Malona Qunua, Tradisi Ramadan Warisan Kesultanan Buton
- 06 Mar 2026 08:42 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau - Setiap pertengahan bulan suci Ramadan, masyarakat Kota Baubau kembali menghidupkan sebuah tradisi lama yang sarat makna spiritual dan budaya. Ritual adat Malona Qunua atau Malam Qunut menjadi momentum kebersamaan antara ulama, umara, dan masyarakat dalam memohon keberkahan kepada Allah SWT.
Tradisi yang telah berlangsung sejak masa Kesultanan Buton ini rutin digelar pada malam 16 Ramadan. Masyarakat berkumpul melaksanakan salat berjamaah di Masjid Agung Keraton Buton, yang menjadi pusat spiritual sekaligus simbol sejarah kejayaan peradaban Islam di wilayah tersebut.
Usai menunaikan salat Isa, taraweh, dan witir berjamaah, rangkaian ritual dilanjutkan di Baruga Wolio. Di tempat inilah berbagai prosesi adat berlangsung, mulai dari pembacaan doa awal oleh perangkat masjid, sahur bersama, hingga doa penutup yang dibacakan oleh moji termuda.
Ritual kemudian ditutup dengan pokenilima adati atau salaman adat sebagai simbol saling mendoakan dan mempererat persaudaraan.
Bagi masyarakat Baubau (eks Kesultanan Buton), Malona Qunua bukan sekadar tradisi keagamaan. Ia juga sarat dengan filosofi perjalanan spiritual manusia selama menjalani ibadah puasa.
Dalam pemaknaan adat, Ramadan dipandang sebagai simbol perjalanan penciptaan manusia. Sepuluh malam pertama dimaknai sebagai fase rahmat yang dianalogikan dengan alam arwah. Sepuluh malam berikutnya sebagai fase pengampunan yang diibaratkan alam mitsal.
Sementara malam ke-16 Ramadan menjadi simbol memasuki alam ajsam, fase ketika manusia diyakini berusia sekitar 120 hari di dalam kandungan dan ruh ditiupkan oleh Allah SWT.
Makna tersebut mengingatkan manusia pada hakikat kehidupan: bahwa setiap perjalanan spiritual harus dilalui dengan kesadaran, pengendalian diri, dan keikhlasan, sebagaimana orang yang berpuasa menahan lapar dan dahaga.
Selain dimensi spiritual, Malam Qunua juga memperlihatkan harmoni hubungan antara pemimpin pemerintahan dan pemimpin agama. Nilai ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW tentang dua golongan yang menentukan baik buruknya masyarakat, yaitu ulama dan umara.

Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darus Salam, menegaskan bahwa tradisi ini harus terus dijaga sebagai identitas budaya masyarakat Kota Baubau.
Menurutnya, ritual Malona Qunua merupakan warisan leluhur yang telah dilaksanakan secara turun-temurun sejak zaman kesultanan. Karena itu, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan diharapkan terus meningkatkan kualitas penyelenggaraannya agar semakin dikenal luas.
“Tradisi ini luar biasa karena mempertemukan masyarakat, pemerintah, serta perangkat adat dan agama dalam satu ruang kebersamaan,” ujarnya usai menghadiri pelaksanaan ritual tersebut.
Malam Qunua pada akhirnya bukan hanya ritual tahunan. Ia adalah pengingat tentang akar sejarah Buton, tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sekaligus tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai agama, adat, dan kehidupan sosial masyarakat.