Inovasi Debasa, Perpustakaan Waborobo Padukan Literasi dan Deteksi Stunting
- 23 Mei 2026 12:31 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau - Kelurahan Waborobo, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau menghadirkan inovasi unik dalam pengelolaan perpustakaan. Melalui Debasa atau Deteksi Dini Risiko Stunting Melalui Gemar Membaca, perpustakaan tidak hanya menjadi pusat literasi, tetapi juga sarana mendeteksi potensi stunting pada anak.
Lurah Waborobo, Hariadi, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kepedulian pemerintah terhadap masalah stunting yang menjadi program prioritas. “Melihat kondisi stunting yang menjadi perhatian pemerintah, kami berpikir perpustakaan ini bisa menjadi tempat mendeteksi warga yang berisiko stunting melalui aktivitas membaca,”ujar Hariadi, Sabtu 23 Mei 2026.
Dalam penerapannya, setiap anak yang datang ke Perpustakaan Waborobo diwajibkan menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan sebelum membaca. Hasil pengukuran kemudian disesuaikan dengan tabel kesehatan 6 SPM Posyandu.
Jika ditemukan anak berpotensi atau berisiko stunting, data langsung diintegrasikan ke puskesmas dan kader posyandu. Penanganan lanjutan dilakukan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) hingga intervensi kesehatan lain sesuai kebutuhan anak.
Debasa sendiri dalam bahasa masyarakat Labuantae, Waborobo, berarti membaca. Inovasi ini menjadi satu-satunya program perpustakaan kelurahan di Kota Baubau yang mengintegrasikan budaya membaca dengan upaya penurunan stunting.
Berkat inovasi tersebut, Perpustakaan Waborobo berhasil lolos ke tahap visitasi lapangan Lomba Perpustakaan Kelurahan dan masuk lima besar. Waborobo bersaing bersama Kelurahan Waliabuku, Kadolokatapi, Lakologou, dan Bugi.
Perpustakaan ini sudah ada sejak 2019, namun operasionalnya sempat terkendala karena belum memiliki gedung yang memadai. Setelah menjabat pada 2023, Lurah Hariadi mengaktifkan kembali perpustakaan tersebut dengan memanfaatkan bangunan yang tersedia serta menyusun ulang kepengurusannya.
Pihak Kelurahan Waborobo juga berencana membenahi fasilitas perpustakaan. Salah satunya dengan membangun rak buku secara swadaya karena lemari penyimpanan yang ada dinilai kurang memadai.
Sementara itu, Ketua tim penilai Lomba Perpustakaan Kelurahan Kota Baubau, Simson Nanlohy memberikan apresiasi terhadap kesiapan Perpustakaan Waborobo. Tim menilai lokasi perpustakaan yang terpisah dari kantor kelurahan menjadi salah satu nilai lebih.
Dari lima besar kata Simson, hanya Kelurahan Waliabuku dan Waborobo yang memiliki gedung perpustakaan terpisah dari kantor kelurahan. Kondisi ini dinilai mendukung kenyamanan masyarakat, terutama anak-anak.
"Kami berikan apresiasi, karena memang lokasi untuk perpustakaan itu harus pisah dari gedung kantor kelurahan,"ungkap Simson ditemui usai melakukan kunjungan lapangan di Perpustakaan Kelurahan Waborobo, Sabtu 23 Mei 2026.
Tim penilai juga melihat tingginya antusiasme anak-anak datang membaca. Lokasi perpustakaan yang berada dekat dengan TK, SD, SLB hingga SMP membuat perpustakaan mudah dijangkau dan aktif dikunjungi setiap hari.
Simson menyebut inovasi Debasa menjadi nilai tambah karena menghubungkan perpustakaan dengan layanan posyandu dan puskesmas. "Iya tetap masuk nilai tambah, saya kira ini inovasi yang bagus karena mengkonekan hubungan kerja mereka dengan posyandu," ujarnya.
Meski mendapat pujian, tim memberikan catatan agar koleksi literasi disesuaikan dengan mata pencaharian mayoritas masyarakat setempat. Mengingat sebagian besar warga bekerja di sektor perkebunan, perpustakaan diharapkan menyediakan lebih banyak bahan bacaan terkait pertanian
Diketahui, dari 43 kelurahan di Kota Baubau, hanya 10 kelurahan yang mendaftar lomba perpustakaan. Dari jumlah itu, enam kelurahan mengirimkan dokumen administrasi dan akhirnya diseleksi menjadi lima besar untuk tahap visitasi lapangan.
Pengumuman pemenang lomba perpustakaan kelurahan dijadwalkan dilakukan dalam waktu dekat oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Baubau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....