Kantibu, Sumur Penyelamat Kala Kemarau Tiba

  • 18 Apr 2025 10:41 WIB
  •  Baubau

KBRN, Baubau: Deru kendaraan perlahan menghilang, digantikan oleh suara jangkrik, gemerisik dedaunan dan kicauan burung saat tim RRI Baubau menyusuri kebun warga dan rimbunnya hutan Kelurahan Waborobo. Tujuan Tim RRI kali ini bukan sekadar mencari pemandangan alam, melainkan menapaki jejak sejarah sebuah sumur tua yang menyimpan cerita unik dan menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat di kala kemarau melanda.

Perjalanan sejauh kurang lebih 400 meter dari jantung kelurahan menuju sumur yang diselimuti aura mistis ini terasa begitu dekat dengan alam. Sebelum mencapai lokasi, tantangan kecil berupa titian sepanjang tiga meter menambah keseruan. Di sekeliling sumur, alam seolah menjadi penjaganya; pohon sagu menjulang kokoh, rumpun bambu menari tertiup angin, dan aliran kali kecil berbisik lirih.

Mengintip ke dalam perut bumi sedalam enam meter itu, tampak air yang jernih dan tenang. Namun, bukan hanya airnya yang menarik perhatian, melainkan juga kisah di baliknya. Sarifudin Adhika, seorang tokoh masyarakat Waborobo, dengan antusias menuturkan legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi.

"Ceritanya dari orang-orang tua dulu, ada seorang pemburu yang kehausan di tengah hutan. Dari ketinggian, dia melemparkan lembingnya. Ajaibnya, saat lembing itu dicabut, munculah air,"ujar Sarifudin memulai kisah.

Air yang memancar itu kemudian ditampung dengan 'katondo', sejenis batu. "Kalau bahasa di sini, ditondo-tondo begitu, katondo sehingga muncul air terus-menerus sampai saat sekarang ini,"lanjutnya.

Sumur itu kemudian diberi nama 'Kantibu'. "Saya kurang tahu juga apa sebenarnya artinya Kantibu. Tapi kalau menurut orang-orang tua dulu, Kantibu itu adalah bahasa Tobe-Tobe, kerajaan tertua di sini,"jelasnya, mencoba merangkai kepingan sejarah yang terserak.

Keberadaan Sumur Kantibu bukan sekadar cerita masa lalu. Hingga kini, sumur ini menjadi tumpuan hidup warga Waborobo dan sekitarnya, terutama saat musim kemarau tiba.

"Dulu, orang yang mengambil air harus turun ke bawah, sedalam sepinggang orang dewasa,"kenang Sarifudin.

Alat penimba air pun masih tradisional, terbuat dari belahan batok kelapa. "Sehingga warga itu satu-satu antri untuk menimbanya turun. Tidak bisa bersama-sama turun di bawah karena hanya batu saja yang disusun,"tambahnya menggambarkan kesederhanaan masa lalu.

Seiring berjalannya waktu, kesadaran akan pentingnya sumur ini bagi masyarakat mendorong adanya pemugaran. "Ini direnovasi karena kita lihat pada waktu itu, sumur ini sangat penting untuk warga masyarakat, khususnya masyarakat Waborobo. Juga kalau masyarakat-masyarakat yang di sekitar Waborobo juga, kalau kekeringan datang, mencuci di sini,"ungkap Sarifudin.

Renovasi yang diusulkan melalui dana PPMK pada tahun 2008 itu membuahkan hasil. Sumur kini memiliki atap untuk melindungi air dari dedaunan yang jatuh.

Lantas, mungkinkah Sumur Kantibu memiliki daya tarik wisata? Sarifudin sangat Optimistis. Apalagi potensi wisata Sumur Kantibu semakin kuat dengan keberadaan hutan Kaombo di sekitarnya yang masih sangat asri.

"Di sini ini disebut hutan kaombo. Jadi tidak bisa, seenaknya warga mau masuk ke dalam sini. Misalnya mau ambil kayu api, itu harus izin tokoh adat,"tegas Sarifudin.

Hutan Kaombo dijaga dengan kearifan lokal. Penebangan pohon sembarangan dilarang keras. Bahkan kayu lapuk pun tak bisa diambil tanpa izin tokoh adat. "Kalaupun ada yang melanggar, masyarakat yang dengan sembunyi-sembunyi masuk itu kena sanksi,"ujarnya.

Sanksi adat yang dikenal dengan istilah 'dirimbiti' menjadi benteng kelestarian alam di sekitar Sumur Kantibu. "Dirimbiti kalau bahasanya di sini mungkin di denda mungkin. Dendanya itu ada tokoh adat di sini dia tentukan. Kalaupun dia sudah berulang-ulang maka itu dia dikenakan sanksi sosial. Sanksi sosial itu misalnya keluarga tadi itu, ada acara-acara yang berkaitan dengan adat. Nah itu, adat tidak mau turun tangan, tidak mau tau lagi,"paparnya.

Menariknya, meski telah direnovasi, kedalaman air Sumur Kantibu relatif stabil. "Kedalaman airnya memang dulu ya karena dulu itu pertamanya kan ini warga itu turun di dalam, di dalam sumur untuk menimbanya. Jadi yang sebenarnya itu dari awalnya itu hanya setinggi paling satu meter. Jadi mereka turun, habis dikelilingi batu kayak macam tangga batu itu. Nah itu turun baru dia menimbah,"jelas Sarifudin.

Keajaiban Sumur Kantibu semakin terasa karena sumber air ini tak pernah kering, bahkan di tengah kemarau panjang. "Tidak pernah, tidak pernah kekeringan. Itu sumur ini makanya dibuat seperti ini mengantisipasi pada saat itu kekeringan. Jadi setiap saat kekeringan itu warga selalu di sini, antri ambil air,"pungkas Sarifudin, mengakhiri perbincangan dengan senyum penuh harap akan masa depan Sumur Kantibu.

Menyaksikan langsung Sumur Kantibu, bukan hanya melihat sebuah sumber air, tetapi juga menatap jejak peradaban masa lalu yang masih relevan hingga kini. Kisah lembing pembawa berkah, kearifan lokal dalam menjaga alam, dan harapan akan potensi wisata yang berkelanjutan, semuanya berpadu menjadi daya tarik yang kuat bagi siapapun yang mengunjungi.

Sumur Kantibu bukan sekadar sumur tua, melainkan saksi bisu harmoni antara manusia dan alam yang patut untuk dilestarikan dan diceritakan.

Rekomendasi Berita