TBC di Baubau Meningkat Tiap Tahun Kecamatan Wolio Zona Tertinggi

  • 07 Apr 2026 10:30 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Kasus penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kota Baubau menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Data Dinas Kesehatan melalui bidang pengendalian penyakit mencatat, jumlah temuan kasus TBC pada tahun 2025 mencapai 684 kasus, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 583 kasus.

Peningkatan ini merupakan hasil temuan dari berbagai fasilitas kesehatan di Kota Baubau, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit dan klinik swasta.

Jika ditarik ke belakang, tren kenaikan kasus TBC sudah terlihat sejak tahun 2020. Saat itu tercatat 234 temuan kasus, kemudian naik menjadi 332 kasus pada 2021, melonjak menjadi 548 kasus di 2022, dan pada 2023 ditemukan sebanyak 533 kasus.

Berdasarkan pemetaan wilayah kecamatan sepanjang 2020 hingga 2025, kasus TBC paling banyak ditemukan di Kecamatan Wolio dengan total 681 kasus. Disusul kategori luar wilayah sebanyak 543 kasus, Batupoaro 416 kasus, Murhum 330 kasus, Kokalukuna 280 kasus, Betoambari 274 kasus, Lea-Lea 127 kasus, Sorawolio 124 kasus, dan Bungi 103 kasus.

“Kasus tertinggi kita ada di Kecamatan Wolio karena mobilisasi penduduk yang tinggi serta kondisi sanitasi yang sangat mendukung meningkatnya kasus TBC di wilayah kita,” jelas Kabid P2 Dinas Kesehatan Baubau Yuslina, Rabu 1 April 2026.

Ia menyebutkan, seluruh kasus tersebut ditemukan di 17 puskesmas, 3 rumah sakit, serta sejumlah klinik swasta di Kota Baubau. Namun demikian, rendahnya temuan kasus di beberapa wilayah tidak serta-merta mencerminkan kondisi sebenarnya.

Menurutnya, masih banyak kasus yang belum terdeteksi di masyarakat. Oleh karena itu, warga yang mengalami gejala TBC diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar dapat ditangani lebih cepat dan mencegah penyebaran lebih luas.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga mengungkap adanya kasus TBC resisten obat di Kota Baubau. Pada tahun 2025 ditemukan 13 kasus TBC resisten obat, yakni kondisi di mana pasien kebal terhadap obat standar seperti Rifampisin atau Isoniazid. Sebelumnya, pada 2024 tercatat 24 kasus, 2023 sebanyak 28 kasus, dan 2022 sebanyak 17 kasus.

“Kalau sudah bergejala TBC segera ke puskesmas, jangan tunggu sampai semakin parah dan menyebarkan ke anggota keluarga lain,” imbaunya.

Yuslina juga menegaskan pasien TBC resisten obat memiliki potensi besar menularkan bakteri yang sudah kebal terhadap obat kepada orang lain. Namun Pasien dengan TBC resisten obat tetap bisa sembuh asalkan minum obat secara teratur dengan catatan memerlukan waktu pengobatan yang jauh lebih lama dibandingkan pasien TBC biasa.

“Jika tidak ditemukan dan diobati sampai sembuh, maka akan berkontribusi terhadap penularan di masyarakat. Secara epidemiologi, satu kasus bisa menularkan kepada 1 hingga 10 orang setiap tahunnya,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....