Kurang Tidur Bisa Picu Tantrum pada Balita, Kenali Tandanya
- 03 Okt 2026 06:56 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau - Kurang tidur dapat menjadi salah satu faktor yang membuat balita lebih mudah mengalami tantrum. Kementerian Kesehatan melalui laman Ayo Sehat menjelaskan, kelelahan dapat membuat anak lebih sulit mengelola emosi sehingga lebih mudah frustrasi, impulsif, dan kewalahan menghadapi perubahan atau stimulasi kecil.
Melansir Kementerian Kesehatan pada Jumat 2 Oktober 2026, tantrum merupakan bagian normal dari perkembangan balita karena anak masih belajar mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosinya. Namun, kurang tidur dapat memperburuk kondisi tersebut karena kemampuan anak dalam menghadapi frustrasi menjadi lebih terbatas.
Tidak semua tantrum disebabkan oleh kurang tidur. Namun, beberapa pola berikut dapat menjadi petunjuk bahwa kelelahan ikut berperan.
1. Tantrum terjadi pada waktu yang sama setiap hari
Perhatikan apakah tantrum lebih sering muncul menjelang tidur siang atau tidur malam. Ketika anak sudah lelah, toleransinya terhadap frustrasi menurun sehingga hal kecil lebih mudah memicu ledakan emosi.
2. Intensitas tantrum tidak sebanding dengan pemicunya
Biskuit patah, mainan tidak berada di tempat yang diinginkan, atau diminta memakai sepatu bisa tiba-tiba berakhir dengan tangisan besar. Bukan berarti anak "berlebihan". Saat sudah sangat lelah, kemampuan mereka untuk menghadapi kekecewaan memang dapat menurun.
3. Anak sulit ditenangkan
Ketika sudah overtired, distraksi, bujukan, atau permainan favorit yang biasanya berhasil mungkin tidak lagi membantu. Anak bisa terlihat sangat kewalahan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tenang.
4. Mood membaik drastis setelah tidur
Coba perhatikan kondisi anak setelah mendapatkan tidur siang atau tidur malam yang cukup. Jika setelah tidur anak kembali ceria, lebih kooperatif, dan lebih mudah menghadapi frustrasi, kelelahan mungkin menjadi salah satu faktor yang memperburuk tantrumnya.
Orang tua wajib memperhatikan kebutuhan tidur anak, menjaga jadwal tidur tetap konsisten, serta tidak menunggu hingga anak terlalu lelah. Rutinitas sebelum tidur yang sederhana dan konsisten juga dapat membantu memberikan sinyal kepada anak bahwa waktu istirahat telah tiba. Jika masalah tidur berlangsung terus-menerus atau disertai mendengkur keras maupun kesulitan bernapas saat tidur, orang tua dianjurkan berkonsultasi dengan dokter.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....