Wali Asuh dan Wali Asrama Ujung Tombak Pembentukan Karakter Siswa

  • 28 Sep 2026 20:36 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID,Baubau - Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono menegaskan wali asuh dan wali asrama merupakan ujung tombak dalam membangun karakter siswa Sekolah Rakyat.

Dilansir dari kemensos.go.id, pendampingan terhadap siswa perlu dilakukan dengan pendekatan yang tidak hanya formal, tetapi juga mengedepankan empati, perhatian, dan kasih sayang.

Agus Jabo mengungkapkan hal tersebut saat menutup Pelatihan Pengasuhan bagi Wali Asuh Sekolah Rakyat dan Pelatihan Pengelolaan Asrama bagi Wali Asrama Sekolah Rakyat di Yogyakarta, Sabtu 26 September 2026.

“Wali asuh dan wali asrama adalah ujung tombak dalam membangun karakter anak-anak di Sekolah Rakyat. Saya titip mereka, antarkan mereka, bangun karakter mereka, karena potensi mereka sama dengan anak-anak yang lain, hanya latar belakangnya yang berbeda,”ujarnya.

Pelatihan yang berlangsung pada 22–26 September 2026 di Yogyakarta tersebut diikuti 200 peserta dari Sekolah Rakyat yang masuk dalam lingkup Regional Yogyakarta, terdiri atas 160 wali asuh dan 40 wali asrama.

Agus Jabo menambahkan, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang beragam. Kondisi tersebut perlu dipahami para pendamping agar proses pengasuhan tidak hanya berorientasi pada kedisiplinan dan aturan, tetapi juga mampu merespons kebutuhan setiap anak.

“Anak-anak ini pada dasarnya membutuhkan perhatian dari kita, pendampingan dari kita, kasih sayang dari kita. Karena itu, saya mohon para pendamping betul-betul memahami anak-anak, tidak hanya secara kolektif, tetapi juga secara individual,” katanya.

Menurut Agus Jabo, pendekatan yang mengedepankan empati menjadi penting karena persoalan yang dihadapi siswa dapat berkaitan dengan kondisi keluarga, ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan sosial.

Agus meminta para wali asuh dan wali asrama tidak terburu-buru melihat perilaku siswa hanya dari sisi formal. Setiap perilaku perlu dipahami dengan melihat latar belakang dan kebutuhan anak.

“Kalau menggunakan logika formal, kebutuhan mereka akan terasa berat. Tetapi kalau kita menggunakan hati, kita bisa memahami bahwa mereka membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kasih sayang,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....