Kerajinan Dulang Fiber Warga Sampolawa Tembus Pasar Sultra

  • 30 Mar 2026 14:15 WIB
  •  Baubau

RRI.CO.ID, Buton Selatan – Bahan baku fiber yang umumnya digunakan untuk pembuatan lambung kapal hingga bumper mobil, kini disulap menjadi kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Inovasi ini lahir dari tangan kreatif pasangan suami istri (pasutri), Wa Ode Harija bersama suaminya di Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan (Busel), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Mereka berhasil memproduksi dulang berbahan fiber dengan tampilan unik, bobot ringan, serta praktis digunakan. Keunggulan tersebut membuat dulang buatan mereka menjadi incaran para ibu rumah tangga.

Usaha rumahan pasutri ini berlokasi di Jalan Korpri, tepat di belakang Kantor Pos Sampolawa. Selain memproduksi dulang, sang suami juga dikenal mahir membuat perahu berbahan fiber, yang menjadi cikal bakal lahirnya ide pembuatan dulang tersebut.

Wa Ode Harija mengungkapkan, harga dulang produksinya berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per buah, tergantung ukuran. Meski tergolong usaha rumahan, jangkauan pemasaran produknya sudah meluas hingga berbagai wilayah di Kepulauan Buton dan sejumlah kabupaten di Sulawesi Tenggara.

“Dalam sehari kami bisa membuat 5 sampai 6 dulang. Kalau pesanan meningkat, kami harus bekerja lebih keras untuk memenuhi permintaan,”ujarnya, Senin 30 Maret 2026.



Proses pembuatan dulang terbilang tidak memakan waktu lama, namun membutuhkan ketelitian tinggi. Setelah dicetak menggunakan cetakan khusus, dulang harus melalui proses pengamplasan agar halus, kemudian tahap finishing dengan pewarnaan menggunakan piloks, sebelum akhirnya dijemur hingga kering.

Untuk bahan baku, Wa Ode Harija mengaku cukup mudah mendapatkannya di pasaran. Selain fiber, ia menggunakan kain jenis 300 dan 400, serta cat semprot sebagai tahap akhir untuk mempercantik tampilan produk.

Menariknya, keterampilan membuat dulang ini diperoleh secara otodidak tanpa mengikuti pelatihan khusus. Berbekal pengalaman membuat perahu berbahan fiber, pasangan ini mampu mengembangkan inovasi hingga menghasilkan produk kerajinan yang diminati pasar.

Meski baru menekuni usaha ini selama satu tahun, hasilnya sudah mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Tingginya minat pembeli menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan produksi.

Dulang sendiri memiliki peran penting dalam tradisi masyarakat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara. Peralatan ini digunakan sebagai wadah sajian makanan dalam tradisi haroa, yakni ritual menyambut bulan Ramadan maupun hari besar Islam lainnya.

Secara umum, dulang berbentuk nampan bulat dengan permukaan datar dan bibir di bagian tepinya. Di Kepulauan Buton, kerajinan dulang telah lama berkembang dengan bahan dasar seperti kayu, bambu, rotan, hingga kuningan. Namun, inovasi menggunakan fiber seperti yang dilakukan Wa Ode Harija menjadi warna baru dalam industri kerajinan tradisional tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....