Bahasa Isyarat Jadi Kunci Bagi Tunarungu dalam Kesetaraan

  • 22 Sep 2025 09:54 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Pendidikan adalah hak setiap anak tanpa terkecuali, termasuk bagi penyandang tunarungu. Namun, kesetaraan dalam pendidikan hanya bisa terwujud jika mereka memperoleh akses komunikasi yang memadai, salah satunya melalui bahasa isyarat. Hal ini ditegaskan Guru sekaligus juru bahasa isyarat di Sekolah Khusus Negeri (SKhN) 01 Kota Serang, Maria Christiaan Isnawari Dwi Widiastuti saat dialog bersama RRI, Senin (22/9/2025).

Sebagai seorang ibu dari anak tunarungu, Widi sapaan akrabnya mengaku awalnya harus berdamai dengan kondisi anaknya yang berbeda. Dari situlah ia terdorong untuk memperdalam pendidikan luar biasa hingga akhirnya aktif mengajar sejak 2003. “Anak tunarungu juga berhak meraih cita-citanya. Hambatan mereka hanya pada pendengaran dan wicara, bukan pada potensi atau kecerdasannya,” ujarnya.

Baca juga: Bahasa Isyarat Perlu Dikenalkan Sejak Dini ke Masyarakat

Ia menjelaskan, bahasa isyarat menjadi jembatan penting bagi anak tunarungu dalam memahami informasi. Tanpa itu, mereka akan kesulitan mengikuti pelajaran maupun berinteraksi dengan lingkungan sekitar. “Bahasa isyarat memperjelas apa yang mereka pahami. Kalau informasinya tidak lengkap, anak bisa terputus di tengah jalan,” ucapnya.

Namun, perjalanan menuju pendidikan inklusif masih penuh tantangan. Keterbatasan jumlah guru bahasa isyarat menjadi salah satu kendala utama. Bu Wid mendorong para mahasiswa, pendidik, maupun masyarakat umum untuk ikut belajar bahasa isyarat. “Mari kita bersama-sama menjadi penyambung lidah bagi mereka dengan jari-jari kita,” kata Widiastuti.

Tidak hanya di sekolah, peran orang tua juga sangat menentukan. Anak hanya bertemu guru beberapa jam sehari, sedangkan sebagian besar waktunya dihabiskan bersama keluarga. Karena itu, orang tua perlu aktif mempelajari bahasa isyarat agar komunikasi di rumah tidak berbeda dengan yang diajarkan di sekolah.

Baca juga: Cuaca Banten Hari Ini Didominasi Hujan Ringan

Di tengah keterbatasan tersebut, Bu Widiastuti tetap optimistis. Ia melihat kesadaran masyarakat mulai tumbuh, terutama di kalangan generasi muda yang kini banyak mempelajari bahasa isyarat melalui media sosial. Ia pun berharap pemerintah memperluas akses layanan publik yang ramah bagi tunarungu, sehingga tidak terjadi lagi miskomunikasi akibat keterbatasan komunikasi.

“Seperti bahasa lain, bahasa isyarat seharusnya bisa diterima di segala lini. Dengan begitu, anak-anak tunarungu bisa tumbuh optimal dan informasi yang mereka terima tidak terputus,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....