Pemikiran Al Ghazali Tentang Pendidikan
- 03 Jan 2026 07:37 WIB
- Batam
KBRN, Batam : Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat dibutuhkan pada kehidupan manusia saat ini. Pada era globalisasi, perubahan terjadi dengan cepat dan kompleks. Hal ini terjadi pada perubahan nilai maupun struktur yang berkaitan dengan aktivitas manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah kebutuhan penting yang harus dipenuhi, karena tanpa pendidikan manusia tidak akan berkembang mengikuti zaman.
Indonesia bukanlah negara yang menerapkan sistem pemerintahan Islam dan dasar hukumnya tidak sepenuhnya bersumber dari al-Qur’an dan Hadis, nilai-nilai ajaran Islam tetap kuat dalam kehidupan masyarakat karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Kondisi ini membuat pendidikan Islam turut mempengaruhi arah dan tujuan pendidikan nasional. Menurut Djumransjah dan Abdul Malik Karim Amrullah yang mengutip pendapat Imam Al-Ghazali, pendidikan bertujuan untuk membawa manusia mencapai kesempurnaan, yaitu kedekatan dengan Allah serta kebahagiaan dunia dan akhirat.
Al-Ghazali atau nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Ia lahir di sebuah kota kecil bernama Thus yang terletak di wilayah Khurasan, Iran, pada tahun 450 Hijriah atau tahun 1058 Masehi (Syarif, 2018). Nama Al- Ghazali diambil dari nama Ghuzalah, sebuah desa di Thus. Di kota inilah ia juga meninggal dunia dan dikuburkan pada tahun 505 Hijriah atau 1111 Masehi.
Menurut Al-Ghazali, pendidikan Islam merupakan usaha untuk membentuk manusia yang sempurna, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia menegaskan bahwa kesempurnaan hanya dapat diraih apabila seseorang bersedia menuntut ilmu dan kemudian mengamalkan berbagai keutamaan yang diperolehnya melalui proses belajar. Keutamaan tersebut pada akhirnya akan mendekatkan manusia kepada Allah sehingga membawanya kepada kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat (Ihsan, 2007).
Aspek-Aspek Pendidikan Islam
Pendidikan keimanan
Menurut Al-Ghazali, iman mencakup tiga unsur: pengakuan dengan lisan, pembenaran dalam hati, dan pengamalan melalui perbuatan. Lidah menjadi penerjemah hati, hati membenarkan melalui keyakinan baik dengan itikad bagi orang awam maupun kasyaf bagi kaum khusus, sedangkan amal menjadi bagian dari iman sehingga tingkat iman seseorang dapat bertambah atau berkurang sesuai perbuatannya (Akbar, 2023). Dalam Aqidah al-Muslim, Al- Ghazali menegaskan bahwa iman dan Islam dalam syariat memiliki makna yang beriringan.
Al-Ghazali juga menyarankan agar pendidikan keimanan ditanamkan sejak masa kanak-kanak melalui hafalan, pemahaman, kepercayaan, dan pembenaran secara bertahap hingga menjadi keyakinan yang kokoh dan mempengaruhi seluruh aspek perilaku anak—cara berpikir, bersikap, bertindak, dan memandang hidup.
Pendidikan Akhlak
Akhlak menurut Al Ghazali yaitu sifat manusia yang bisa dilihat dalam dua cara, yaitu: Pertama, sifat-sifat alami, yang merupakan kekuatan dari tubuh kita yang bersatu dan terus ada sepanjang hidup. Beberapa sifat itu lebih kuat dan lebih lama dibanding yang lainnya. Contohnya adalah dorongan nafsu yang ada pada manusia. Kedua, akhlak yang terbentuk dari kebiasaan yang sering dilakukan dan dijunjung tinggi, sehingga menjadi bagian dari adat yang sudah menjadi ciri dirinya (Asy’arie & Ma’ruf, 2023). Di dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Alghazali menggunakan metode tazkiyatun nafs (pensucian jiwa/ruh) dalam konsep pendidikan akhlaknya. Langkah ini merupakan bagian dari usaha perbaikan akhlak melalui sistem yang dinamakan takhalli (mengosongkan hati dari sifat tercela), tahalli ( mempermudah hati dengan sifat-sifat terpuji) dan tajalli (terangnya hati dengan nur ilahi ) yang digunakan oleh para sufi.
Data ststistik kasus bullying (perundungan) di Indonesia tahun 2024 menunjukkan lonjakan signifikan, terutama di lingkungan pendidikan, dengan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan 573 kasus kekerasan di Sekolah ( termasuk’bullying’ dan kekerasan seksual), dimana sekitar 31% kasus adalah perundungan langsung. Komisi Perlindungan Anak (KPAI) mencatat kasus anak korban kekerasan fisik dan psikis sebanyak 240 kasus pada 2024.
Relevansi pemikiran Al-Ghazali pada pendidikan modern terutama pendidikan akhlak adalah pendidikan modern menekankan keseimbangan antara kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Gerakan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat merupakan serangkaian kegiatan positif dengan menanamkan kebiasaan (bangun pagi, ibadah, olahraga, makan sehat, belajar, bermasyarakat, tidur cepat) untuk menciptakan individu yang disiplin, bertanggung jawab,berintegritas serta mampu bersaing secara global, selaras dengan program penguatan SDM Kemedikdasmen RI.
