KUA Wolio Hidupkan Tradisi Pakandeana Anaana Maelu, 105 Anak Yatim Terima Santunan
- 29 Jun 2026 16:58 WIB
- Baubau
RRI.CO.ID, Baubau, - Muharram kembali mengetuk pintu-pintu hati. Di Masjid Al Mujahiddin, Kelurahan Wangkanapi, Kecamatan Wolio, lantunan ayat suci Al-Qur'an mengalun lembut, mengiringi senyum anak-anak yatim yang pagi itu berkumpul dalam sebuah tradisi yang telah diwariskan lintas generasi: Pakandeana Anaana Maelu, Minggu 28 Juni 2026.
Tradisi yang berakar sejak masa Kesultanan Buton ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah jejak peradaban yang terus hidup, menjembatani masa lalu dengan masa kini melalui kepedulian, kasih sayang, dan semangat berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Mengusung tema "Kerja Bersama Berbagi Kasih, Menguatkan Kepedulian, Meraih Keberkahan Muharram Bersama Anak Yatim", kegiatan tersebut mempertemukan berbagai unsur masyarakat. Hadir Asisten I Sekretariat Daerah Kota Baubau, Anggota DPRD Kota Baubau, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Baubau, Ketua Baznas Kota Baubau, Kapolsek Wolio, Camat Wolio, Ketua TP PKK Kecamatan Wolio, Kepala KUA Kecamatan Wolio, pengurus Masjid Al Mujahiddin, BKMT, Muslimat NU, majelis taklim, serta para dermawan yang datang membawa niat baik.

Acara dipandu oleh Wa Ode Susiyanti, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Ainur Rahmah Safitri. Suasana hening seketika menyelimuti ruangan. Ayat-ayat Ilahi seolah mengingatkan bahwa setiap nikmat selalu mengandung amanah untuk berbagi.
Ketua Panitia, Ilham Amran, S.Sos, menegaskan bahwa Pakandeana Anaana Maelu bukanlah rutinitas yang hadir setiap Muharram semata.
"Kegiatan ini bukan rutinitas semata, tetapi bentuk kepedulian kita bersama. Anak-anak yatim tidak berjalan sendiri. Ada kita yang hadir untuk membersamai mereka," ungkapnya.
Sebanyak 105 anak yatim dari seluruh kelurahan di Kecamatan Wolio menerima santunan pada kegiatan tersebut. Ilham menjelaskan, terlaksananya kegiatan ini merupakan buah kolaborasi lintas sektor antara Pemerintah Kecamatan Wolio, KUA Kecamatan Wolio, BKMT Kecamatan Wolio, Muslimat NU, serta didukung berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap masa depan anak-anak yatim.
Mewakili Wali Kota Baubau, Asisten I Sekretariat Daerah Kota Baubau, La Ode Aswad, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut. Menurutnya, Pakandeana Anaana Maelu merupakan warisan luhur yang telah hidup jauh sebelum Indonesia merdeka, tumbuh sejak masa Kesultanan Buton sebagai pengejawantahan nilai keimanan dan kemanusiaan.
Aswad berharap tradisi tersebut terus dilestarikan dan menjadi identitas sosial-budaya Kota Baubau.
"Tradisi ini harus terus dijaga. Jangan hanya menjadi seremoni, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Mari kita bersama-sama mengawal anak-anak yatim agar tidak ada yang terlantar, kelaparan, ataupun menghadapi persoalan sosial. Dampingi mereka hingga tumbuh menjadi generasi yang mandiri," ujarnya.
Menurutnya, tradisi seperti ini layak terus dikembangkan hingga menjadi budaya sosial yang hidup di seluruh wilayah bekas Kesultanan Buton.
Hikmah Muharram disampaikan oleh Ustadz Hamdani, SH.I. Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh hadirin menjadikan Muharram sebagai awal untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal kebajikan.
Kepala KUA Kecamatan Wolio ini mendaraskan firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma'idah ayat 2, yang memerintahkan manusia untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, serta melarang saling membantu dalam dosa dan permusuhan.
Menurutnya, ayat tersebut menjadi ruh dari Pakandeana Anaana Maelu.
"Kerja bersama dalam kebaikan adalah jalan meraih rida Allah SWT. Tradisi ini bukan hanya memberi makan anak yatim, tetapi menghidupkan kasih sayang di tengah masyarakat," tuturnya.

Ustadz Hamdani kemudian mengingatkan bahwa kehidupan manusia begitu singkat, sedangkan kesempatan berbuat baik sangat terbatas.
"Hari ini lebih baik dari kemarin berarti kita beruntung. Jika sama seperti kemarin, kita merugi. Apalagi lebih buruk, maka itu sebuah kerugian yang besar."
Baginya, menyantuni anak yatim merupakan amal yang sangat dicintai Allah SWT. Bahkan, menyuapi mereka dengan penuh kasih adalah cahaya yang menerangi kehidupan seorang mukmin.
"Hari ini kita menyantuni anak yatim orang lain. Siapa yang tahu, suatu hari nanti justru anak-anak kita yang akan disantuni oleh orang lain. Karena itu, kerja bersama dalam kebaikan seperti ini adalah jalan untuk meraih rida Allah SWT," pesannya.
Setelah doa yang dipimpin Dr. Rusli Iru, M.Fil.I, tibalah prosesi yang paling mengharukan. Satu per satu anak-anak yatim disuapi secara simbolis, kemudian menerima santunan. Prosesi diawali oleh La Ode Aswad, S.Sos, M.Si., lalu diikuti para tokoh dan para tamu undangan.
Tak hanya makanan yang tersaji di hadapan mereka. Ada kasih sayang yang disuapkan bersama setiap sendok nasi, ada doa yang mengalir bersama setiap senyum, dan ada harapan yang dititipkan agar mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat, mandiri, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan daerah.
Pakandeana Anaana Maelu akhirnya mengajarkan satu hal yang sangat sederhana, tetapi sering terlupakan: peradaban yang besar bukan hanya dibangun oleh megahnya bangunan atau tingginya ilmu pengetahuan, melainkan oleh hati-hati yang rela berbagi kepada mereka yang lemah.
Di tengah derasnya arus zaman, tradisi ini membuktikan bahwa warisan Kesultanan Buton tidak sekadar hidup dalam lembaran sejarah. Ia terus bernapas dalam tangan-tangan yang memberi, dalam hati-hati yang peduli, dan dalam doa-doa yang dipanjatkan untuk anak-anak yatim.
Sebab selama masih ada orang yang menyuapi mereka dengan kasih sayang, selama masih ada tangan yang mengusap kepala mereka dengan cinta, selama itu pula ruh peradaban Buton akan tetap hidup, mengajarkan bahwa kemuliaan sebuah bangsa lahir dari kemuliaan akhlak masyarakatnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....