Selisih Kebutuhan dan Produksi Air Baubau Masih Timpang

  • 27 Agt 2026 21:34 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Selisih kebutuhan dan produksi air bersih di Kota Baubau masih menjadi tantangan PERUMDAM Tirta Semerbak Molagina dalam memberikan pelayanan 24 jam. Direktur PERUMDAM, Joni Munadi Awal menyebut kebutuhan harian mencapai sekitar 7.693 meter kubik, sementara produksi baru sekitar 382 meter kubik.

Joni menjelaskan, angka kebutuhan tersebut dihitung berdasarkan jumlah pelanggan aktif yang saat ini mendekati 13 ribu pelanggan dari total sekitar 19 ribu pelanggan. Dengan asumsi kebutuhan konsumsi sekitar 120 liter per jiwa per hari, pasokan air yang diperlukan jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi saat ini.

"Kalau mau pelayanan 24 jam, itu semestinya kita harus menyimpan pasokan distribusi air sekitar 7.693 meter kubikasi. Sementara kita hanya baru mampu di angka 300 hampir 400 meter kubikasi,"kata Joni, Kamis, 27 Agustus 2026.

Direktur PERUMDAM Tirta Semerbak Molagina, Joni Munadi Awal (Foto.RRI)

Menurutnya, ketimpangan tersebut membuat PERUMDAM belum dapat menerapkan pelayanan air bersih selama 24 jam di seluruh wilayah Baubau. Distribusi air kemudian dilakukan secara bergilir berdasarkan kemampuan produksi dan kondisi masing-masing zona pelayanan.

Zona satu yang mencakup Kecamatan Murhum, Betoambari dan sebagian Batupoaro memiliki rentang distribusi sekitar 10 hingga 14 hari sekali. Zona dua yang meliputi Kecamatan Wolio dan sebagian Batupoaro mendapat pengaliran sekitar enam hari sekali, sedangkan zona tiga yang mencakup Kecamatan Lea-Lea, sebagian Bungi dan sebagian Kokalukuna mendapat distribusi satu hingga dua hari sekali.

Selain tiga zona utama, PERUMDAM juga memiliki IKK Bungi yang melayani Kecamatan Sorawolio dan sebagian Kokalukuna serta IKK Waruruma dengan pelayanan distribusi 24 jam. Terdapat pula zona pelayanan khusus SPBM Pertamina di Kecamatan Betoambari dan Pelabuhan Murhum.

Joni mengatakan kapasitas produksi tidak hanya ditentukan oleh mesin pengolahan, tetapi juga dipengaruhi kemampuan sumber air baku dan sistem distribusi. Karena itu, penambahan sumber air baru dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi kesenjangan antara produksi dan kebutuhan air masyarakat.

Upaya tersebut mulai dilakukan PERUMDAM dengan berkonsultasi bersama pihak teknis pada Juni 2026, di antaranya Dinas PUPR dan Balai Wilayah Sungai Sulawesi. Dalam konsultasi itu, PERUMDAM mengusulkan sejumlah sumber air baru yang dinilai memiliki debit andalan dan berpotensi memperkuat pasokan air ke depan.

"Jadi kita sudah menyampaikan sebenarnya masalah kita termasuk sumber. Hari ini kita tidak mampu karena sumber kita begitu minim, sementara debit andalan kalau kita eksplorasi masih ada beberapa sumber yang bisa kita gunakan,"ujar Joni.

Joni menjelaskan, PERUMDAM memiliki keterbatasan dalam merealisasikan pembangunan sumber air baru karena kewenangan teknis dan pembiayaan berada pada pemerintah. Usulan tersebut telah disampaikan agar dapat menjadi perhatian pemerintah melalui dukungan APBN yang disalurkan melalui Balai maupun APBD melalui Dinas PUPR, sehingga tambahan sumber air dapat direalisasikan untuk memperkuat kapasitas produksi PERUMDAM.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....