Pemikiran Al-Kindi dalam Kurikulum Modern Integrasi Intelektual Karakter
- 30 Des 2025 16:00 WIB
- Batam
KBRN, Batam: Dunia pendidikan Indonesia saat ini tengah berada dalam fase transformasi besar melalui Kurikulum Merdeka. Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah sederhana dimulai dari rendahnya tingkat literasi hingga krisis karakter di kalangan remaja. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi ini, kita merujuk kembali pemikiran Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq al-Kindi (801–873 M) seorang cendikiawan muslim yang berjaya dimasa Khilafah Abbasiyah dimana karya-karyanya sangat terkenal hingga ssampai saat ini.
Al-Kindi, yang dijuluki "Filosof Arab", adalah tokoh pertama yang secara sistematis memadukan logika dengan nilai-nilai ketuhanan. Bagi al-Kindi, pendidikan bukan hanya tentang mentransfer informasi (transfer of knowledge), melainkan upaya penyempurnaan jiwa (transfer of value). Artikel ini akan membedah bagaimana pemikiran al-Kindi dapat menjadi kompas bagi arah pendidikan Indonesia, terutama dalam menjawab tantangan data PISA (Programme for International Student Assessment) dan penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Hakikat Ilmu Menurut Al-Kindi
Secara literer, Al-Kindi memandang ilmu pengetahuan sebagai satu kesatuan yang utuh. Ia menekankan pentingnya matematika dan logika sebagai dasar pelengkap mempelajari ilmu-ilmu lainnya, seseorang tidak akan mampu mencapai kebenaran. Jika kita tarik ke konteks sekarang yang berkaitan dengan pendidikan di indonesia, ini adalah masalah literasi. Dengan maraknya dunia digital saat ini tentunya akan berdampak terhadap peserta didik yang kian saat ini kurangnya minat membaca.
Di tahun 2022 berdasarkan hasil PISA (Programme for International Student Assessment ) menunjukkan skor literasi membaca siswa Indonesia hanya 359 dengan skor rata-rata dunia yang berkisar 476 . Ini menandakan kemampuan berpikir kritis dan menganalisis bacaan masih rendah. Kontekstual Kurikulum yang diterapkan di Inonesia saat ini yaitu Kurikulum Merdeka berupaya menjawab ini dengan mengganti Ujian Nasional menjadi Asesmen Nasional (AN) yang fokus pada literasi dan numerasi. Sebagai implementasi pemikiran Al-Kindi tentang "logika sebagai alat" kini termanifestasi dalam soal-soal berbasis penalaran (HOTS), selain hafalan-hafalan lainnya.
Universalitas Kebenaran dan Profil Pelajar Pancasila
Salah satu kutipan al-Kindi yang paling terkenal adalah: "Kita tidak boleh malu menghargai kebenaran dan mengambilnya dari mana pun ia berasal, meskipun dari bangsa asing”. Profil Pelajar Pancasila adalah visi mengenai karakter dan kompetensi yang diharapkan dapat tumbuh pada setiap pelajar di Indonesia. Program ini merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka yang bertujuan membentuk generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga memiliki kepribadian yang kuat.
Berikut adalah 6 dimensi utama dalam Profil Pelajar Pancasila:
Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia.
Pelajar Indonesia yang menghayati keberadaan Tuhan dan selalu berupaya mentaati perintah-Nya, hal ini tercermin dalam:
Akhlak beragama yaitu menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan
Akhlak pribadi yaitu memiliki integritas dan merawat diri
Akhlak kepada sesama yaitu rasa empati dankasih sayang kepada manusia
Akhlak kepada alam yaitu senantiasa menjaga kelastarian alam
Akhlak bernegara yaitu memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Berkebinekaan Global
Pelajar tetap mempertahankan budaya luhur dan identitasnya, namun tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain.
Mengenal dan menghargai berbagai budaya.
Memiliki kemampuan komunikasi interkultural.
Refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.
Bergotong Royong
Kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan berjalan lancar dan ringan.
Kolaborasi yaitu saling bekerja sama dengan orang lain.
Kepedulian yaitu memperhatikan dan bertindak terhadap kondisi lingkungan sosial.
