Cerita di Balik Pasar Kaget Pelataran Masjid Agung Keraton Wolio
- 28 Mei 2026 18:37 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau - Setiap kali hari raya tiba, suasana di kawasan Masjid Agung Keraton Buton atau Masigi Ogena Wolio berubah menjadi lebih hidup. Deretan lapak sederhana berdiri di sepanjang pelataran masjid dan ruas jalan di kawasan Benteng Keraton Wolio.
Aroma jajanan tradisional bercampur dengan suara anak-anak dan riuh warga yang datang menikmati suasana lebaran. Pasar kaget di pelataran masjid bukan sekadar tempat berjualan.

Bagi masyarakat Keraton Wolio, tradisi ini adalah bagian dari ingatan kolektif yang terus hidup dari generasi ke generasi. Momentum Idulfitri dan Iduladha selalu menjadi waktu yang paling dinanti, baik oleh pedagang maupun masyarakat yang datang berkunjung.
Salah seorang pelaku UMKM di pelataran Masjid Agung Keraton, Siti Musdalifah, mengatakan tradisi pasar hari raya telah lama menjadi denyut ekonomi masyarakat sekitar.
“Kalau hari raya itu memang event tahunan yang sangat ditunggu. Banyak UMKM yang berjualan, bukan cuma masyarakat lokal, tapi juga dari luar kawasan benteng,” ujarnya, Kamis, 28 Mei 2026.

Berbagai jenis dagangan memenuhi kawasan pasar kaget, mulai dari makanan ringan, es sirup, jajanan tradisional, hingga aneka permainan anak. Selepas salat Id, masyarakat biasanya berkumpul di sekitar masjid, sementara anak-anak menikmati suasana pasar dan berburu mainan.
Saat Iduladha, keramaian bertambah dengan hadirnya warga yang menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban. Tradisi itu menghadirkan suasana sosial yang hangat, di mana masyarakat tidak hanya berbelanja, tetapi juga bersilaturahmi.

Di balik keramaian tersebut, tersimpan sejarah panjang kawasan pelataran masjid sebagai pusat aktivitas masyarakat sejak masa Kesultanan Buton. Dahulu, area depan masjid menjadi pasar masyarakat Meli dan Baadia, tempat berlangsungnya transaksi ekonomi sekaligus kegiatan sosial budaya.
“Dulu pelataran masjid memang pusat kegiatan masyarakat. Selain jual beli, juga ada pertunjukan dan kegiatan pemuda, bahkan kegiatan MTQ pernah di gelar di sisi kanan masjid” kata Mama Aldo.

Pemilik Kedai Mama Aldo ini masih mengingat suasana pasar pada awal 1990-an. Kala itu, lapak pedagang membentang dari kawasan makam Sultan Murhum hingga area jangkar. Penerangan lampu minyak tanah menemani penjual bakso, jajanan, dan permainan rakyat yang menjadi hiburan anak-anak pada masa itu.
Seiring perkembangan zaman, pasar kaget di kawasan keraton mulai menghadapi tantangan. Kehadiran pusat perbelanjaan modern, ruang publik baru, hingga tren belanja daring membuat minat masyarakat perlahan menurun. Namun warga setempat tetap berupaya mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya.
Pengelolaan pasar kini melibatkan pemuda dan karang taruna setempat. Pedagang yang berjualan dikenakan biaya sewa untuk mendukung kebersihan dan keamanan kawasan. Remaja lokal turut diberdayakan untuk membantu menjaga lingkungan selama kegiatan berlangsung.

Bagi masyarakat Keraton Wolio, pasar kaget bukan hanya soal ekonomi musiman. Tradisi itu menjadi cara untuk menjaga hubungan sosial sekaligus merawat jejak sejarah yang telah hidup puluhan tahun di pelataran Masjid Agung Keraton.
“Mari kita jaga supaya tetap lestari. Jangan sampai anak-anak kita nanti tidak tahu bahwa dulu pusat kegiatan masyarakat itu ada di pelataran masjid,” tutur Mama Aldo.
Di tengah modernisasi kota, pasar kaget di pelataran Masjid Agung Keraton Wolio tetap menjadi ruang tempat sejarah, budaya, ekonomi rakyat, dan kebersamaan bertemu dalam suasana hari raya yang hangat dan penuh kenangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....