Layar Benteng 2026 Ditutup Meriah, Ratusan Warga Padati Benteng Sorawolio
- 02 Agt 2026 18:37 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau – Program Layar Benteng Final Chapter sukses digelar di kawasan Benteng Sorawolio, Kota Baubau, sebagai penutup rangkaian program Layar Benteng yang diselenggarakan oleh Seribu Benteng Production di enam titik pemutaran.
Setelah menyambangi Benteng Keraton Wolio, Kampung Adat Wapulaka, Kampung Adat Wasuamba, Benteng Rongi, dan Kampung Adat Wabula, rangkaian kegiatan resmi berakhir di Benteng Sorawolio dengan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Sejak sore hingga malam hari, ratusan masyarakat dari berbagai kalangan memadati lokasi kegiatan untuk mengikuti seluruh rangkaian acara.
Kehadiran pelajar, mahasiswa, komunitas, pegiat budaya, hingga keluarga menunjukkan bahwa Layar Benteng telah menjadi ruang budaya yang dinantikan masyarakat. Bahkan, sepanjang penyelenggaraan di enam titik, kegiatan ini selalu mendapat apresiasi yang luar biasa.
Di setiap lokasi, ratusan hingga ribuan warga hadir memadati area pemutaran film, menjadikan Layar Benteng bukan sekadar agenda pemutaran film, tetapi juga ruang berkumpul, berdialog, dan merayakan budaya bersama.
Layar Benteng merupakan program pemutaran film berbasis ruang budaya yang bertujuan mendekatkan karya-karya sineas lokal kepada masyarakat sekaligus menghidupkan situs-situs bersejarah sebagai ruang belajar, berdiskusi, dan berkesenian.
Melalui pendekatan tersebut, film tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya, penguatan identitas daerah, serta ruang tumbuh bagi sineas-sineas muda di Kota Baubau dan sekitarnya.

Salah satu agenda utama dalam Final Chapter adalah Talk Show Film Budaya yang menghadirkan Budayawan dan Peneliti Budaya Imran Kudus, filmmaker Keton Saputra, serta Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darussalam. Diskusi dipandu oleh Emil La Pau dengan mengangkat tema "Film sebagai Ruang Merawat Ingatan, Budaya, dan Identitas Buton."
Dalam diskusi tersebut, para narasumber menegaskan bahwa film memiliki peran strategis dalam mendokumentasikan sejarah, merekam tradisi, menjaga memori kolektif masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya Buton. Film dipandang tidak hanya sebagai karya seni dan hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi yang mampu mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang.
Para narasumber juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku budaya, komunitas, lembaga pendidikan, dan insan perfilman dalam membangun ekosistem perfilman daerah yang berkelanjutan.
Memasuki malam puncak, masyarakat disuguhkan marathon film yang menampilkan sembilan karya sineas Baubau dari berbagai kategori. Pemutaran dibuka dengan kategori film pelajar melalui film Inaaku karya MAN 1 Baubau dan Luminara karya SMA Negeri 1 Baubau yang menjadi representasi kreativitas pelajar dalam mengembangkan perfilman di lingkungan sekolah.
Penonton kemudian disuguhkan karya-karya terbaik hasil Lomba Video Konten Literasi Dinas Perpustakaan Kota Baubau, yakni Lubang, Halaman Pertama, Di Ujung Pesisir Kami Menyalakan Harapan, dan Halaman yang Hampir Terlupakan. Keempat film tersebut mengangkat tema literasi, pendidikan, kepedulian sosial, dan kehidupan masyarakat melalui pendekatan sinematik.
Marathon film dilanjutkan dengan pemutaran dua film peraih penghargaan pada Kompetisi Film Pendek Islami Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2025, yaitu Pekandeana Ana-ana Maelu sebagai Juara II dan Cahaya untuk Nur sebagai Juara I. Sebagai penutup, panitia menghadirkan special screening film dokumenter Palanto, produksi terbaru Seribu Benteng Production yang mengangkat tradisi Palanto sebagai salah satu warisan budaya masyarakat pesisir Buton.

Kesembilan film tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Penonton bertahan hingga pemutaran terakhir dan memberikan apresiasi terhadap karya-karya yang ditampilkan. Antusiasme tersebut menjadi bukti bahwa perfilman lokal terus berkembang dan semakin mendapat tempat di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat tujuan Layar Benteng sebagai ruang apresiasi, edukasi, dan pelestarian budaya melalui film.
Ketua Pelaksana Layar Benteng, Andhy Loppes, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya seluruh rangkaian kegiatan yang telah berlangsung di enam titik penyelenggaraan. Menurutnya, tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti bahwa film mampu menjadi media yang efektif dalam membangun ruang dialog, memperkuat identitas budaya, sekaligus melahirkan sineas-sineas baru di daerah.
"Alhamdulillah, seluruh rangkaian Layar Benteng tahun 2026 telah berjalan dengan baik. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan melalui Program Dana Indonesiana yang dikelola LPDP, Pemerintah Kota Baubau, seluruh mitra, komunitas, relawan, para sineas, serta masyarakat yang telah mendukung kegiatan ini.
Besarnya antusiasme masyarakat di setiap titik menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan ruang apresiasi film yang dekat dengan masyarakat sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya Buton,"ujar Andhy Loppes.

Program Layar Benteng tahun 2026 terlaksana berkat dukungan Program Dana Indonesiana yang dikelola oleh LPDP bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan melalui penguatan ekosistem perfilman berbasis komunitas dan budaya lokal.
Rangkaian Layar Benteng Final Chapter secara resmi ditutup oleh Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darussalam. Dalam sambutan penutupnya, ia menyampaikan apresiasi kepada Seribu Benteng Production atas konsistensinya menghadirkan ruang apresiasi film di kawasan-kawasan bersejarah Kota Baubau.
Menurutnya, Layar Benteng telah membuktikan bahwa film mampu menjadi media pelestarian budaya, sarana edukasi, sekaligus ruang kolaborasi yang mempertemukan masyarakat dengan sejarah dan identitas daerahnya. Pemerintah Kota Baubau, lanjutnya, akan terus mendukung kegiatan-kegiatan kebudayaan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan generasi muda.
Berakhirnya Layar Benteng Final Chapter menandai selesainya seluruh rangkaian Layar Benteng tahun 2026. Keberhasilan penyelenggaraan di enam titik, dengan kehadiran ratusan hingga ribuan masyarakat di setiap lokasi, menunjukkan bahwa film mampu menjadi media yang efektif dalam membangun ruang dialog, memperkuat identitas budaya, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap karya-karya sineas lokal.
Melalui Layar Benteng, film tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk merawat ingatan, budaya, dan identitas Buton sekaligus memperkuat posisi Baubau sebagai salah satu pusat pertumbuhan perfilman dan kebudayaan di Sulawesi Tenggara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....