Mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Buton Perkuat Ekosistem Film Baubau

  • 31 Jul 2026 07:04 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Buton (UM Buton) turut memperkuat ekosistem perfilman di Kota Baubau melalui produksi film pendek berbasis pembelajaran sinematografi. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari tugas akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa mengembangkan kemampuan dan pengalaman produksi film.

Penguatan ekosistem perfilman dilakukan dengan melibatkan praktisi dan rumah produksi lokal dalam proses pendampingan mahasiswa. Kolaborasi tersebut mempertemukan kemampuan akademik mahasiswa dengan pengalaman praktisi dalam produksi film di Kota Baubau.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UM Buton, Arief Fajar Maulana, mengatakan produksi film merupakan luaran dari mata kuliah Sinematografi Digital yang dilaksanakan secara rutin. Setiap karya mahasiswa selanjutnya diputar dan dikurasi sebagai bagian dari proses pembelajaran.

“Harapannya, mata kuliah ini bisa menjadi edukasi dalam film bagi masyarakat, khususnya masyarakat Kota Baubau, Buton dan Sulawesi Tenggara. Kalau bisa, film yang mereka buat ini bisa dipentaskan di tingkat nasional ataupun internasional,” ujarnya usai Screening Film Pendek produksi mahasiswa, Rabu, 29 Juli 2026.

Dosen pengampu mata kuliah Sinematografi Digital sekaligus produser dalam produksi film mahasiswa, Keton Saputra, mengatakan pembelajaran sinematografi terus dikembangkan dari tahun ke tahun. Pemutaran karya yang sebelumnya dilakukan di ruang kelas dan aula kampus, kini mulai dibawa ke ruang publik seperti kafe.

Menurutnya, tahun ini mahasiswa memproduksi tiga film dengan genre berbeda. Seluruh proses produksi dilakukan mahasiswa dengan pendampingan praktisi film lokal yang membantu pada sejumlah tahapan, mulai dari penulisan hingga produksi di lapangan.

“Mahasiswa benar-benar turun ke lapangan untuk memproduksi filmnya, tapi tetap dikawal oleh kakak-kakak yang biasa bikin film di sini,” kata Keton.

Screening Film Pendek Produksi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Buton di Baubau, Rabu, 29 Juli 2026. (Foto: RRI/Fatih)

Keterlibatan praktisi lokal, menurut Keton, menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas karya sekaligus memperkuat jejaring perfilman di Baubau. Sejumlah rumah produksi dan komunitas film lokal dilibatkan untuk memberikan mentoring kepada masing-masing kelompok mahasiswa.

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UM Buton, Abdul Nur Rajab, mengatakan kegiatan pemutaran film tidak hanya ditujukan untuk memenuhi tugas dan nilai Ujian Akhir Semester (UAS). Proses produksi menjadi kesempatan bagi mahasiswa meningkatkan kemampuan di bidang fotografi, pengambilan gambar, penyuntingan dan teknik sinematografi lainnya.

“Kegiatan screening film seperti ini, selain untuk tugas dari dosen untuk nilai UAS, merupakan bagian untuk mendorong motivasi kami sebagai anak-anak muda untuk meningkatkan kualitas kemampuan di bidang film sinematografi,” ujarnya.

Tiga film yang diproduksi mahasiswa masing-masing dari panada studio, plan plan studio dan pena studio mengangkat tema yang beragam. Salah satunya bergenre horor dengan sentuhan komedi yang menceritakan sekelompok mahasiswa yang mendapat tugas kuliah di sebuah desa dan menghadapi berbagai kejadian tidak terduga.

Film lainnya mengangkat kisah keluarga dan rumah yang menyimpan kenangan masa kecil. Sementara film berjudul Marga mengangkat persoalan hubungan yang terhambat perbedaan status dan adat, sekaligus mengajak penonton melihat persoalan tersebut secara lebih terbuka.

Suasana Screening Film Pendek Produksi Mahasiswa Ilmu Komunikasi UM Buton di Baubau, Rabu, 29 Juli 2026. (Foto: RRI/Fatih)

Praktisi film sekaligus Direktur Film ASJKG Visual Studio, Alan ASJKG menilai perkembangan produksi film mahasiswa di Baubau menunjukkan kemajuan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Alan berharap kegiatan serupa terus dikembangkan untuk membangun ekosistem perfilman yang lebih kuat di daerah.

Menurutnya, mahasiswa yang saat ini mendapatkan pengalaman produksi film memiliki peluang untuk berkembang menjadi pembuat film profesional. Karya-karya tersebut diharapkan tidak berhenti pada tugas perkuliahan, tetapi dapat diarahkan mengikuti festival film tingkat nasional maupun internasional.

Keton Saputra menambahkan, tantangan pengembangan film mahasiswa saat ini lebih banyak berkaitan dengan dukungan peralatan produksi. Menurutnya, sumber daya manusia di kalangan mahasiswa sudah cukup potensial, namun masih membutuhkan kamera, perangkat audio dan komputer penyuntingan yang lebih memadai.

Keton berharap dukungan terhadap fasilitas produksi dapat terus ditingkatkan sehingga mahasiswa mampu menghasilkan karya dengan kualitas teknis yang lebih baik. Dengan demikian, karya film mahasiswa tidak hanya menjadi tugas akademik, tetapi dapat berkembang menjadi karya yang layak dipertontonkan dan dikirim ke berbagai festival film.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....