Telur-Telur Harapan Nenek Dalia Menunggu Panggilan Haji
- 23 Jun 2025 09:06 WIB
- Baubau
KBRN, Baubau: Di tengah riuhnya aktivitas pagi Pasar Wameo, Kota Baubau, tampak sosok renta berjalan perlahan sambil memikul beberapa baki telur di kedua tangannya.
Wajahnya yang dipenuhi keriput tak mampu menyembunyikan semangat yang menyala dari matanya.
Ia adalah Wa Dalia, seorang nenek berusia lebih dari 70 tahun, yang masih gigih berjualan telur ayam kampung demi menyambung hidup dan mewujudkan impian sucinya: berhaji ke tanah suci.
Nenek Dalia bukanlah nama baru di Pasar Wameo. Puluhan tahun lamanya ia menjajakan telur dari lorong ke lorong pasar.

Pelanggannya sudah banyak yang hafal langkah dan senyum sapanya. Mereka menyebutnya “nenek tangguh” gelar yang layak disandang oleh perempuan asal Siompu, Kabupaten Buton Selatan ini.
Namun siapa sangka, perempuan tua yang sehari-hari tampak sederhana ini pernah mengarungi hidup yang tak mudah.
Ia pernah menetap di Kota Ambon hingga akhirnya harus kembali ke tanah kelahiran saat konflik sosial mengguncang kota tersebut pada 1999. Sejak itu, Baubau menjadi tempatnya menata ulang kehidupan.
“Alhamdulillah, hasil jual telur bisa saya pakai sekolahkan anak-anak. Bahkan bisa beli rumah, jadi tidak kos-kosan lagi,” tuturnya lirih namun penuh bangga kepada RRI beberapa waktu lalu
Sebelas anak telah dibesarkannya seorang diri setelah suaminya berpulang. Ia adalah ibu dan juga kepala rumah tangga.
Tak ada gaji tetap, hanya penghasilan dari telur-telur yang dijajakan setiap hari. Dalam sehari, jika pasar ramai, ia bisa membawa pulang hingga Rp 200 ribu. Namun jika pasar sepi, pendapatannya jauh berkurang.
Yang luar biasa, dari jualan telur itulah Nenek Dalia bisa menunaikan ibadah umrah. Kini, di usia senja, ia tinggal menunggu panggilan untuk berangkat haji. Bukan dari pemberian anak-anaknya, bukan pula bantuan donatur, tapi hasil tabungan dari keringat dan ketekunannya sendiri.
Setiap pekan, ia menyempatkan diri pulang ke Siompu untuk membeli telur ayam dan telur bebek. Ia juga membuat telur asin sendiri untuk dijual kembali di Baubau.

Wa Dalia saat berjualan di Pasar Wameo Baubau (Foto:RRI)
Rutinitas itu tak pernah terputus, meski usia sudah menggerus tenaga. Baginya, selagi masih bisa berjalan, ia akan terus berjualan.
Menariknya, meskipun semua anaknya telah dewasa dan berkeluarga, Nenek Dalia tetap memilih hidup mandiri. Ia tinggal sendiri dan tidak mau membebani siapapun.
Kisah Nenek Dalia bukan sekadar tentang seorang nenek penjual telur. Tapi tentang perempuan yang menjadikan hidup sebagai ladang perjuangan, menjadikan telur sebagai simbol harapan.
Nenek Dalia meyakini bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Di tengah geliat kota yang terus berubah, semangatnya tetap abadi.
Ia menjadi pengingat bahwa usia bukan alasan untuk berhenti, dan kerja keras yang konsisten bisa membawa seseorang jauh bahkan hingga ke tanah suci.