Perbedaan Lebaran Justru Menyatukan, Id Muhammadiyah Dipadati Ribuan Jemaah

  • 20 Mar 2026 12:17 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau – Pelaksanaan Sholat Idulfitri 1447 Hijriah yang lebih awal oleh Muhammadiyah di Kota Baubau, pada Jumat, 20 Maret 2026, tidak hanya diikuti warga persyarikatan, tetapi juga masyarakat umum dalam jumlah besar, menandai kuatnya semangat kebersamaan di tengah perbedaan penetapan hari raya.

Kegiatan yang dipusatkan di pelataran Rektorat Universitas Muhammadiyah Buton ini menjadi salah satu titik pelaksanaan Salat Id yang dikoordinasikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Baubau bersama amal usaha pendidikan.

Berdasarkan pemantauan, jemaah memadati area kampus hingga meluber ke badan jalan dengan estimasi mencapai lebih dari seribu orang, termasuk warga dari luar Kota Baubau seperti dari Pasarwajo, Kabupaten Buton.

Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Baubau, Dr. Ma'ruf (baju warna cokelat) di Dampingi Pengurus Muhammadiyah Kota Baubau, Jumat, 20 Maret 2026 (Foto: RRI/Arul)

Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Baubau, Dr. Ma'ruf, menegaskan bahwa perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri tidak menjadi penghalang untuk menjaga persatuan.

“Perbedaan ini bukan sesuatu yang harus memisahkan kita. Justru menjadi sarana untuk menyatukan, karena masing-masing memiliki landasan dalam syariat,” ujarnya.

Sementara itu, dalam ceramah Idulfitri bertajuk “Renungan Idulfitri: Kembali kepada Kefitrahan Diri”, khotib Dr. Safaruddin Yahya menekankan makna Idulfitri sebagai momentum kembali kepada kesucian hakiki manusia.

Ia menjelaskan, Id berarti kembali dan fitri bermakna suci. Mengutip pandangan Quraish Shihab, manusia pada hakikatnya kembali kepada asalnya, yakni kondisi fitrah yang bersih.

Ribuan Umat Muslim Melaksanakan Salat Id 1447 Hijriah di Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Buton, Jumat, 20 Maret 2026 (Foto: RRI/Arul)

“Manusia lahir dalam keadaan suci, maka diharapkan pula kita kembali dalam keadaan suci dan bersih,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ibadah puasa selama Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk kepekaan sosial.

“Puasa mengajarkan kita merasakan kondisi saudara-saudara kita yang kekurangan. Dari situlah tumbuh empati dan kepedulian terhadap sesama,” tambahnya.

Pesan persatuan dari penyelenggara dan penguatan nilai kepedulian dalam ceramah Idulfitri tersebut menjadi refleksi bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan ruang untuk memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....