Berbagi dan memberi dan menerima hal yang berharga bagi masyarakat
Mandiri
Pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya sendiri.
Memiliki kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi.
Mampu melakukan regulasi diri (mengatur emosi, waktu, dan target belajar).
Bernalar Kritis
Pelajar mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif.
Memperoleh dan memproses informasi serta gagasan.
Menganalisis dan mengevaluasi penalaran.
Merefleksi pemikiran dan proses berpikir sendiri dalam mengambil keputusan.
Kreatif
Pelajar yang mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak.
Menghasilkan gagasan yang orisinal.
Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.
Memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan.
Secara sederhana, dimensi ini kaitannya dengan peserta didik di Indonesia harus mampu mempertahankan budaya luhur, lokalitas, dan identitasnya, namun di saat yang sama tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain di kancah global. Dunia saat ini semakin terhubung tanpa batas (globalisasi). Pelajar yang memiliki jiwa berkebinekaan global akan memiliki keuntungan berupa:
Kecerdasan Budaya: Mampu beradaptasi di lingkungan internasional tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Keterbukaan Pikiran: Menghargai perbedaan pendapat dan latar belakang sebagai kekayaan, bukan sumber konflik.
Keadilan Sosial: Memiliki empati untuk membela hak-hak orang lain yang tertindas atau terpinggirkan.
Contoh penerapan di sekolah diantaranya :
Berteman dengan siapa saja, tidak membeda-bedakan teman berdasarkan suku, ras, atau agama.
Mempelajari budaya daerah lain dengan aktif dalam kegiatan seni atau literasi yang memperkenalkan keberagaman Nusantara dan dunia.
Menghindari Stereotip dengan tidak memberi label negatif pada kelompok tertentu hanya berdasarkan prasangka.
Diskusi terbuk ikut mendengarkan pendapat teman yang berbeda saat kerja kelompok tanpa emosi.
Pendidikan Karakter Menjawab Krisis Moral di Sekolah
Al-Kindi menegaskan bahwa tujuan filsafat dan pendidikan adalah agar manusia bertindak benar secara moral. Kecerdasan intelektual harus berbanding lurus dengan kebaikan jiwa.
Beberapa tantangan yang dihadapi dewasa ini terhadap pendidikan di indonesia yang kerap kali terjadi adalah perundungan (bullying).
Data dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dan KPAI menunjukkan bahwa tren perundungan di tahun 2024 tidak hanya meningkat secara kuantitas, tapi juga kualitas kekerasannya. Beberapa contoh kasus perundungan yang menjadi sorotan:
Kasus geng sekolah di Sekolah Internasional (Serpong): Melibatkan kekerasan fisik dan psikis sebagai syarat masuk "geng". Ini menunjukkan bahwa status sosial dan ekonomi tinggi tidak menjamin pemahaman moral yang baik.
Cyberbullying yang Masif: Penggunaan media sosial untuk mempermalukan teman sekelas (shaming) yang berujung pada depresi berat pada korban.
Kekerasan antar Siswa di Jenjang SD-SMP: Banyaknya video viral perkelahian pelajar yang justru direkam dan ditonton oleh teman-temannya tanpa ada upaya melerai.
Maka dengan demikian kontekstual kurikulum al-Kindi menawarkan konsep tahdhib al-akhlaq (perbaikan akhlak). Dalam kurikulum sekarang, hal ini diimplementasikan melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), di mana siswa belajar empati, gotong royong, dan integritas melalui kegiatan nyata di luar kelas, bukan sekadar teori di dalam buku teks.
Integrasi pemikiran Al-Kindi ke dalam kurikulum saat ini memberikan fondasi bahwa matematika atau logika bukan sekadar angka, tapi alat untuk memahami kebenaran (Literasi/Numerasi). Keterbukaan pikiran adalah syarat mutlak untuk maju (Kebinekaan Global). Etika adalah muara dari seluruh proses belajar (Karakter/Adab).
Dengan menyelaraskan pemikiran Al-Kindi dan struktur Kurikulum Merdeka, sekolah di Indonesia tidak hanya melahirkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga bijaksana sebagai manusia yang arif dan berbudi luhur.
Mujitahid
MAHASISWA STAI IBNU SINA BATAM