Aturan Penggunaan Pengeras Suara Masjid

  • 10 Mar 2026 17:44 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala menjadi perhatian dalam menjaga keseimbangan antara syiar keagamaan dan kenyamanan masyarakat. Aturan ini mengatur jenis, volume, serta waktu penggunaan pengeras suara agar tetap tertib dan tidak menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitar.

Melansir Kemenag.go.id, Selasa 10 Maret 2026, dalam ketentuan umum dijelaskan bahwa pengeras suara di masjid dan musala terbagi menjadi dua jenis, yakni pengeras suara luar yang diarahkan ke luar ruangan dan pengeras suara dalam yang diarahkan ke dalam ruangan. Penggunaan volume suara juga diatur agar sesuai kebutuhan dengan batas maksimal 100 desibel. Selain itu, kualitas suara yang dipancarkan harus baik, tidak sumbang, serta pelafalan yang jelas agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik.

Penggunaan pengeras suara juga diatur berdasarkan waktu pelaksanaan salat. Pada waktu Subuh, sebelum azan diperbolehkan melakukan pembacaan Al-Qur’an atau selawat menggunakan pengeras suara luar dengan durasi paling lama 10 menit. Saat azan dikumandangkan menggunakan pengeras suara luar, sedangkan setelah azan seperti pelaksanaan salat Subuh, zikir, doa, hingga kuliah subuh menggunakan pengeras suara dalam.

Sementara itu pada waktu Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, pembacaan Al-Qur’an atau selawat sebelum azan diperbolehkan menggunakan pengeras suara luar dengan durasi maksimal lima menit. Saat azan tetap menggunakan pengeras suara luar, sedangkan kegiatan setelah azan seperti salat fardu, zikir, doa, dan ceramah menggunakan pengeras suara dalam.

Pada pelaksanaan Salat Jumat, pembacaan Al-Qur’an atau selawat sebelum azan diperbolehkan menggunakan pengeras suara luar paling lama 10 menit. Sedangkan azan, pengumuman petugas, penyampaian hasil infak, khutbah, hingga doa menggunakan pengeras suara dalam.

Pedoman ini juga mengatur penggunaan pengeras suara pada kegiatan syiar Ramadan dan hari besar Islam. Selama Ramadan, kegiatan seperti salat tarawih, ceramah atau kajian Ramadan, serta tadarus Al-Qur’an menggunakan pengeras suara dalam.

Untuk gema takbir pada Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, penggunaan pengeras suara luar diperbolehkan hingga pukul 22.00 waktu setempat. Setelah waktu tersebut, kegiatan takbir dianjurkan menggunakan pengeras suara dalam.

Sementara itu pada kegiatan peringatan hari besar Islam (PHBI), penggunaan pengeras suara dilakukan di dalam masjid. Namun jika jumlah jemaah melimpah hingga ke luar area masjid, maka penggunaan pengeras suara luar diperbolehkan.

Pedoman ini diterbitkan bukan untuk melarang penggunaan pengeras suara di masjid dan musala. Aturan tersebut bertujuan untuk mengatur penggunaannya agar syiar Islam tetap berjalan dengan baik, sekaligus menjaga harmoni, ketenteraman, dan kenyamanan masyarakat yang hidup dalam keberagaman.

Rekomendasi Berita