Falsafah Buton Jadi Kompas Moral Hadapi Hoaks dan Disinformasi

  • 16 Sep 2026 08:38 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau – Falsafah Buton dinilai dapat menjadi kompas moral masyarakat dalam menghadapi derasnya arus digitalisasi, hoaks, disinformasi, hingga pragmatisme politik yang berkembang di tengah kehidupan modern.

Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Baubau, La Ode Aswad, mengatakan perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi memang membawa kemudahan dan kemajuan. Namun di sisi lain, perubahan yang begitu cepat juga berpotensi mengikis identitas, melemahkan kohesi sosial, dan mengganggu stabilitas masyarakat.

“Kalau ada informasi, jangan langsung kita ikut. Tunggu dulu, kita cek dulu,” kata La Ode Aswad saat mewakili Wali Kota Baubau membuka Diskusi Politik tentang Falsafah Buton dan Perkembangan Budaya Modern di Kota Baubau, di Aula Palagimata Baubau, Selasa, 15 September 2026.

Aswad mengatakan, tantangan tersebut perlu dihadapi dengan menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang telah diwariskan leluhur Buton. Falsafah Buton tidak semestinya dipandang hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi sebagai living values atau nilai yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Salah satu nilai tersebut tercermin dalam falsafah Pobinci-binciki Kuli, yang melahirkan empat pilar etika sosial, yakni Pomae-maeka atau rasa malu dan mawas diri, Popia-piara atau saling memelihara, Pomaa-maasiaka atau saling menyayangi, serta Poangka-angkataka atau saling menghargai.

Menurut La Ode Aswad, nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan politik dan pemerintahan modern. Kepentingan negeri dan masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi, sementara kekuasaan perlu berjalan beriringan dengan etika, transparansi, tanggung jawab, dan keadilan.

Diskusi Politik tentang Falsafah Buton dan Perkembangan Budaya Modern di Kota Baubau, di Aula Palagimata Baubau, Selasa, 15 September 2026.

Di tengah cepatnya penyebaran informasi, masyarakat juga dituntut tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

"Terlebih dengan perkembangan kecerdasan buatan yang memungkinkan produksi dan penyebaran konten dilakukan semakin cepat, sehingga kemampuan masyarakat memilah informasi menjadi semakin penting," ujarnya.

La Ode Aswad menilai organisasi kemasyarakatan, keagamaan, profesi, kepemudaan, partai politik, akademisi, dan generasi muda memiliki peran strategis dalam menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

"Kolaborasi seluruh elemen diperlukan agar falsafah Buton tidak berhenti sebagai retorika sejarah, tetapi benar-benar membumi dalam perilaku politik, kebijakan publik, dan kehidupan sosial," benernya.

Aswad berharap forum diskusi tersebut melahirkan gagasan konkret tentang bagaimana masyarakat dapat merawat tradisi dan identitas budaya tanpa menutup diri terhadap kemajuan. Dengan demikian, modernitas dapat dihadapi tanpa kehilangan jati diri ke-Buton-an sekaligus tetap menjaga persatuan, keamanan, dan stabilitas Kota Baubau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....