Pendidikan Jasmaniah
Al-Ghazali menempatkan aspek fisik manusia sebagai tingkatan ketiga dalam hierarki kebahagiaan. Ia menjelaskan bahwa keutamaan jasmani terdiri atas empat hal: kesehatan tubuh, kekuatan fisik, keindahan bentuk, dan panjang umur. Jasmani (jism) dipahami sebagai bagian substansial manusia yang terbentuk dari struktur organisme fisik. Organisme tubuh manusia dianggap lebih sempurna dibandingkan makhluk lain. Seluruh makhluk yang memiliki bentuk fisik tersusun dari empat unsur material : tanah, api, udara, dan air.
Aspek jasmani menjadi fondasi penting bagi perkembangan dan kebahagiaan manusia. Tubuh yang sehat menunjang kesehatan akal dan jiwa. Oleh karena itu, kondisi fisik dan kondisi rohani saling memengaruhi; apa yang terjadi dalam jiwa berdampak pada tubuh, dan apa yang dialami tubuh juga berpengaruh pada keadaan batin.
Makanan dan minuman berfungsi memperkuat serta menyegarkan tubuh, sehingga seseorang memiliki energi untuk melakukan perbuatan baik dan melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Kesehatan fisik pada dasarnya terjaga apabila konsumsi makanan tidak menimbulkan penyakit. Al-Ghazali menekankan pentingnya membiasakan diri mengonsumsi makanan dan minuman yang halal, baik dari segi bahan maupun cara memperolehnya, serta menjauhi segala sesuatu yang haram maupun meragukan (syubhat).
Evaluasi Pendidikan Islam
Menurut Imam Al-Ghazali, penilaian pendidikan adalah usaha untuk memikirkan, membandingkan, meramalkan, menilai, mengukur, dan menghitung semua kegiatan yang sudah dilakukan dalam pendidikan, dengan tujuan untuk meningkatkan usaha dan kreatifitas sehingga bisa lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan yang lebih baik di masa depan.
Evaluasi pendidikan Al-Ghazali pada dasarnya ditujukan untuk memahami keadaan siswa terkait seberapa jauh mereka telah menyerap ilmu yang diperoleh selama belajar dan juga perkembangan karakter mereka. Evaluasi ini didasarkan pada teori utama dalam pendidikannya, yaitu Al-Fadhilah. Menurut Imam Al-Ghazali, penilaian pendidikan adalah usaha untuk memikirkan, membandingkan, meramalkan, menilai, mengukur, dan menghitung semua kegiatan yang sudah dilakukan dalam pendidikan, dengan tujuan untuk meningkatkan usaha dan kreatifitas sehingga bisa lebih efektif dan efisiensi dalam mencapai tujuan yang lebih baik di masa depan.
Subjek dari evaluasi pendidikan yaitu orang yang terkait dalam proses kependidikan meliputi seperti pimpinan, wali murid dan seluruh tenaga administrasi. Sedangkan yang menjadi evaluasi pendidikan adalah semua bentuk aktifitas yang terkait dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing dalam proses pendidikan. Teknik penilaian pendidikan dipakai untuk menilai proses belajar serta untuk mempebaiki konsisi, proses, dan aktivitas belajar mengajar. Ada dua jenis teknik penilaian, yaitu :
Pertama, Teknik tes: ini adalah cara penilaian yang memakai tes yang sudah ditentukan sebelumnya. Tujuan metode ini adalah untuk mengevaluasi dan memberi penilaian atas pencapaian belajar yang diraih oleh siswa. Ini termasuk: kemampuan pikiran, penguasaan materi pelajaran, keterampilan, koordinasi, kemampuan fisik, dan bakat.
Kedua, Teknik non tes: ini adalah cara penilaian yang tidak menggunakan soal-soal tes. Ini biasanya berupa laporan dari diri mereka sendiri (self report). Tujuan dari cara ini adalah untuk memahami sikap dan karakter siswa yang berkaitan dengan cara belajar atau pendidikan. Hal yang dinilai dalam metode non tes ini meliputi: tindakan, ucapan, aktivitas, pengalaman, tingkah laku, dan riwayat hidup.
KESIMPULAN
Pemikiran Al-Ghazali menempatkan pendidikan Islam sebagai proses yang menyeluruh dan bertujuan membentuk manusia yang sempurna melalui pengembangan aspek keimanan, akhlak, sosial, dan jasmani. Pendidikan menurutnya tidak hanya menekankan penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan kedekatan kepada Allah sebagai tujuan tertinggi. Ia menegaskan bahwa ilmu harus diamalkan, akhlak dibentuk melalui pembiasaan, iman ditanamkan sejak dini dengan pendekatan yang lembut, serta jasmani diperhatikan sebagai penopang kesehatan akal dan jiwa. Keempat aspek ini menjadi landasan penting dalam menciptakan pribadi yang utuh dan selaras dengan tujuan penciptaan manusia.
Oleh : Agung Harjanto
Mahasiswa Pasca Sarjana STAI Ibnu Sina Batam