Inovasi Digital Indonesia Raih Pengakuan Dunia
- 11 Jun 2026 20:32 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID,Baubau - Tiga inovasi digital Indonesia yang memperluas akses pendidikan, meningkatkan keamanan siber, dan membantu masyarakat melawan hoaks berhasil meraih pengakuan dalam ajang The World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2026 dari International Telecommunication Union (ITU), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dilansir komdigi.go.id, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria menilai capaian tersebut menunjukkan transformasi digital Indonesia semakin mampu menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, kualitas inovasi Indonesia yang masuk dalam nominasi WSIS tahun ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemanfaatan teknologi digital untuk layanan publik.
“Saya melihat yang jadi nomine dan pemenang di WSIS tahun ini bobotnya makin kuat sejak tiga tahun terakhir,” ujar Wamen Nezar Patria saat menerima audiensi nomine WSIS Prizes 2026 di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu 10 Juni 2026.
Dalam ajang WSIS Prizes 2026, Indonesia berhasil menempatkan 3 inisiatif terbaik di antara 90 WSIS Champions 2026 dari seluruh dunia.
Ketiga inisiatif tersebut adalah Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, serta Rumah Pendidikan dan Anugerah Bug Bounty dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen).
Wamen Nezar menilai berbagai inovasi yang dikembangkan Kemdikdasmen maupun Pemprov DKI Jakarta memiliki manfaat nyata bagi masyarakat serta mampu mendorong transformasi digital di sektor publik.
Menurutnya, keberhasilan tersebut dapat menjadi contoh bagi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah lainnya untuk menghadirkan layanan publik yang lebih dekat, mudah diakses, dan responsif melalui platform digital.
“Inisiatifnya sangat baik, sangat useful, juga impactful untuk mendorong transformasi digital dalam layanan publik,” tuturnya.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) yang dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya ancaman misinformasi dan disinformasi.
Wamen Nezar menegaskan perkembangan teknologi kecerdasan artifisial generatif membuat hoaks semakin sulit dibedakan dari informasi yang autentik.
“Hoaks makin lama makin canggih, terlebih dengan adanya generative AI. Bisa dibuat hoaks yang sangat mirip dengan sesuatu yang otentik,” ungkapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....