Kemenag Sultra Dorong Madrasah Integrasi Deep Learning dan AI
- 24 Apr 2026 22:48 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Wakatobi – Penguatan kualitas pendidikan madrasah diarahkan pada integrasi pembelajaran mendalam, nilai empati, dan adaptasi teknologi. Hal ini ditegaskan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, Mansur, saat membuka Workshop Peningkatan Kompetensi SDM dan Manajemen Madrasah di MAN 1 Wakatobi, Selasa, 21 April 2026.
Workshop tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan pendidikan madrasah dalam merespons perubahan global yang berlangsung cepat. Mansur menegaskan, pendekatan pembelajaran konvensional tidak lagi memadai untuk menjawab tuntutan zaman.
“Dunia berubah sangat cepat, bahkan lebih cepat dari kemampuan kita dalam mengajar. Karena itu, guru tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama dalam proses pembelajaran,” tegas Mansur.
Ia menjelaskan, madrasah harus mampu menjawab ekspektasi masyarakat dengan menghadirkan pembelajaran yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan nyata. Menurutnya, kurikulum tidak cukup dipahami secara tekstual, tetapi harus diimplementasikan secara kontekstual.
Dalam arah kebijakan tersebut, Mansur menekankan integrasi tiga pilar utama, yakni pendekatan Deep Learning, kurikulum berbasis cinta yang menekankan empati, serta transformasi digital melalui pemanfaatan Artificial Intelligence.
“Kita tidak hanya ingin melahirkan manusia yang pintar, tetapi juga manusia yang bijak. Intelektual saja tidak cukup, harus diimbangi dengan empati, karakter, dan kecerdasan ekologi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti potensi Wakatobi sebagai daerah dengan kekayaan budaya dan potensi pariwisata yang dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Menurutnya, madrasah harus menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai kearifan lokal sekaligus membekali peserta didik dengan keterampilan kontekstual.
Konsep deep learning, lanjutnya, tidak sekadar menambah jam belajar, tetapi menggali potensi siswa secara optimal sesuai bakat dan lingkungan. Sementara itu, kurikulum berbasis cinta menuntut pendekatan humanis dalam pembelajaran serta menghindari praktik bullying, baik verbal maupun psikologis.
“Guru harus menghadirkan kasih sayang di kelas. Jangan sampai kata-kata guru justru menjadi sumber bullying bagi siswa,” pesannya.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi, termasuk AI, dinilai menjadi kebutuhan mendesak dalam dunia pendidikan. Guru diharapkan mampu beradaptasi agar proses pembelajaran lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui workshop ini, Mansur berharap terwujud pembelajaran yang kuat secara intelektual, hangat secara emosional, serta adaptif terhadap teknologi, dengan guru sebagai penggerak utama transformasi pendidikan di madrasah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....