Pemkot Baubau Terus Jaga Status Bebas Malaria
- 25 Agt 2026 12:35 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau – Pemerintah Kota Baubau terus memperkuat upaya mempertahankan status eliminasi atau bebas malaria. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah munculnya kembali penularan malaria di daerah tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Kota Baubau, Yuslina mengatakan status eliminasi malaria yang telah diraih Kota Baubau harus terus dipertahankan. Pasalnya, daerah yang telah mencapai eliminasi tetap memiliki risiko terjadinya penularan kembali.
“Keberhasilan eliminasi ini harus terus kita pertahankan, karena daerah yang telah mencapai status eliminasi tetap memiliki risiko terjadinya penularan kembali,” kata Yuslina, Senin, 24 Agustus 2026.
Yuslina menyampaikan hal tersebut saat membuka Pelatihan Penyegaran Mikroskopis Malaria bagi tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM), hasil kerja sama Dinas Kesehatan Kota Baubau dengan Bapelkes Sultra. Kegiatan berlangsung selama tujuh hari, 24–30 Agustus 2026, di Hotel Mira Baubau.
Yuslina menjelaskan, malaria masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Secara nasional, jumlah kasus malaria meningkat dari 543.965 kasus pada 2024 menjadi 706.297 kasus pada 2025 atau naik sekitar 30 persen.
Di tengah peningkatan kasus secara nasional tersebut, sebanyak 401 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia telah mencapai status eliminasi malaria pada 2024, termasuk Kota Baubau. Kondisi ini menjadi capaian yang harus dijaga melalui penguatan sistem surveilans, diagnosis, dan kapasitas tenaga kesehatan.
Menurut Yuslina, pemerintah telah menetapkan Peta Jalan Eliminasi Malaria dan Pencegahan Penularan Kembali di Indonesia Tahun 2025–2045 sebagai acuan dalam mempertahankan status eliminasi sekaligus mencegah terjadinya penularan kembali.
Yuslina menambahkan, setiap penderita malaria klinis yang ditemukan fasilitas pelayanan kesehatan wajib menjalani pemeriksaan untuk memastikan diagnosis melalui konfirmasi laboratorium secara mikroskopis.
Sementara fasilitas kesehatan yang belum memiliki pemeriksaan mikroskopis dapat menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT).
“Langkah ini penting untuk mencegah pengobatan tanpa konfirmasi laboratorium yang berpotensi memicu resistensi obat malaria,” jelasnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Malaria (SISMAL), dari 5.628 tenaga ATLM yang tersebar di 4.426 fasilitas kesehatan pelapor pada 2021, sebanyak 4.122 tenaga belum pernah mengikuti pelatihan mikroskopis malaria. Sementara dari uji kompetensi terhadap 1.241 tenaga mikroskopis, hanya 750 orang yang memenuhi syarat.
Karena itu, peningkatan kapasitas tenaga laboratorium melalui pelatihan penyegaran dinilai penting dan perlu dilakukan secara berkesinambungan. Kompetensi petugas diharapkan mampu memperkuat ketepatan diagnosis dan mendukung penemuan kasus secara dini.
Yuslina berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan secara serius, aktif berdiskusi, serta mengasah keterampilan pemeriksaan mikroskopis secara tepat dan berkualitas. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat langsung diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan masing-masing.
“Ilmu yang diperoleh hendaknya langsung diterapkan di fasyankes masing-masing demi mendukung penemuan kasus secara dini,” ujarnya.
Pemkot Baubau menegaskan komitmennya untuk mempertahankan status eliminasi malaria melalui penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan deteksi dini. Upaya tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya penularan kembali sekaligus menjaga capaian eliminasi malaria di Kota Baubau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....