dan para tamu undangan.
Dalam sambutannya, Bupati Azhari menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya pertunjukan budaya Kamomose. Dirinya menekankan pentingnya pelestarian nilai-nilai adat dan budaya lokal sebagai fondasi identitas daerah.
“Tradisi Kamomose ini sangat unik dan perlu terus dilestarikan. Ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan bagian tak terpisahkan dari sejarah dan jati diri masyarakat Buton Tengah, khususnya di Lakudo,”ujar Bupati Azhari dengan penuh semangat.
Lebih lanjut, Bupati juga menyinggung rencana strategis pembangunan kawasan perkotaan baru di Wasempe. Langkah ini, menurutnya, merupakan wujud perhatian pemerintah daerah terhadap Lakudo sebagai ibu kota Kabupaten Buton Tengah.
“Saat ini, kawasan Wasempe menjadi lokasi pembangunan rumah jabatan Bupati Buton Tengah. Ke depan, insya Allah akan dibangun pula rumah jabatan Wakil Bupati, pimpinan DPRD, dan Sekretaris Daerah,”jelas Bupati, memberikan angin segar bagi perkembangan infrastruktur di Lakudo.
Kemeriahan pertunjukan budaya Kamomose dimulai dengan Tari Linda yang rancak, diiringi alunan tabuhan gong dan gendang yang khas. Sorotan mata tertuju pada para Kamose—gadis remaja yang telah menyelesaikan masa pingitan—duduk anggun berjejer di buete, sebuah tempat khusus yang didampingi oleh bhisa, tetua adat perempuan yang penuh kearifan.
Tradisi ini bukan hanya menjadi momen pengenalan para gadis kepada khalayak ramai, tetapi juga seringkali menjadi wadah bagi para pemuda atau keluarga yang tertarik untuk menyampaikan hadiah atau fopanga, sebagai simbol ketertarikan yang berpotensi berlanjut ke jenjang yang lebih serius.
Dalam catatan sejarah, tradisi Kamomose dulunya hanya ditampilkan pada saat pesta adat Kahiya’a. Namun, kini pertunjukan ini menjadi salah satu simbol penting dalam siklus kehidupan masyarakat adat Gu, yang merefleksikan nilai-nilai sosial dan budaya yang dijunjung tinggi.
Acara tersebut berlangsung khidmat dan penuh makna, dihadiri oleh para tokoh adat yang dihormati, jajaran pejabat daerah, serta masyarakat setempat yang antusias menyaksikan kekayaan budaya leluhur mereka. Pertunjukan budaya Kamomose menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan mewariskan tradisi kepada generasi mendatang, sejalan dengan visi pembangunan Buton Tengah yang berlandaskan pada kearifan lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....