Balai Bahasa Tingkatkan Kompetensi Guru Hidupkan Bahasa Wolio

  • 09 Mei 2026 19:49 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Baubau - Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (BB Sultra) memperkuat pelestarian bahasa daerah melalui Peningkatan Kompetensi Guru Utama Revitalisasi Bahasa Wolio di Kota Baubau. Program ini menargetkan penguatan kapasitas guru sebagai ujung tombak agar bahasa Wolio kembali hidup dalam praktik pendidikan dan keseharian masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 4–6 Mei 2026, diikuti 80 guru penutur Wolio dari Baubau dan Kabupaten Buton Selatan. Hadir dalam kegiatan ini Kepala BB Sultra Dewi Pridayanti, La Ode Muhammad Sjamsul Qamar (Sultan Buton), Rektor Universitas Muhammadiyah Buton Wa Ode Al Zarliani, serta Sekretaris Dinas Pendidikan Buton Selatan Suparman.

Kepala BB Sultra menegaskan, program revitalisasi bahasa daerah di Sulawesi Tenggara terus diperluas secara bertahap sejak 2024, Senin, 4 Mei 2026.

“Pada tahun pertama kami menyasar bahasa Tolaki, tahun 2025 kami menambah bahasa Wolio, dan pada 2026 ini ditambah bahasa Muna. Untuk Wolio, ini merupakan tahun kedua pelaksanaan,” ujar Dewi Pridayanti.

Sebagai bagian dari penguatan literasi, BB Sultra juga menyerahkan buku antologi cerpen berbahasa daerah yang merupakan karya siswa peserta Kemah Cerpen program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) 2025.

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Baubau La Ode Darussalam yang mewakili wali kota. Ia menekankan peran strategis guru dalam menjaga identitas lokal.

“Bahasa Wolio bukan sekadar alat komunikasi, tetapi akar identitas dan warisan peradaban leluhur Buton yang harus dipertahankan. Generasi muda harus kembali bangga berbahasa daerah di tengah arus modernisasi,” tegasnya.

Untuk menjamin kualitas pembelajaran, BB Sultra menghadirkan sejumlah pakar dan maestro sebagai narasumber, di antaranya Agus Slamet (mendongeng), La Ode Muhammad Alfian Zaadi (pidato), La Ode Alirman (maestro Wolio), Zulyah (cerpen), Asri (kabanti), dan Muh. Suhendra (komedi tunggal).

Melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan, revitalisasi bahasa Wolio diarahkan tidak berhenti pada pembelajaran formal, tetapi tumbuh sebagai bahasa hidup dalam percakapan sehari-hari dan karya kreatif masyarakat Kepulauan Buton.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....