Laba Petronas Turun Tiga Tahun Beruntun, Dividen Dipangkas

  • 27 Feb 2026 23:18 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Konglomerat energi milik negara Malaysia, Petronas, mencatat penurunan laba bersih untuk tahun ketiga berturut-turut pada 2025, seiring tekanan harga minyak global dan dinamika geopolitik yang memengaruhi kinerja perusahaan, mengutip laman Nikkei Asia.

Dalam laporan keuangan yang dirilis Jumat, laba bersih Petronas tercatat sebesar 40,7 miliar ringgit atau sekitar 10,5 miliar dolar AS, turun 17% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga mengalami penurunan dengan persentase yang sama menjadi 266,1 miliar ringgit.

Seiring melemahnya kinerja tersebut, pembayaran dividen kepada pemerintah Malaysia turut mengalami penurunan signifikan, dari 32 miliar ringgit pada tahun sebelumnya menjadi 20 miliar ringgit pada 2025.

Dalam pernyataannya, Petronas menyoroti berbagai faktor eksternal yang memengaruhi bisnis energi global. “Volatilitas pasar yang meningkat, ketegangan geopolitik yang terus-menerus, dan lanskap regulasi yang berkembang membentuk lingkungan operasi tahun 2025, memberikan tekanan ke bawah pada harga Brent hingga di bawah $70 per barel, sementara tantangan rantai pasokan semakin menekan margin,” tulis perusahaan.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa harga minyak rata-rata berada di level 69 dolar AS per barel pada 2025, turun dari 81 dolar AS pada tahun sebelumnya, dipicu oleh kekhawatiran kelebihan pasokan serta tantangan ekonomi makro global.

Di sisi lain, harga spot gas alam cair justru mencatat kenaikan sebesar 7%, yang mencerminkan meningkatnya permintaan dari kawasan Asia Timur Laut dan Eropa.

Dari sisi operasional, segmen hulu Petronas mencatat penurunan produksi rata-rata harian menjadi 2,423 juta barel setara minyak per hari pada 2025, dibandingkan 2,451 juta barel per hari pada 2024. Penurunan ini disebabkan oleh strategi produksi selektif serta peningkatan ketersediaan gas untuk memenuhi permintaan di pasar tertentu.

Sementara itu, segmen hilir mencatat kinerja positif dengan volume penjualan produk olahan mencapai rekor tertinggi sebesar 17,95 miliar liter, didorong oleh peningkatan pasokan bahan bakar jet serta kinerja gas yang lebih kuat.

Presiden dan CEO Grup Petronas, Tengku Muhammad Taufik, menyebut perubahan global turut memengaruhi arah kebijakan energi. “Pergeseran signifikan dalam lanskap politik, ekonomi, dan diplomatik telah menyebabkan pemerintah di seluruh dunia bereaksi untuk melindungi kepentingan nasional masing-masing,” ujarnya kepada wartawan.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut “berkontribusi pada perekonomian global yang semakin rapuh dan membuat lingkungan operasional kita semakin tidak pasti,” sekaligus memperkirakan harga minyak akan berada di kisaran 60 hingga 70 dolar AS per barel dalam lima tahun ke depan.

Rekomendasi Berita